Dr.KH.Soleh Rosyad,(Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima)
Tadabbur QS. Al-Kahfi: 109–110
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:
قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Artinya:“Katakanlah (Muhammad), ‘Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya habislah lautan itu sebelum selesai (dituliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu pula.’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah dia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”( QS. Al-Kahfi: 109–110)
Ayat ini menggambarkan betapa luas dan tidak terbatasnya kalimat-kalimat Allah. Seandainya seluruh lautan dijadikan tinta untuk menuliskan ilmu, hikmah, dan ketetapan Allah, niscaya lautan itu akan habis sebelum kalimat-kalimat-Nya selesai dituliskan, meskipun ditambah lagi berkali-kali lipat. Ini menunjukkan bahwa ilmu Allah tidak berbatas, sementara makhluk memiliki keterbatasan.
Para ulama tafsir, seperti dalam Tafsir Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa perintah “qul” (katakanlah) yang ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ juga berlaku bagi seluruh umatnya. Artinya, pesan ini bukan hanya untuk beliau, tetapi untuk seluruh manusia agar menyadari kebesaran Allah dan mengamalkannya dalam kehidupan.
Dalam ayat lain, Allah ﷻ juga menegaskan dalam QS. Luqman ayat 27:
وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِن شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنۢ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan seandainya semua pohon yang ada di bumi menjadi pena, dan lautan (menjadi tinta), lalu ditambah kepadanya tujuh lautan lagi (sebagai tinta), niscaya tidak akan habis kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Ayat ini menegaskan bahwa seandainya seluruh pohon di bumi dijadikan pena dan seluruh lautan dijadikan tinta, bahkan ditambah lagi tujuh lautan setelahnya, tetap tidak akan mampu menuliskan seluruh kalimat-kalimat Allah. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu, hikmah, dan ketetapan Allah tidak memiliki batas, sementara segala sesuatu selain-Nya memiliki keterbatasan dan akan berakhir. Inilah bukti kesempurnaan sifat Allah, yang meliputi qudrah dan iradah-Nya yang tidak mampu dijangkau secara sempurna oleh akal manusia.
Pemahaman ini seharusnya menumbuhkan kesadaran dalam diri kita untuk senantiasa berdzikir dan mendekatkan diri kepada Allah. Kalimat Laa ilaaha illallah bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi memiliki bobot yang sangat besar di sisi Allah. Dalam hadits qudsi dijelaskan bahwa kalimat tauhid mampu mengalahkan dosa-dosa yang begitu banyak. Maka sungguh beruntung orang yang lisannya senantiasa berdzikir, hatinya hidup dengan keimanan, dan amalnya berjalan dalam ketaatan kepada Allah.
Kebenaran Allah adalah sesuatu yang kokoh, tegak, dan tidak akan pernah runtuh, sedangkan segala sesuatu selain-Nya pasti akan fana dan sirna. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita menjadikan nilai-nilai Ilahi sebagai landasan dalam setiap aspek kehidupan, agar setiap langkah yang kita tempuh memiliki arah yang jelas, terarah, dan senantiasa menuju ridha-Nya.
Dalam menjalani kehidupan ini, manusia dituntut untuk berikhtiar dengan sungguh-sungguh. Tidak ada jaminan bagi seseorang untuk meraih surga tanpa usaha dan perjuangan. Amal shalih, dzikir, doa, dan mujahadah adalah jalan yang harus ditempuh dengan penuh kesungguhan. Jika sekadar urusan rezeki, bahkan makhluk melata pun telah dijamin oleh Allah. Namun untuk meraih kebahagiaan akhirat dan surga-Nya, dibutuhkan kesabaran, ketekunan, serta kesungguhan dalam beribadah dan beramal.
Setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan membuahkan hasil. Tanpa usaha, tidak akan ada buah yang dapat dipetik. Namun di balik semua itu, kita tetap harus menyadari keterbatasan diri sebagai hamba. Kita tidak akan mampu memuji Allah dengan pujian yang benar-benar sempurna sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, ucapan Alhamdulillah menjadi doa terbaik, sebagai ungkapan syukur dan pengakuan atas segala nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita.
Dalam kehidupan sosial, kita diajarkan untuk menjadi pribadi yang ringan dalam kebaikan. Sedekah bukanlah beban, melainkan energi yang menghidupkan amal. Dengan sedekah, shalat, dan zakat, amal-amal kebaikan menjadi lebih bermakna. Sudah seharusnya kita mudah memberi, mudah tersenyum, dan mudah membahagiakan orang lain.
Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa beliau hanyalah manusia yang tidak mengetahui perkara gaib kecuali apa yang diwahyukan oleh Allah. Semua yang beliau sampaikan, termasuk kisah-kisah terdahulu seperti Ashabul Kahfi, adalah wahyu dari Allah, bukan karangan manusia. Ini menjadi bukti bahwa risalah yang beliau bawa adalah kebenaran yang hak.
Amal shalih harus dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat. Tidak boleh seseorang beribadah berdasarkan keinginannya sendiri tanpa mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ. Ibadah harus benar secara lahir dan ikhlas secara batin. Jika salah satunya tidak terpenuhi, maka amal tersebut tidak akan sempurna. Keikhlasan adalah inti dari setiap amal. Secara fiqih, ibadah bisa saja sah jika memenuhi syarat dan rukun, tetapi agar diterima di sisi Allah, harus dilandasi dengan keikhlasan dan ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ. Inilah yang menjadikan amal itu bernilai tinggi.
Semakin bertambah ilmu seseorang, semakin terbuka pula pintu hidayah baginya, dan semakin bertambah keimanannya. Oleh karena itu, menuntut ilmu dan mengamalkannya adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.Dalam kehidupan pribadi, kita juga harus menjaga diri dari hal-hal yang merusak masa depan. Hubungan yang tidak sesuai syariat, meskipun tampak indah, sejatinya dapat merusak kehidupan. Jika mencintai seseorang, maka tempuhlah jalan yang halal. Fokuslah pada perbaikan diri. Seluruh perjalanan hidup ini harus diarahkan kepada Allah. Setiap amal, niat, dan langkah hendaknya dilandasi dengan keikhlasan dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ. Dengan demikian, ibadah kita tidak hanya sah, tetapi juga diterima dan bernilai di sisi Allah.(Tim Redaksi)
