Oleh Dr. KH. Soleh Rosyad, Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima
- Reflektif QS. Hud: 123
Dalam perjalanan hidup manusia, sering kali kita merasa lelah oleh banyaknya persoalan. Urusan dunia seakan tidak pernah selesai, sementara ketenangan batin terasa semakin jauh.
Dalam situasi seperti ini, Al-Qur’an hadir bukan sekadar sebagai bacaan, tetapi sebagai petunjuk yang menenangkan dan menyadarkan bahwa tidak ada satu pun urusan yang benar-benar berada di luar kendali Allah Subhanahu wa ta’ala.
Salah satu ayat yang meneguhkan kesadaran tersebut adalah penutup Surat Hud, ayat 123. Ayat ini mengajarkan kepada kita tentang luasnya ilmu Allah, kepemilikan mutlak-Nya atas alam semesta, serta keharusan manusia untuk beribadah dan bertawakal sepenuhnya kepada-Nya.
Ayat ini juga menjadi pengingat bahwa Allah tidak pernah lalai terhadap apa pun yang kita kerjakan, sekecil apa pun amal itu.
Surat Hud ayat 123:
وَلِلّٰهِ غَيْبُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاِلَيْهِ يُرْجَعُ الْاَمْرُ كُلُّهٗ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِۗ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
Artinya: “Dan milik Allah-lah segala yang gaib di langit dan di bumi. Kepada-Nya-lah segala urusan dikembalikan. Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya. Dan Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 123)
Allah Subhanahu wa ta’ala. mengabarkan melalui ayat ini bahwa segala sesuatu yang gaib di langit dan di bumi sepenuhnya milik Allah Subhanahu wa ta’ala.
Ayat ini menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui secara detail yang tampak dan yang tidak tampak, yang besar maupun yang kecil, yang kasar maupun yang halus, bahkan yang tersembunyi di dalam hati manusia. Seluruh alam malakut beserta makhluk-makhluknya adalah milik Allah Subhanahu wa ta’ala dan berada dalam pengaturan-Nya.
Sebagai makhluk ciptaan-Nya, kita diajarkan bahwa segala persoalan, baik yang nyata maupun yang tersembunyi, pada akhirnya dikembalikan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Pada hari kiamat, setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban dan akan menerima balasan sesuai dengan amal perbuatannya.
Karena itu, Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan: “Sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya.” Dialah satu-satunya Zat yang mencukupi seluruh kebutuhan makhluk-Nya, dan Dia tidak pernah lalai terhadap amal kebaikan maupun keburukan yang kita lakukan.
Dari ayat ini, hal pertama yang perlu kita tafakuri adalah kesadaran bahwa kita ini milik Allah Subhanahu wa ta’ala. Allah-lah yang menciptakan, mengurus, dan mencukupi seluruh kebutuhan kita. Pengetahuan Allah sangat detail. Allah mengetahui suara doa kita, bahkan bisikan hati kita.
Karena itu, jangan pernah ragu untuk berdoa terutama mendoakan kedua orang tua, karena Allah mengetahui apa yang terlintas di dalam hati, baik yang positif maupun yang negatif. Maka tugas kita adalah membersihkan hati dan pikiran, menjaga lisan, serta menjauhkan diri dari prasangka dan kata-kata yang buruk.
Hati dan pikiran adalah pusat respon manusia terhadap setiap peristiwa kehidupan. Sebagaimana perintah Allah: “Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq”, setiap peristiwa baik itu nikmat maupun musibah, menyenangkan atau menyulitkan selalu melahirkan suara hati. Tantangannya adalah bagaimana kita mampu menata hati, menghilangkan respon negatif, memunculkan sikap positif, dan tidak membebani diri secara berlebihan.
Ayat ini sering kali menemukan kembali maknanya yang paling dalam justru ketika seseorang diuji dengan sakit. Dalam kondisi tubuh yang lemah dan rasa tak berdaya, berbagai analisa kerap bermunculan: ini sakit apa, itu gejala apa. Namun di balik semua itu, sakit sejatinya bukan sekadar ujian fisik, melainkan jalan tafakur, sebuah perjalanan ruhani agar manusia menjadi lebih baik dan semakin dekat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.
Ada satu kisah, orang sakit bertemu dengan seorang dokter yang juga psikolog. Sang dokter berkata kepadanya, “sepertinya bapak ini tidak sakit, bapak sehat kok, tapi bapak kurang bahagia, sambil tersenyum.”
Kalimat candaan ini terdengar sederhana, namun menghibur dan menyimpan makna yang dalam. Yang dimaksud bukanlah kebahagiaan lahiriah, melainkan cara seseorang merespons persoalan hidup, terutama ketika seseorang terlalu membebani dirinya sendiri, tidak melibatkan Allah Subhanahu wa ta’ala.
Ucapan itu seolah menggugah kesadaran. Selama ini, banyak orang mengira bahwa keseriusan berlebihan adalah kunci penyelesaian masalah. Padahal, ada satu hal penting yang sering terlupakan: tawakal. Tawakal bukanlah sikap pasrah setelah semuanya selesai, melainkan harus menyertai niat, menyertai usaha, dan menyertai hasil. Kebahagiaan sejati bukan terletak pada ketiadaan masalah, tetapi pada cara menyikapi masalah dengan tawakal kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.
Allah Subhanahu wa ta’ala mengajarkan kepada kita bahwa seluruh urusan dunia dan akhirat dikembalikan kepada-Nya. Hidup ini penuh dengan tahapan persoalan: pendidikan, pekerjaan, pernikahan, keluarga, cita-cita, kesehatan, bahkan sehat pun adalah persoalan yang harus disyukuri. Semua itu adalah rangkaian ujian yang menuntut kesadaran ilahiyah.
Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Tawakal dimulai dari niat, perencanaan, pelaksanaan, lalu disempurnakan dengan sabar dan ridha. Allah Subhanahu wa ta’ala. memerintahkan: “Fa’budhu”—beribadahlah kepada-Nya dengan jasad dan ruh. Shalat adalah sebaik-baik amal. Maka shalat bukan hanya gerakan, tetapi harus disertai dzikir, hati yang hadir, pikiran yang khusyuk, dan ruh yang hidup.
Puasa adalah jalan menuju takwa, dan yang paling berat adalah puasa hati dan pikiran. Sedekah adalah amal yang paling bermanfaat, namun keikhlasan dalam bersedekah perlu terus dilatih. Dzikir yang dibiasakan, seperti di pondok pesantren adalah sarana penyempurna ibadah jasadiyah dan ruhaniyah.
Percayakan seluruh urusan kepada Allah. Urusan pendidikan, pekerjaan, kesehatan, bahkan cita-cita hidup. Allah Maha Mencukupi, Maha Menyembuhkan, dan Maha Menolong. Tidak ada satu amal pun yang luput dari perhitungan-Nya. Kebaikan sekecil apa pun akan dibalas, baik di dunia maupun di akhirat.
Karena itu, hisablah diri sebelum dihisab, dan mohonlah rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala. Jangan meminta keadilan-Nya semata, tetapi mintalah kasih sayang dan rahmat-Nya. Dengan rahmat itulah kekurangan amal, ilmu, dan usaha kita disempurnakan. Sesungguhnya, siapa yang bertawakal kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, maka Allah akan mencukupkannya. Tidak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya, dan balasan-Nya selalu sempurna di dunia dan di akhirat. (Tim Redaksi Pondok Pesantren Kun Karima)



