Penulis: adnan

  • Perkuat Silaturahmi Kebangsaan, FSPP Banten Hadiri Buka Puasa Bersama Ketua MPR RI dan Kepala BIN RI

    Perkuat Silaturahmi Kebangsaan, FSPP Banten Hadiri Buka Puasa Bersama Ketua MPR RI dan Kepala BIN RI

    Jakarta– Ketua Presidium FSPP Banten, Dr. KH. Soleh, M.M., menghadiri undangan buka puasa bersama di rumah dinas Ketua MPR RI, Senin (24/02/26). Kegiatan tersebut digelar dalam suasana hangat dan penuh keakraban sebagai ajang silaturahmi antara ulama dan para pejabat negara.

    Pondok Pesantren Kun Karima, Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima

    Acara ini dihadiri langsung oleh Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, serta Kepala BIN RI, Muhammad Herindra. Sejumlah kiai dan pimpinan pondok pesantren dari berbagai daerah, turut hadir bersama perwakilan organisasi dan elemen masyarakat lainnya.

    Buka puasa bersama tersebut bertujuan mempererat hubungan antara ulama dan umara dalam rangka memperkuat sinergi kebangsaan. Dalam sambutannya, Ahmad Muzani menyampaikan bahwa momentum Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat silaturahmi dan kebersamaan.

    “Momen yang baik di bulan baik saya silaturahmi dan buka bersama dengan para pimpinan pondok pesantren se-Jawa Tengah dan Jawa Timur serta para kyai sepuh. Alhamdulillah silaturahmi berjalan lancar dan penuh kebersamaan,” ujar Ahmad Muzani.

    Dalam kesempatan itu, ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara ulama dan pemerintah dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa, mulai dari persoalan sosial, dinamika politik, hingga perubahan global. Menurutnya, ulama memiliki peran strategis dalam menjaga nilai dan moral bangsa, sementara pemerintah bertanggung jawab dalam aspek kebijakan dan tata kelola negara.

    Selain itu, diskusi yang berkembang turut menyinggung visi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Sinergi yang kuat antara pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci dalam membangun ketahanan ideologis, stabilitas nasional, serta menyiapkan generasi unggul yang berkarakter.

    Pondok Pesantren Kun Karima, Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima

    “Untuk itu saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh pimpinan pondok pesantren dan para kyai yang sudah hadir sore ini. Insya Allah perjuangan kita untuk Indonesia lebih baik akan membuahkan hasil untuk masyarakat,” pungkasnya.

    Pondok Pesantren Kun Karima, Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima

    Sementara itu, Ketua Presidium FSPP Banten, Dr. KH. Soleh, M.M., menyampaikan bahwa kegiatan buka puasa bersama ini menjadi momentum konsolidasi nilai dan komitmen kebangsaan. Ia berharap silaturahmi tersebut dapat memperkuat persatuan serta kerja sama dalam menyongsong Indonesia 2045 dengan fondasi moral dan visi kenegaraan yang kokoh.

    (Sumber: FSPP Provinsi Banten)

  • Transformasi Nilai Akhlaqul Karimah

    Transformasi Nilai Akhlaqul Karimah
  • Dari Asrama ke Dunia: Mimpi-Mimpi Besar yang Dirajut di Pesantren

    Dari Asrama ke Dunia: Mimpi-Mimpi Besar yang Dirajut di Pesantren

    Dinding asrama mungkin terbuat dari tembok sederhana, namun mimpi-mimpi yang tumbuh di dalamnya mampu menembus batas dunia. Di pesantren, kamar berukuran tiga kali empat yang diisi delapan orang bukan sekadar tempat tidur bergantian, tapi ruang berkumpulnya harapan. Di sanalah para santri menulis masa depan mereka—dengan pena murahan, semangat yang mahal, dan sesekali bercanda soal dunia yang belum mereka datangi.

    Setiap malam di asrama adalah lembaran dari kitab kehidupan. Di sela-sela suara nyamuk dan desahan kipas angin yang sudah miring, para santri merajut mimpi. Ada yang ingin kuliah ke Timur Tengah, ada yang membayangkan jadi dai internasional, ada pula yang diam-diam ingin punya podcast bertema fiqih cinta. Semuanya sah, semuanya boleh. Karena di pesantren, tak ada yang membatasi mimpi, kecuali waktu tidur yang dibatasi pukul 10 malam.

    Mimpi itu tumbuh bersamaan dengan hafalan yang susah masuk dan alarm subuh yang susah bangun. Tapi justru di tengah kesulitan itulah ketangguhan terbentuk. Santri tidak dimanjakan kenyamanan, tapi disiapkan untuk ketangguhan. Karena hidup ini, kata ustadz, tidak selalu seperti jadwal piket yang bisa ditukar, tapi lebih sering seperti jam pelajaran nahwu—susah di awal, manis di akhir (kalau lulus).

    Tak jarang, mimpi-mimpi itu dipoles lewat diskusi malam hari, diiringi suara sendal seret dan bunyi angin syahdu. Tema obrolan bisa lompat dari wacana khilafah ke harga gorengan di kantin pesantren. Tapi percayalah, di tengah gurauan dan gelak tawa itu, mereka sedang belajar berpikir, bercita-cita, dan bermimpi—hal yang jarang dimiliki generasi rebahan.

    Asrama bukan batas, tapi titik awal. Ia seperti rahim kedua bagi para pemimpi—tempat bertumbuh sebelum dilahirkan ke tengah-tengah masyarakat. Di pesantren, santri belajar bukan hanya ilmu, tapi juga disiplin, hidup bareng, sabar menunggu kiriman bulanan, dan rela tidur sebelah teman yang mendengkur seperti gergaji. Semua itu adalah kurikulum kehidupan yang tak tertulis di silabus manapun.

    Maka tak heran jika dari asrama yang sempit itu, lahir mereka yang pikirannya luas. Santri yang dulu berebut ember, kini berebut kesempatan untuk mengabdi. Yang dulu mengantri mandi, sekarang mengantri panggung dakwah. Yang dulu hanya mengenal nama-nama teman sekamar, kini dikenal masyarakat sebagai penyambung lidah umat.

    Dari asrama ke dunia, santri tahu bahwa jalan menuju cita-cita tak selalu lapang. Tapi mereka telah dilatih untuk kuat, bukan manja. Karena di pesantren, mimpi bukan sekadar angan, tapi amal yang terus dirajut dengan doa dan kerja. Dan pada akhirnya, dunia memang terlalu sempit untuk membatasi mimpi-mimpi yang lahir dari tempat sekecil asrama.

    Wallahu a‘lam, sambil lipat sarung.

  • Pagi yang Tak Pernah Sepi: Semangat Santri Menyambut Fajar di Pesantren Modern

    Pagi yang Tak Pernah Sepi: Semangat Santri Menyambut Fajar di Pesantren Modern

    Bagi santri, pagi bukan sekadar waktu. Ia adalah awal, semangat, dan sering kali juga perjuangan melawan godaan selimut yang lebih kuat dari debat antara Abu Hanifah dan Syafi’i. Di pesantren modern, fajar bukan cuma penanda waktu subuh, tapi juga simbol semangat baru—saat lorong-lorong asrama mulai ramai oleh suara sendal jepit dan sapaan lirih sesama pejuang bangun pagi.

    Subuh di pesantren bukan waktu yang sepi, bahkan bisa jadi ini jam sibuk pertama. Santri bergegas wudhu, terkadang dengan mata setengah terbuka dan tangan yang masih meraba-raba gayung. Ada yang baru sadar kalau handuknya ketinggalan saat sudah basah kuyup. Namun dari sana, lahirlah kebersamaan dan ketulusan yang tak dibuat-buat. Tidak ada yang menuntut harus rapi atau wangi, cukup datang ke masjid, membawa semangat, dan satu dua doa agar hari ini tidak kena tilang kedisiplinan.

    Usai salat subuh, suasana tidak serta-merta redup. Justru ini waktu di mana banyak pesantren modern memulai program unggulannya: pemberian mufrodat, halaqah pagi, atau mengaji  bersama. Di sinilah tampak wajah-wajah santri yang belum mandi tapi sudah siap menghafal. Kalau ada yang menyebut santri itu makhluk tangguh, itu karena mereka bisa menghafal ayat Al-Qur’an dengan latar belakang suara ayam berkokok dan teman menguap bersambung.

    Ada keindahan tersendiri saat melihat halaman pesantren disinari cahaya jingga. Beberapa santri menyapu halaman dengan sarung masih melilit setengah badan, yang lain memanaskan air untuk teh manis pagi—menu wajib sebelum ngaji. Di pojok masjid, tampak ustadz muda yang baru menikah menyimak setoran surah dari santri yang suaranya masih cempreng tapi niatnya mantap.

    Pagi hari di pesantren modern adalah latihan spiritual sekaligus manajemen waktu. Santri belajar bahwa kesuksesan bukan soal seberapa lama tidur, tapi seberapa disiplin bangun. Bahkan ada anekdot yang populer: “Santri sejati itu bukan yang hafal banyak kitab, tapi yang nggak kesiangan walau tidur paling malam.” Kalimat ini sering dipakai untuk menyindir, tapi juga untuk menyemangati diri sendiri agar esok bangun sebelum gong subuh dibunyikan.

    Pagi yang tak pernah sepi itu adalah fondasi dari pesantren yang terus hidup. Ketika semangat fajar dijaga, maka hari-hari berikutnya akan terisi oleh semangat belajar, beribadah, dan berkhidmah. Di sinilah jiwa santri dibentuk: bukan hanya cerdas secara intelektual, tapi juga tangguh dalam spiritual dan sosial.

    Maka jika engkau ingin tahu bagaimana sebuah bangsa dibangun, lihatlah pagi hari di pesantren. Di sanalah para calon pemimpin masa depan memulai harinya—dengan wajah ngantuk, sarung miring, dan semangat yang tidak pernah tidur.

    Wallahu a‘lam, sambil nyeruput teh manis.

  • Bahagia Itu Sederhana: Menemukan Makna di Balik Kesibukan Pesantren

    Bahagia Itu Sederhana: Menemukan Makna di Balik Kesibukan Pesantren

    Di pesantren, bahagia itu tidak diukur dari seberapa sering ngopi di kafe estetik, tapi seberapa cepat bisa menemukan sandal hilang sebelum iqamah berkumandang. Hidup di pesantren memang sibuk—pagi-pagi sudah digedor untuk subuh berjamaah, siang ngaji, sore belajar, malamnya setoran hafalan. Tapi anehnya, di tengah rutinitas yang tampaknya melelahkan itu, kami menemukan bahagia. Bukan bahagia yang menggelegar seperti konser, tapi bahagia yang pelan-pelan meresap, seperti aroma minyak kayu putih di malam hari: sederhana, tapi menenangkan.

    Kebahagiaan santri itu tidak perlu disunting pakai filter. Cukup dengan tahu jadwal piket hari ini bukan giliran sendiri, itu sudah membuat hati seperti terbang di atas awan. Bahkan saat ngantuk berat di kelas, ketika ustadz berkata, “Insya Allah ini materi terakhir hari ini,” sontak wajah santri bersinar lebih terang dari layar LCD. Di pesantren, makna hidup tidak datang dari seminar motivasi atau buku self-improvement, tapi dari percakapan di kamar asrama yang membahas mulai dari masalah wudhu sampai siapa yang paling cepat rebutan tempe di dapur.

    Ada filosofi tersendiri dalam tiap kesibukan santri. Mandi sebelum subuh misalnya, bukan hanya latihan disiplin, tapi juga latihan iman—karena di waktu itu, antara dinginnya air dan nikmatnya kasur, hanya yang betul-betul ikhlas yang menang. Belum lagi perjuangan mencuci baju sendiri—jika baju hilang, bisa jadi itu bagian dari rencana Allah agar lebih ikhlas dalam berbagi (meskipun tetap lapor ke ustadz bagian keamanan).

    Guyonan di pesantren pun mengandung makna tersendiri. Seorang santri pernah berkata, “Ngantuk saat ngaji itu ujian iman, tapi ngantuk saat nonton bola itu ujian batin.” Kalimat itu tampak lucu, tapi sebenarnya sedang menyinggung konflik eksistensial antara cinta ilmu dan cinta Liga Champions. Guyonan seperti ini menjadi bumbu yang membuat hidup di pesantren tidak terasa seperti beban, melainkan perjalanan menuju kedewasaan.

    Kesibukan di pesantren bukan semata aktivitas lahir, tapi pengasahan batin. Ketika harus menghafal matan Alfiyah sambil menahan kantuk, atau menghindari godaan main bola saat jam belajar malam, di situlah santri belajar bahwa bahagia itu bukan hanya soal senang-senang, tapi tentang bertumbuh. Bahagia itu saat bisa menyelesaikan satu halaman hafalan, walaupun tadi sempat mengulang lima kali karena lidah keliru membaca “mabniyyun”.

    Maka dari itu, kalau ada yang bertanya bagaimana bentuk bahagia versi santri, mungkin jawabannya seperti ini: bahagia itu saat kitab baru dibagikan, sandal ditemukan dalam keadaan utuh, dan ustadz mengakhiri pelajaran dengan kalimat manis, “Cukup sekian dulu ngaji kita hari ini.” Ah, nikmat mana lagi yang engkau dustakan?

    Di balik kesibukan pesantren yang tiada habis, para santri justru menemukan makna hidup yang tenang. Karena pada akhirnya, kesederhanaan hidup bukan lawan dari kebahagiaan, justru itu pangkalnya. Wallahu a‘lam, sambil nyuci baju.

  • UAS Kelas 6 Angkatan El-Nashr

    UAS Kelas 6 Angkatan El-Nashr

    What is Lorem Ipsum?

    Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry’s standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. It has survived not only five centuries, but also the leap into electronic typesetting, remaining essentially unchanged. It was popularised in the 1960s with the release of Letraset sheets containing Lorem Ipsum passages, and more recently with desktop publishing software like Aldus PageMaker including versions of Lorem Ipsum.

    Why do we use it?

    It is a long established fact that a reader will be distracted by the readable content of a page when looking at its layout. The point of using Lorem Ipsum is that it has a more-or-less normal distribution of letters, as opposed to using ‘Content here, content here’, making it look like readable English. Many desktop publishing packages and web page editors now use Lorem Ipsum as their default model text, and a search for ‘lorem ipsum’ will uncover many web sites still in their infancy. Various versions have evolved over the years, sometimes by accident, sometimes on purpose (injected humour and the like).

    Where does it come from?

    Contrary to popular belief, Lorem Ipsum is not simply random text. It has roots in a piece of classical Latin literature from 45 BC, making it over 2000 years old. Richard McClintock, a Latin professor at Hampden-Sydney College in Virginia, looked up one of the more obscure Latin words, consectetur, from a Lorem Ipsum passage, and going through the cites of the word in classical literature, discovered the undoubtable source. Lorem Ipsum comes from sections 1.10.32 and 1.10.33 of “de Finibus Bonorum et Malorum” (The Extremes of Good and Evil) by Cicero, written in 45 BC. This book is a treatise on the theory of ethics, very popular during the Renaissance. The first line of Lorem Ipsum, “Lorem ipsum dolor sit amet..”, comes from a line in section 1.10.32.

    The standard chunk of Lorem Ipsum used since the 1500s is reproduced below for those interested. Sections 1.10.32 and 1.10.33 from “de Finibus Bonorum et Malorum” by Cicero are also reproduced in their exact original form, accompanied by English versions from the 1914 translation by H. Rackham.

    Where can I get some?

    There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form, by injected humour, or randomised words which don’t look even slightly believable. If you are going to use a passage of Lorem Ipsum, you need to be sure there isn’t anything embarrassing hidden in the middle of

  • Praktikum Tajhizul Mayyit Santri Kelas Akhir

    Praktikum Tajhizul Mayyit Santri Kelas Akhir

    What is Lorem Ipsum?

    Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry’s standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. It has survived not only five centuries, but also the leap into electronic typesetting, remaining essentially unchanged. It was popularised in the 1960s with the release of Letraset sheets containing Lorem Ipsum passages, and more recently with desktop publishing software like Aldus PageMaker including versions of Lorem Ipsum.

    Why do we use it?

    It is a long established fact that a reader will be distracted by the readable content of a page when looking at its layout. The point of using Lorem Ipsum is that it has a more-or-less normal distribution of letters, as opposed to using ‘Content here, content here’, making it look like readable English. Many desktop publishing packages and web page editors now use Lorem Ipsum as their default model text, and a search for ‘lorem ipsum’ will uncover many web sites still in their infancy. Various versions have evolved over the years, sometimes by accident, sometimes on purpose (injected humour and the like).

    Where does it come from?

    Contrary to popular belief, Lorem Ipsum is not simply random text. It has roots in a piece of classical Latin literature from 45 BC, making it over 2000 years old. Richard McClintock, a Latin professor at Hampden-Sydney College in Virginia, looked up one of the more obscure Latin words, consectetur, from a Lorem Ipsum passage, and going through the cites of the word in classical literature, discovered the undoubtable source. Lorem Ipsum comes from sections 1.10.32 and 1.10.33 of “de Finibus Bonorum et Malorum” (The Extremes of Good and Evil) by Cicero, written in 45 BC. This book is a treatise on the theory of ethics, very popular during the Renaissance. The first line of Lorem Ipsum, “Lorem ipsum dolor sit amet..”, comes from a line in section 1.10.32.

    The standard chunk of Lorem Ipsum used since the 1500s is reproduced below for those interested. Sections 1.10.32 and 1.10.33 from “de Finibus Bonorum et Malorum” by Cicero are also reproduced in their exact original form, accompanied by English versions from the 1914 translation by H. Rackham.

    Where can I get some?

    There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form, by injected humour, or randomised words which don’t look even slightly believable. If you are going to use a passage of Lorem Ipsum, you need to be sure there isn’t anything embarrassing hidden in the middle of