Aku masih ingat hari ketika Ayah mengantarku ke pesantren untuk pertama kalinya. Di sepanjang perjalanan, Ayah banyak bicara tentang masa depan, tentang ilmu, tentang menjadi anak yang kuat dan berakhlak baik. Tapi aku hanya memandangi jendela mobil dengan perasaan gelisah.
Saat mobil berhenti di gerbang pesantren, aku menggenggam tangan Ayah erat-erat.
“Yakin aku harus tinggal di sini, Yah?”
Ayah tersenyum, menepuk pundakku.
“Coba dulu, Nak. Tempat ini akan banyak mengajarimu.”
Namun dalam hati, aku berseru: Aku ingin pulang… sekarang juga.
Malam Pertama: Ketidaknyamanan yang Membentuk
Hari itu terasa panjang. Asrama ramai oleh suara santri baru. Ada yang menahan tangis, ada yang cemberut, ada yang sibuk menata barang-barangnya seolah mencoba menenangkan diri.
Aku sendiri duduk di kasur sederhana yang baru pertama kali kulihat. Udara malam menusuk, lampu asrama temaram, dan rasa rindu rumah menelusup diam-diam.
Keesokan harinya aku pergi ke wartel untuk menelpon ayah, suaraku gemetar.
“Yah… kalau aku nggak betah, aku boleh ulang Yah?”
Ada jeda di ujung telepon sebelum Ayah menjawab pelan,
“Bertahan dulu. Kamu kuat. Minimal selesaikan tiga tahun dulu, setelah itu silahkan kalau kamu mau pindah”
Hari-Hari Penuh Perubahan
Hari-hari berikutnya berjalan tidak mudah. Bangun sebelum subuh, antri kamar mandi, hafalan yang menunggu, aturan yang harus dipatuhi, dan lingkungan yang sama sekali berbeda dari rumah.
Tapi di balik semua itu, ada hal-hal kecil yang perlahan membuatku bertahan: Suara Al-Qur’an yang menggema sebelum fajar. Tangan-tangan teman sekamar yang saling membantu tanpa diminta.
Ustaz yang mengajar dengan kesabaran yang tak pernah habis.
Suasana sore yang damai ketika santri kembali dari kelas sambil tertawa dan bercanda. Semua itu menyentuh sesuatu di dalam hatiku.
Sakit yang Menyadarkanku
Suatu malam aku jatuh sakit. Badanku panas, kepalaku berat, dan aku merindukan rumah lebih dari apa pun. Kupikir aku akan sendirian menahan rasa itu.
Tapi kenyataannya berbeda.
Teman-temanku datang, membawa air hangat, obat, dan doa.
Ada yang memegang tanganku sambil berkata,
“Tenang, kamu nggak sendirian di sini.”
Dan kehangatan itu lebih menenangkan daripada apa pun yang kupunya di asrama. Saat itulah aku sadar: Aku dijaga. Aku diterima. Aku tidak lagi sendiri.
Nasihat yang Mengubah Segalanya
Suatu sore, Kyai memandang kami dengan tatapan lembut.
“Anak-anak,” ucapnya, “kalian datang ke pesantren ini, bukan hanya untuk menjadi paling pintar, bukan hanya untuk mendapat nilai rapot yang besar, tetapi untuk tumbuh menjadi manusia yang lebih baik. Pertahankanlah, kelak kalian akan mengerti disinlah tempat terbaik mempersiapkan masa depan”
Kalimat itu menancap dalam-dalam.
Seolah Kyai berbicara langsung ke hatiku.
Sejak itu, aku rajin duduk di barisan depan.
Karena aku mulai ingin belajar sepenuh hati.
Hari Ketika Aku Mengerti
Setelah tiga tahun akupun menagih janji ayah untuk keluar dan pindah dari pesantren, tetapi. Suatu senja, aku duduk di bawah pohon dekat gerbang pesantren. Merenung dan berfikir betapa pesantren sudah banyak membentuk diriku.
Saat itu udara tenang, dan dari mushola terdengar lantunan ayat suci.
Temanku bertanya,
“Kok diam? Kangen rumah?”
Aku menggeleng. Bukan itu.!
Yang kupikirkan adalah betapa jauh diriku berubah. Betapa aku mulai mencintai tempat ini. Betapa pesantren perlahan menjadi rumah kedua yang tak pernah kusangka akan kunikmati.
Sore itu, aku pergi ke wartel dan menelpon Ayah.
“Ayah,” kataku pelan.
“Ya, Nak?”
Aku menarik napas panjang sebelum mengatakan apa yang benar-benar ingin kusampaikan.
“Ayah… biarkan aku tetap di pesantren.”
Hening sejenak. Lalu kudengar tarikan napas lega dari seberang.
“itu baru anaku, kamu harapan besar ayah dan ibu” jawab Ayah dengan suara bergetar, “Ayah akan selalu mendukungmu.”
Air mataku menetes, bukan karena sedih tapi karena syukur.
Aku Tetap Bertahan
Pesantren tidak memberiku kenyamanan seperti rumah.
Tidak memberiku kasur empuk, makanan favorit, atau waktu tidur panjang.
Namun pesantren memberiku sesuatu yang jauh lebih berharga:
Teman-teman yang tulus.
Guru yang membimbing dengan hati.
Lingkungan yang menuntunku menemukan diriku sendiri.
Dan perjalanan yang membuatku tumbuh dari hari ke hari.
“Rumah memang tempat dimana aku dilahirkan dan dibesarkan, tapi pesantren… adalah tempat aku belajar menjadi manusia yang lebih baik dari hari kehari.”
Dan dalam hati, aku bersyukur:
“Ayah, terima kasih… Berkat paksaan Ayah saat itu, aku menemukan tempat terindah yang mengajarkanku banyak hal dalam hidup.”
Tim Redaksi Pondok Pesantren Kun Karima







