Bahagia Itu Sederhana: Menemukan Makna di Balik Kesibukan Pesantren

Di pesantren, bahagia itu tidak diukur dari seberapa sering ngopi di kafe estetik, tapi seberapa cepat bisa menemukan sandal hilang sebelum iqamah berkumandang. Hidup di pesantren memang sibuk—pagi-pagi sudah digedor untuk subuh berjamaah, siang ngaji, sore belajar, malamnya setoran hafalan. Tapi anehnya, di tengah rutinitas yang tampaknya melelahkan itu, kami menemukan bahagia. Bukan bahagia yang menggelegar seperti konser, tapi bahagia yang pelan-pelan meresap, seperti aroma minyak kayu putih di malam hari: sederhana, tapi menenangkan.

Kebahagiaan santri itu tidak perlu disunting pakai filter. Cukup dengan tahu jadwal piket hari ini bukan giliran sendiri, itu sudah membuat hati seperti terbang di atas awan. Bahkan saat ngantuk berat di kelas, ketika ustadz berkata, “Insya Allah ini materi terakhir hari ini,” sontak wajah santri bersinar lebih terang dari layar LCD. Di pesantren, makna hidup tidak datang dari seminar motivasi atau buku self-improvement, tapi dari percakapan di kamar asrama yang membahas mulai dari masalah wudhu sampai siapa yang paling cepat rebutan tempe di dapur.

Ada filosofi tersendiri dalam tiap kesibukan santri. Mandi sebelum subuh misalnya, bukan hanya latihan disiplin, tapi juga latihan iman—karena di waktu itu, antara dinginnya air dan nikmatnya kasur, hanya yang betul-betul ikhlas yang menang. Belum lagi perjuangan mencuci baju sendiri—jika baju hilang, bisa jadi itu bagian dari rencana Allah agar lebih ikhlas dalam berbagi (meskipun tetap lapor ke ustadz bagian keamanan).

Guyonan di pesantren pun mengandung makna tersendiri. Seorang santri pernah berkata, “Ngantuk saat ngaji itu ujian iman, tapi ngantuk saat nonton bola itu ujian batin.” Kalimat itu tampak lucu, tapi sebenarnya sedang menyinggung konflik eksistensial antara cinta ilmu dan cinta Liga Champions. Guyonan seperti ini menjadi bumbu yang membuat hidup di pesantren tidak terasa seperti beban, melainkan perjalanan menuju kedewasaan.

Kesibukan di pesantren bukan semata aktivitas lahir, tapi pengasahan batin. Ketika harus menghafal matan Alfiyah sambil menahan kantuk, atau menghindari godaan main bola saat jam belajar malam, di situlah santri belajar bahwa bahagia itu bukan hanya soal senang-senang, tapi tentang bertumbuh. Bahagia itu saat bisa menyelesaikan satu halaman hafalan, walaupun tadi sempat mengulang lima kali karena lidah keliru membaca “mabniyyun”.

Maka dari itu, kalau ada yang bertanya bagaimana bentuk bahagia versi santri, mungkin jawabannya seperti ini: bahagia itu saat kitab baru dibagikan, sandal ditemukan dalam keadaan utuh, dan ustadz mengakhiri pelajaran dengan kalimat manis, “Cukup sekian dulu ngaji kita hari ini.” Ah, nikmat mana lagi yang engkau dustakan?

Di balik kesibukan pesantren yang tiada habis, para santri justru menemukan makna hidup yang tenang. Karena pada akhirnya, kesederhanaan hidup bukan lawan dari kebahagiaan, justru itu pangkalnya. Wallahu a‘lam, sambil nyuci baju.