Mensyukuri Nikmat dan Tanggung Jawab

Oleh: Dr.KH.Soleh Rosyad, (Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima)

  • Tadabbur Surat Luqman: 20

Allah melimpahkan nikmat yang tak terhitung jumlahnya kepada manusia. Apa yang ada di langit dan di bumi ditundukkan untuk kemaslahatan hidup: matahari yang menyinari, udara yang menghidupkan, air yang menyuburkan, serta rezeki yang mengalir tanpa henti.

Semua itu bukan sekadar fasilitas kehidupan, melainkan tanda kasih sayang dan kekuasaan-Nya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Luqman ayat 20:

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً ۗ وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُّنِيرٍ

Artinya: “Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya yang lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.”

Segala yang ada di langit dan di bumi telah ditundukkan untuk kepentingan manusia. Matahari memancarkan cahaya, udara memberi kehidupan, hujan menyuburkan tanah, pepohonan menghasilkan buah, dan sungai mengalirkan air. Semua berjalan dalam keteraturan yang menunjukkan kekuasaan dan kasih sayang Allah.

Allah menyempurnakan nikmat-Nya dalam dua bentuk: nikmat lahir dan nikmat batin.

Nikmat lahir adalah segala yang tampak dan kita rasakan secara fisik, seperti kesehatan, tenaga, cahaya matahari, udara, hujan, dan berbagai rezeki yang menunjang kehidupan.

Nikmat batin adalah karunia yang menenangkan jiwa, seperti iman, hidayah, ketenangan hati, serta kesempatan untuk beribadah shalat tahajud, dhuha, berdzikir, dan bershalawat.

Sehat adalah nikmat besar yang sering terlupakan. Dalam kondisi sehat, ibadah terasa ringan dan kekhusyukan lebih mudah diraih. Karena itu, kesehatan hendaknya disyukuri dengan amal nyata dan kesungguhan dalam berbuat baik.

Setiap orang memiliki cerita dan ujian hidupnya masing-masing. Kita berjalan dengan doa, ikhtiar, dan proses panjang. Setiap amal yang terwujud termasuk berdirinya masjid dan berkembangnya kebaikan adalah rahmat Allah serta balasan atas istiqamah yang dijaga.

Dalam bahasa Gontor disebutkan:“Ibdā’ binafsik” mulailah dari diri sendiri. Mulailah dari sekarang. Mulailah ketika kita masih sehat. Berbuat baik tidak boleh menunggu sempurna atau menunggu orang lain memulai.

Di sekitar kita begitu banyak peluang kebaikan. Jangan sampai seperti ayam yang mati kelaparan di tengah lumbung padi. Jangan mengejar yang jauh sementara yang dekat diabaikan. Cita-cita masa depan dibangun dari apa yang kita lakukan hari ini.

Pastikan setiap detik menjadi bagian dari produktivitas, kebaikan, dan pelurusan niat.

Dalam Islam, sumber hukum yang disepakati para ulama ada empat: Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, dan Qiyas.

Keempatnya menjadi landasan utama dalam menetapkan hukum dan menjawab persoalan umat. Qiyas merupakan hasil ijtihad ulama dengan cara menganalogikan suatu masalah baru kepada hukum yang telah ada, berdasarkan kesamaan illat (sebab hukum). Proses ini harus berlandaskan ilmu, pemahaman yang mendalam, serta argumentasi yang kuat.

Dalam bermujadalah (berdiskusi) dan membela kebenaran, setiap pendapat harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Tidak boleh berbicara tanpa hujjah yang sahih dan tanpa dasar yang jelas. Ilmu harus berpijak pada dalil yang benar, serta didukung oleh data dan fakta yang dapat diuji kebenarannya.

Islam sejak awal adalah agama yang membawa keseimbangan dan keadilan. Dahulu perempuan diperlakukan tidak manusiawi, lalu Islam datang memuliakan mereka dan memberikan hak serta martabat yang terhormat. Laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan, tetapi keduanya saling melengkapi dan saling menghargai. Moderasi bukan berarti melemahkan ajaran, melainkan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya secara adil dan proporsional.

Nilai keseimbangan inilah yang harus tercermin dalam kehidupan kita sehari-hari. Hidup adalah perjalanan panjang, penuh ujian dan dinamika. Namun selama kita berjalan dengan doa, ilmu, keikhlasan, dan istiqamah, Allah akan membalas setiap perjuangan.

Mari mulai dari diri sendiri. Mulai dari sekarang. Mulai ketika kita masih diberi kesehatan. Karena masa depan dibangun hari ini, dan nikmat Allah terlalu banyak untuk diingkari. (Tim Redaksi Kunka)

 

Bagikan Kegiatan Ini!

Facebook
WhatsApp
Email
X

Kegiatan Lainnya