Hari: 13 April 2026

  • Langkah yang Terarah, Hidup yang Berkah

    Langkah yang Terarah, Hidup yang Berkah

    Dr.KH Soleh Rosyad, Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima

    Setiap manusia yang keluar dari rumah hendaknya memiliki tujuan. Jangan pernah melangkah tanpa arah, karena langkah tanpa tujuan akan mudah diombang-ambing oleh keadaan, terbawa ke mana arah angin berhembus.

    Dalam kondisi seperti itu, setan akan datang menawarkan “jasa”, mengajak dan mengarahkan kepada hal-hal yang tidak baik. Na‘udzubillahi min dzalik.

    Oleh karena itu, setiap langkah harus dilandasi dengan tujuan yang jelas dan niat yang benar. Terlebih bagi mereka yang memilih jalan menuntut ilmu.

    Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qasas ayat 77:

    وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

    Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

    Ayat inilah yang dijadikan landasan filosofis oleh Kyai Rifa’i dalam mendirikan Pondok Pesantren Latansa. Maknanya sangat dalam: jangan pernah lupa kepada tempat kembali, yaitu akhirat, dan jangan pernah lupa kepada Tuhan kita, Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Di dalamnya terkandung falsafah keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat, antara ilmu agama dan ilmu umum. Pesantren mengajarkan kita hidup seimbang, menjunjung nilai kemanusiaan, tanpa meninggalkan nilai spiritualitas dan religiusitas.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
    Artinya: “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan memahamkannya tentang agama.” (Shahih al-Bukhari (no. 71) dan Shahih Muslim (no. 1037).

    Kalian bersama orang tua telah memilih pesantren sebagai tempat menuntut ilmu. Maka pertanyaan yang selalu digaungkan adalah: Apa yang kau cari di pesantren? Jawabannya sederhana namun mendalam: “Thalabul ‘ilmi lil ‘ibadah, atau ibadah thalabul ‘ilmi.”

    Mencari ilmu untuk ibadah, atau ibadah menuntut ilmu. Kita belajar bukan sekadar untuk ijazah atau pekerjaan, tetapi sebagai bentuk penghambaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya bahwa manusia dan jin diciptakan tidak lain kecuali untuk beribadah kepada-Nya.

    Dalam Islam, ibadah terbagi menjadi dua: ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah adalah ibadah yang tata caranya langsung ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti shalat. Tidak bisa diubah atau dianalogikan. Mengapa harus takbir, ruku’, sujud, dan seterusnya? Karena semua itu adalah ketetapan Allah yang diajarkan melalui Nabi Muhammad ﷺ.

    Shalat adalah mi’rajnya orang beriman. Barang siapa ingin dekat dengan Allah, ingin mengadu, berdoa, dan memohon kepada-Nya, maka dirikanlah shalat.

    Adapun ibadah ghairu mahdhah adalah seluruh aktivitas yang kita lakukan selama tidak melanggar syariat dan diniatkan karena Allah. Termasuk di dalamnya adalah belajar, mengajar, bekerja, dan berbuat kebaikan kepada sesama.

    Namun inti dari semua ibadah, baik mahdhah maupun ghairu mahdhah, adalah ruh keikhlasan. Tanpa ikhlas, ibadah hanya menjadi gerakan tanpa makna. Kita mungkin telah melaksanakan shalat dengan rukun dan syarat yang sempurna, tetapi belum tentu diterima di sisi Allah jika tidak dilandasi keikhlasan.

    Oleh karena itu, persiapkan diri sebelum shalat, sebagaimana kita mempersiapkan diri ketika hendak menghadap manusia yang mulia. Maka lebih pantas lagi kita mempersiapkan diri ketika menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Dengan demikian, luruskan niat, kuatkan tujuan, dan jalani setiap proses dengan kesungguhan. Karena di pesantren inilah kalian sedang membangun fondasi kehidupan, bukan hanya untuk dunia, tetapi juga untuk akhirat. (Tim Redaksi)