Dr.KH Soleh Rosyad, Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima
Tadabbur Surat Al-Baqarah ayat 153:
Ayat ini sangat populer, bahkan sebagian besar dari kita telah menghafalnya. Namun, dalam tingkat pengamalannya, ayat ini membutuhkan mujahadah (kesungguhan), membutuhkan ilmu, pengalaman, serta praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 153:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Ayat ini dimulai dengan panggilan yang sangat mulia, “Wahai orang-orang yang beriman.” Ini menunjukkan bahwa pesan yang terkandung di dalamnya adalah bekal utama bagi setiap mukmin dalam menghadapi seluruh dinamika kehidupan.
Dalam kondisi apa pun, seorang mukmin harus senantiasa melakukan mi’raj kepada Allah, dan mi’raj orang-orang beriman itu adalah salat. Ketika hati sempit, pikiran gelisah, atau persoalan hidup terasa berat, tempat kembali terbaik bukanlah kepada manusia, melainkan kepada Allah melalui salat.
Ayat ini juga memerintahkan orang-orang beriman agar meminta pertolongan kepada Allah untuk meraih pahala akhirat. Mengapa akhirat? Karena ketika seseorang menjadikan akhirat sebagai tujuan utama, dunia akan datang mengikutinya.
Seperti orang yang menanam padi, ia akan mendapatkan rumputnya sekaligus. Tetapi orang yang hanya menanam rumput, ia tidak akan pernah memperoleh padi. Demikian pula kehidupan ini; ketika seseorang menanam tujuan akhirat, dunia akan Allah sertakan sebagai bonus.
Sebaliknya, jika yang dikejar hanya dunia, belum tentu akhirat dapat diraih. Karena itu, mintalah kepada Allah ganjaran-ganjaran ukhrawi, keberkahan hidup, ilmu yang bermanfaat, hati yang tenang, dan husnul khatimah. Niscaya urusan dunia akan Allah cukupkan. Jalan untuk meraih semua itu adalah dengan bersabar, berdoa, berikhtiar, lalu menegakkan salat.
Di dalam salat terkandung doa, zikir, ketundukan, penghambaan, dan penyerahan total seorang hamba kepada Rabb-nya. Setelah melaksanakan salat, jangan berhenti pada ibadah semata. Teruslah melangkah dengan penuh kesabaran dan terimalah setiap persoalan dengan hati yang lapang. Sabar yang dimaksud dalam ayat ini bukanlah sikap pasif yang hanya diam menerima keadaan, melainkan sabar yang hidup, sabar yang bergerak, sabar yang disertai doa, usaha, dan keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu dekat.
Ketika seseorang sedang sakit, misalnya, ia diperintahkan untuk bersabar dengan terus berdoa dan berikhtiar. Kesabaran bukan berarti menyerah pada keadaan, tetapi tetap berusaha mencari pengobatan terbaik sambil menggantungkan harapan sepenuhnya kepada Allah. Pikiran harus dijaga agar tetap positif dan penuh husnuzan, karena pikiran yang negatif hanya akan memperberat beban dan memperdalam persoalan yang sedang dihadapi.
Demikian pula ketika kita menjenguk orang yang sakit, hadirkanlah hati yang tulus, ucapan yang menenangkan, dan doa yang menguatkan. Berikan dukungan dan harapan, bukan prasangka atau perkataan yang melemahkan, sebab sering kali semangat dan doa yang baik menjadi obat yang tidak kalah penting dari pengobatan itu sendiri.
Para mufasir menjelaskan bahwa sabar memiliki makna yang sangat luas. Ia mencakup kesabaran ketika ditimpa musibah, yaitu kemampuan hati untuk tetap tenang, tidak berkeluh kesah secara berlebihan, serta tetap berbaik sangka kepada Allah saat ujian datang. Ia juga mencakup kesabaran dalam menjauhi apa yang diharamkan oleh Allah, yakni kemampuan menahan diri dari godaan, hawa nafsu, dan segala yang dilarang, meskipun kesempatan dan keinginan terbuka lebar.
Bahkan kesabaran dalam meninggalkan yang haram memiliki derajat yang sangat tinggi, karena ujianya terjadi di dalam diri kita sendiri. Jika sabar saat musibah berat karena ujian datang dari luar, maka sabar dalam menjauhi maksiat sering kali lebih berat karena tantanganya ada di dalam hati.
Namun kesabaran saja tidak cukup. Ia harus disertai doa yang sungguh-sungguh, ikhtiar yang maksimal, dan komitmen untuk tetap berada dalam batas-batas yang Allah tetapkan. Ketika ujian hidup datang, kita bersabar. Ketika godaan maksiat muncul, kita pun bersabar. Di situlah letak kemuliaan seorang hamba. Karena itu, bagi generasi muda yang hidup di tengah banyaknya tantangan, godaan, dan persoalan zaman, jagalah diri dengan kesabaran dan ikhtiar. Jadikan sabar bukan sekadar kata yang indah di lisan, tetapi sikap hidup yang menjaga kehormatan diri di hadapan Allah.
Sebagian ulama juga menjelaskan bahwa sabar terwujud melalui ibadah puasa. Orang yang berpuasa termasuk golongan orang-orang yang sabar karena ia melatih dirinya untuk menahan lapar, dahaga, serta menahan hawa nafsu. Puasa bukan sekadar menahan diri secara fisik, tetapi pendidikan jiwa yang melatih keteguhan hati, pengendalian diri, dan keikhlasan. Bahkan disebutkan bahwa puasa adalah setengah dari kesabaran, karena di dalamnya terkandung unsur menahan dan mengendalikan diri secara menyeluruh.
Meski demikian, salat memiliki kedudukan yang lebih agung dalam menghadapi ketetapan Allah atas berbagai persoalan hidup. Salat adalah tempat seorang hamba bersimpuh, mengadu, menangis, dan menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah.
Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan yang sangat agung. Ketika beliau menghadapi persoalan atau kesulitan, beliau tidak larut dalam keluhan dan tidak tenggelam dalam kegelisahan, melainkan segera mendirikan salat. Inilah pelajaran besar bagi kita: ketika masalah datang, jangan mengeluh kepada manusia, tetapi segeralah menghadap Allah melalui salat.
Memang, salat terasa berat, terlebih jika ingin melaksanakannya dengan khusyuk dan penuh kesadaran. Namun justru di situlah letak kemuliaannya. Salat yang dijaga dengan baik akan melahirkan ketenangan jiwa, kekuatan batin, dan kejernihan hati. Dari salat lahir kesadaran bahwa kita lemah sedangkan Allah Mahakuat, kita terbatas sedangkan Allah Mahaluas pertolongan-Nya.
Kesadaran inilah yang seharusnya menjaga kita dalam kehidupan sehari-hari. Jangan pernah meremehkan pelanggaran kecil, sebab dosa besar sering kali berawal dari dosa-dosa kecil yang dibiarkan, diulang, lalu berubah menjadi kebiasaan. Apa yang semula dianggap sepele, perlahan mengeras menjadi karakter. Karena itu, pangkaslah kelonggaran diri terhadap dosa sekecil apa pun, termasuk kebohongan kecil. Kebohongan yang terus diulang bukan hanya menumpuk dosa, tetapi juga merusak kejujuran hati dan integritas diri.
Namun jika seseorang terlanjur melakukan kesalahan, jangan pernah berputus asa. Segeralah kembali kepada Allah dengan memperbanyak istigfar. Rasulullah ﷺ yang telah dijamin surga saja tetap memperbanyak istigfar setiap hari dan menjaga salatnya dengan penuh kesungguhan. Jika beliau yang maksum saja demikian, maka terlebih lagi kita yang penuh kekurangan dan kelalaian.
Maka ayat ini menjadi motivasi besar bagi kita untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari: sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar dalam meninggalkan larangan, dan sabar ketika menghadapi musibah. Dalam setiap keadaan, baik lapang maupun sempit, perbanyaklah istigfar. Di sanalah terdapat pembersih hati, penghapus dosa, penenang jiwa, dan pintu turunnya pertolongan Allah. (Tim Redaksi)
