Hari: 8 April 2026

  • Makna Pengabdian dalam Kehidupan

    Makna Pengabdian dalam Kehidupan

    Dr. KH. Soleh Rosyad, Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima

    Tadabbur Surat An-Najm 24-26

    أَمْ لِلْإِنسَانِ مَا تَمَنَّىٰ ﴿٢٤﴾ فَلِلَّهِ الْآخِرَةُ وَالْأُولَىٰ ﴿٢٥﴾ وَكَم مِّن مَّلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِنۢ بَعْدِ أَن يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَن يَشَاءُ وَيَرْضَىٰ ﴿٢٦

    Artinya: “Apakah manusia akan mendapatkan segala yang dicita-citakannya? (Tidak.) Maka milik Allah-lah akhirat dan dunia. Dan betapa banyak malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna, kecuali setelah Allah mengizinkan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridhai.”

    Dari ayat ini kita memahami bahwa tidak semua keinginan manusia akan terwujud, karena seluruh urusan berada dalam genggaman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang menentukan, kepada siapa diberikan dan kepada siapa ditahan. Jika Allah telah memberi, tidak ada yang mampu menghalangi, dan jika Allah menahan, tidak ada yang mampu memberi.

    Sebagai seorang muslim, kita memiliki tujuan hidup di dunia dan di akhirat. Namun yang harus diutamakan adalah akhirat, karena ia bersifat kekal dan abadi, sedangkan dunia hanyalah sementara. Meski demikian, dunia tidak boleh diabaikan, karena ia adalah ladang untuk menanam amal menuju akhirat.

    Apakah semua usaha akan berhasil? Tidak selalu, karena keberhasilan sejati adalah ketika Allah meridhai usaha kita. Oleh sebab itu, keberhasilan lebih dekat kepada orang-orang yang beriman, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta bersungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan.

    Dari sinilah pentingnya pengabdian. Pengabdian harus diutamakan, karena orang yang tidak mampu menyerap makna dan nilai-nilai pengabdian, maka hasilnya akan nihil. Jangan sampai lelah dalam mengabdi, tetapi tidak mendapatkan ruh dari pengabdian itu sendiri. Padahal, pengabdian yang dilakukan dengan benar akan menghantarkan seseorang menuju kesuksesan.

    Pengabdian harus dimulai dengan niat yang lurus, yaitu niat ibadah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, tanpa penyesalan, tanpa keraguan, dan tanpa keinginan untuk mundur. Kemudian dibarengi dengan tawakal kepada Allah, niat untuk memberi manfaat kepada orang lain, serta komitmen dan istiqamah dalam menjalankan amanah.

    Jika pengabdian dilandasi dengan niat seperti itu, maka akan melahirkan kemanfaatan bagi diri sendiri dan orang lain. Karena sejatinya, kemanfaatan itulah yang disebut dengan amal shalih, yaitu segala bentuk kebaikan yang disebarkan kepada manusia dan tidak bertentangan dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika seseorang telah memiliki dua indikator, yaitu taat dan bermanfaat, maka itulah hakikat amal shalih yang sesungguhnya.

    Ketaatan di pondok, baik dalam ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah, merupakan bentuk pengabdian yang nyata, yang menjaga aqidah, membentuk kedisiplinan, serta menyebarkan ilmu dan dakwah kepada para santri. Dari sinilah lahir generasi yang tidak merugi dalam hidupnya, yaitu mereka yang beriman dan beramal shalih.

    Oleh karena itu, kita harus terus memotivasi diri untuk melangkah ke depan, dengan kesadaran bahwa kita peduli terhadap umat, peduli terhadap bangsa, peduli terhadap kebenaran, dan peduli terhadap generasi masa depan. Apa yang kita nikmati hari ini adalah hasil dari perjuangan panjang para pendahulu, dari keringat, air mata, bahkan darah mereka.

    Maka sudah seharusnya kita berada di garda terdepan untuk mewariskan bangsa ini kepada generasi berikutnya dalam keadaan yang lebih baik, penuh kemerdekaan, kedaulatan, kesuksesan, dan kebahagiaan. Caranya adalah dengan menjadi manusia yang bermanfaat, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Khairunnas anfa’uhum linnas,” sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

    Maka kita harus mengubah cara pandang kita, dari sekadar mengejar kepentingan pribadi menjadi pribadi yang memberi manfaat bagi orang lain, masyarakat, bangsa, bahkan dunia.

    Namun kemanfaatan itu tidak akan terwujud tanpa ketaatan. Ketaatan kepada Allah, kepada Rasulullah SAW, kepada guru, kepada orang tua, dan kepada sistem adalah bagian dari amal shalih yang akan melahirkan keberkahan. Amal shalih itu sendiri merupakan bagian dari dakwah, yaitu meneruskan estafet perjuangan Rasulullah SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam. Dakwah tidak hanya dengan lisan, tetapi juga dengan perbuatan, keteladanan, dan upaya mencegah kemungkaran, baik secara langsung maupun dengan pendekatan antisipatif agar manusia tidak terjerumus ke dalam keburukan.

    Ketaatan dan kemanfaatan akan membentuk kedewasaan berpikir. Orang yang terbiasa mengabdi akan memiliki pandangan hidup yang lebih matang. Karena itu, kebenaran yang tidak dikelola dengan baik bisa dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir dengan rapi. Maka tidak salah jika para kiai memiliki cita-cita besar untuk melahirkan generasi santri yang mampu hadir di berbagai bidang kehidupan, menjadi pemimpin, pengusaha, birokrat, aparat negara, dan berbagai profesi lainnya, namun tetap menjaga nilai keikhlasan dan keimanan.

    Ke mana pun kita melangkah setelah masa pengabdian, baik ke dalam negeri maupun luar negeri, ke kota besar atau kembali ke kampung halaman, jangan pernah melepaskan keimanan. Tetaplah kokoh dan kuat. Jalani proses dengan sabar, karena kesuksesan tidak datang secara instan. Justru dalam pengabdian, kita sedang mengumpulkan kekuatan yang luar biasa, kekuatan fisik, kekuatan akal, kekuatan mental, kekuatan akhlak, dan kekuatan spiritual. Pengabdian bukanlah waktu yang hilang, melainkan proses penguatan diri yang akan menjadi bekal kesuksesan di masa depan.

    Sebagai bagian dari pesantren, kita harus menyadari bahwa pesantren adalah khazanah besar dan benteng terakhir dalam menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Di tengah berbagai tantangan zaman, pesantren dan para santri menjadi garda terdepan dalam menjaga aqidah, persatuan, dan keutuhan bangsa.

    Maka selama kita bersatu, kita akan kuat. Dengan nilai keislaman yang akomodatif dan peran aktif para santri, masa depan umat dan bangsa akan tetap terjaga. Oleh karena itu, jangan heran jika tantangan terus datang, karena di balik itu semua ada potensi besar kebangkitan. Dan kebangkitan itu, insyaAllah, akan lahir dari mereka yang ikhlas dalam beriman, istiqamah dalam beramal, dan sungguh-sungguh dalam mengabdi.(Tim Redaksi )