Oleh: Dr.KH.Soleh Rosyad, Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima
Ketika seorang muslim menghadapi ujian, hendaknya ia tetap tabah, sabar, memperbanyak doa, dan terus berikhtiar di jalan yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, orang-orang yang kufur dan mendustakan agama tidak akan pernah luput dari pengawasan Allah. Segala bentuk kemaksiatan dan kedurhakaan yang mereka lakukan akan mendapatkan balasan yang setimpal.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-‘Ankabut ayat 2–5:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ أَنْ يَسْبِقُونَا ۚ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ مَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Artinya:”Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji? Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta. Ataukah orang-orang yang mengerjakan keburukan itu mengira bahwa mereka akan luput dari Kami? Sangat buruk apa yang mereka tetapkan itu. Barang siapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu yang dijanjikan Allah itu pasti datang. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surah Al-‘Ankabut: 2–5).
Ayat ini menjelaskan bahwa ujian merupakan sunnatullah yang berlaku bagi seluruh manusia, khususnya bagi orang-orang yang mengaku beriman. Melalui ujian tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala menampakkan siapa yang benar-benar jujur dalam keimanannya dan siapa yang hanya mengaku beriman di lisan, tetapi tidak membuktikannya dalam kehidupan. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menegaskan bahwa tidak ada satu pun perbuatan manusia yang akan luput dari pengetahuan dan pengawasan-Nya. Setiap amal, baik maupun buruk, akan mendapatkan balasan yang sempurna.
Yang dimaksud dengan “ajal” dalam ayat tersebut adalah waktu perjumpaan seorang hamba dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat kelak. Setiap manusia pasti akan sampai pada saat itu, dan pada hari tersebut seluruh amal perbuatan akan diperlihatkan serta mendapatkan balasan yang adil. Pertemuan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sebuah kepastian yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya mempersiapkan diri dengan memperbanyak amal saleh dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan.
Karena itu, hendaknya setiap muslim meyakini bahwa segala usaha, kerja keras, ibadah, dan amal kebaikan yang dilakukan sesungguhnya akan kembali manfaatnya kepada dirinya sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membutuhkan ibadah, sedekah, maupun amal kita. Sebaliknya, kitalah yang membutuhkan rahmat, ampunan, dan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua bentuk ketaatan yang kita lakukan adalah untuk kebaikan diri kita sendiri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui siapa saja yang benar dalam mengikuti ajaran para nabi dan rasul, serta siapa yang mendustakan kebenaran. Kedustaan itu dapat berupa ucapan, sikap, maupun penolakan terhadap ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Oleh sebab itu, seorang mukmin hendaknya selalu menjaga kejujuran dalam iman, ucapan, dan amal perbuatannya.
Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah menjelaskan bahwa ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala meliputi segala sesuatu. Allah mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang sedang terjadi, apa yang akan terjadi, bahkan mengetahui sesuatu yang tidak terjadi dan bagaimana keadaannya jika hal itu terjadi. Kesempurnaan ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan kebesaran dan keagungan-Nya yang tidak dapat disamai oleh seluruh makhluknya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui apa yang ada di dalam hati kita. Karena itu, ketika belum mampu mengamalkan suatu kebaikan, jangan sampai kita membencinya. Tetaplah meyakini bahwa itu adalah kebenaran dan mohonlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diberi kemampuan untuk mengamalkannya.
Jangan sampai karena kita belum mampu melakukan suatu kebaikan, lalu kita tidak menyukai nasihat atau ajakan kepada kebaikan tersebut. Sikap seperti itu dapat menghalangi datangnya hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, meskipun kita masih merasa berat melaksanakannya, tetaplah mencintai dan menerima kebaikan itu sebagai kebenaran.
Jika kita belum mampu mengamalkan suatu ajaran agama, hendaknya kita berdoa:
“Ya Allah, berilah aku hidayah, kekuatan, dan keistiqamahan untuk mengamalkan kebaikan yang Engkau cintai dan ridhai.”
Manusia selalu menghadapi godaan setan dan hawa nafsu. Karena itu, kita memerlukan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala agar tetap istiqamah di jalan yang benar.
Salah satu penyebab seseorang sulit menerima seruan kebaikan adalah pengaruh hawa nafsu dan godaan setan. Namun, hawa nafsu pada dasarnya bukan sesuatu yang buruk. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakannya sebagai bagian dari fitrah manusia. Dengan hawa nafsu, manusia memiliki semangat untuk belajar, bekerja, beribadah, dan berlomba-lomba dalam kebaikan.
Yang perlu diwaspadai adalah ketika hawa nafsu tidak dikendalikan oleh iman dan syariat. Dalam keadaan seperti itu, hawa nafsu dapat dimanfaatkan oleh setan untuk menjauhkan manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Karena itu, hawa nafsu harus dikendalikan dengan iman dan ibadah. Caranya dengan menjaga shalat, berpuasa, memperbanyak dzikir, istighfar, dan membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah petunjuk dan penawar bagi hati yang ingin dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sering kali ajakan kepada kebaikan terasa berat dan sulit dilakukan. Bukan karena kebaikan itu salah, tetapi karena hawa nafsu dan godaan setan menghalanginya. Karena itu, jangan sampai kita membenci suatu kebaikan hanya karena belum mampu mengamalkannya. Seorang mukmin hendaknya selalu mempersiapkan diri dengan ketaatan kepada Allah. Setiap dosa memiliki konsekuensinya, baik dosa kecil maupun dosa besar, dosa yang dilakukan dengan sengaja maupun karena kelalaian. Bahkan seseorang bisa terjatuh dalam kesalahan karena enggan menerima nasihat dan menolak kebenaran yang telah sampai kepadanya. Karena itu, seorang muslim tidak boleh meremehkan dosa sekecil apa pun. Bisa jadi dosa yang dianggap ringan justru menjadi penghalang datangnya keberkahan dan hidayah.
Sebagai contoh, dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan, syariat telah menetapkan batasan yang jelas. Meskipun seseorang telah bertunangan atau melamar, keduanya tetap belum menjadi pasangan yang halal. Oleh karena itu, hubungan yang melampaui batas syariat tetap harus dihindari. Menjaga kesucian diri hingga akad nikah merupakan bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang akan mendatangkan keberkahan dalam rumah tangga kelak.
Demikian pula dalam urusan kehidupan sehari-hari. Jangan pernah mengira bahwa kegagalan, kesempitan rezeki, atau berbagai kesulitan hidup semata-mata terjadi tanpa sebab. Ketika seseorang melihat usahanya tidak berkembang sementara usaha orang lain berkembang dengan pesat, jangan terburu-buru berprasangka buruk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, lakukanlah muhasabah terhadap diri sendiri.
Cobalah menengok ke belakang. Apakah ada kewajiban yang selama ini diabaikan? Apakah ada hak orang tua yang belum ditunaikan? Seberapa sering kita menyambung silaturahmi kepada ayah dan ibu? Adakah amanah yang belum kita selesaikan? Adakah nasihat agama yang sudah kita ketahui namun belum kita amalkan?
Muhasabah seperti ini jauh lebih bermanfaat daripada menyalahkan keadaan atau iri terhadap keberhasilan orang lain. Sebab, seorang mukmin meyakini bahwa setiap kebaikan akan mendatangkan keberkahan, dan setiap kemaksiatan dapat menjadi sebab terhalangnya keberkahan tersebut. Oleh karena itu, marilah kita terus memperbaiki diri, memperbanyak taubat, menjaga hubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta berbakti kepada kedua orang tua. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membuka hati kita untuk menerima kebenaran, memberikan kekuatan untuk mengamalkannya, dan menutup hidup kita dalam keadaan husnul khatimah.
Balasan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak selalu berupa musibah atau kesulitan yang terlihat jelas. Terkadang balasan itu datang dengan cara yang halus, seperti hilangnya keberkahan atau terhambatnya suatu urusan. Karena itu, dalam setiap usaha kita tidak cukup hanya bekerja keras, tetapi juga harus disertai doa, ibadah, keikhlasan, dan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jangan merasa diri sudah paling baik. Sikap seperti itu dapat menumbuhkan kesombongan dan menghalangi pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lebih baik menyadari kekurangan diri dan terus berusaha memperbaikinya daripada merasa sudah sempurna.
Sikap tawadhu’ merupakan salah satu akhlak mulia yang harus terus dipelihara. Orang yang tawadhu’ selalu merasa perlu belajar, memperbaiki diri, dan menerima nasihat. Sebaliknya, orang yang sombong akan sulit berkembang karena merasa tidak membutuhkan bimbingan dan koreksi dari orang lain.
Sesungguhnya seluruh anggota tubuh manusia mencerminkan keadaan hati. Raut wajah, tatapan mata, cara berbicara, dan sikap sehari-hari merupakan bahasa nonverbal yang menggambarkan apa yang tersimpan di dalam jiwa. Hati yang dipenuhi iman akan memancarkan ketenangan, sedangkan hati yang dipenuhi kesombongan dan kemaksiatan akan memperlihatkan pengaruhnya dalam perilaku sehari-hari.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan bahwa setiap orang yang mengharapkan perjumpaan dengan-Nya akan sampai pada waktu yang telah ditentukan. Pertemuan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala secara hakiki akan terjadi di akhirat kelak. Adapun di dunia ini, manusia menyaksikan tanda-tanda kebesaran-Nya melalui sifat-sifat-Nya, rahmat-Nya, pertolongan-Nya, serta balasan atas amal perbuatannya.
Oleh sebab itu, siapa yang menginginkan perjumpaan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala hendaknya memperbanyak amal saleh. Setiap sedekah, dzikir, shalawat, khidmah, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya tidak akan pernah sia-sia. Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas setiap kebaikan dengan kebaikan yang lebih besar, baik di dunia maupun di akhirat.
Janganlah beranggapan bahwa pertolongan Allah hanya datang ketika seseorang berada dalam kesulitan. Sesungguhnya setiap detik kehidupan manusia adalah pertolongan Allah. Kita dapat bangun di pagi hari, bernafas dengan normal, menikmati kesehatan, memperoleh rezeki, dan menjalankan aktivitas sehari-hari karena rahmat dan pertolongan-Nya. Hanya saja, sering kali manusia baru menyadari pertolongan tersebut ketika berada dalam keadaan terdesak.
Karena itu, hendaknya kita membiasakan diri untuk mensyukuri nikmat Allah dalam keadaan lapang maupun sempit. Semakin tinggi rasa syukur dan keikhlasan seseorang, semakin besar pula keberkahan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala limpahkan kepadanya.
Manfaatkanlah waktu yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Laksanakan pekerjaan, amanah, dan pengabdian dengan sungguh-sungguh serta ikhlas karena Allah. Tidak ada satu pun kebaikan yang sia-sia di sisi-Nya. Bahkan setetes keringat yang dikeluarkan untuk kemaslahatan orang lain akan kembali menjadi manfaat bagi diri sendiri.
Yakinlah bahwa janji Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti datang. Barang siapa beramal saleh dengan penuh keikhlasan, maka Allah akan memberikan balasan yang lebih baik daripada apa yang telah dikerjakannya. Allah Maha Mendengar setiap doa, bahkan doa yang hanya terucap di dalam hati. Allah juga Maha Mengetahui seluruh keadaan hamba-Nya hingga hal-hal yang paling tersembunyi sekalipun.
Karena itu, jangan pernah mencari kesuksesan melalui jalan pelanggaran, kecurangan, atau pengkhianatan amanah. Kesuksesan yang dibangun di atas kemaksiatan hanyalah kesenangan sementara yang tidak membawa keberkahan. Kesuksesan yang hakiki lahir dari tanggung jawab, kejujuran, kerja keras, dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membutuhkan amal, ibadah, ataupun pekerjaan hamba-Nya. Seluruh ketaatan yang dilakukan manusia sesungguhnya kembali manfaatnya kepada dirinya sendiri. Semakin tinggi kesadaran, ilmu, dan amal seseorang, semakin besar pula manfaat yang akan ia rasakan di dunia maupun di akhirat.
Maka bangunlah komitmen dalam diri untuk terus menjadi lebih baik. Arahkan seluruh tenaga, pikiran, dan kemampuan kepada hal-hal yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab, siapa yang berusaha karena Allah, mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, serta menghadirkan manfaat bagi kaum muslimin, maka sesungguhnya ia sedang membangun keberuntungan bagi dirinya sendiri di dunia dan di akhirat. (Tim Redaksi)
