Kajian rutin Seninan
Oleh : Dr. KH. Soleh Rosyad, Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima
Tadabbur Surah Ali ‘Imran: 31
Cinta kepada Allah bukan sekadar ungkapan lisan, melainkan komitmen yang dibuktikan dengan ketaatan. Allah telah memberikan ukuran yang jelas tentang cinta tersebut dalam firman-Nya:
Q.S. Ali ‘Imran: 31
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad), jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31)
Ayat yang mulia ini mengandung hikmah yang sangat dalam bagi setiap muslim yang mengaku mencintai Allah dan mengikuti Nabi Muhammad ﷺ. Pertanyaan yang patut kita renungkan adalah: Benarkah kita mencintai Allah? Wallāhu a‘lam. Sebab cinta kepada Allah memiliki indikator tertentu yang menunjukkan dan membuktikan keyakinan tersebut.
Sebagaimana pepatah mengatakan, lautan dapat diselami, gunung dapat didaki, kuda yang berlari dapat dikejar, tetapi hati manusia tiada yang mengetahui. Maka cinta kepada Allah bukan cukup dengan kata-kata, melainkan harus dibuktikan dengan perbuatan. Mengaku cinta tanpa bukti adalah sia-sia.
Dalam Islam, cinta kepada Allah harus terwujud dalam ketaatan. Indikator utamanya adalah mengikuti syariat Nabi Muhammad ﷺ. Sebagaimana ditegaskan dalam ayat tersebut, mengikuti Rasul adalah jalan agar Allah mencintai kita.
Allah Subhabahu wa Ta’ala menegaskan bahwa apa yang disampaikan Nabi adalah wahyu. Nabi Muhammad ﷺ adalah pribadi yang ma‘shum (terjaga). Jika terjadi kekeliruan, Allah langsung membimbing dan meluruskannya. Maka mengikuti Rasul berarti mengikuti kebenaran yang dijamin oleh wahyu. Dalam aspek ‘ubudiyah, yang wajib harus ditegakkan dengan penuh kesungguhan. Dalam muamalah, sunnah pun tetap memiliki nilai besar di sisi Allah. Seluruh ibadah mahdhah harus sesuai tuntunan Rasul.
Sebab dalam hadis sabda Rasulullah ﷺ:
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Artinya: “Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak sesuai dengan perintah (ajaran) kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)
Hadis ini menjadi kaidah penting dalam Islam bahwa setiap ibadah dan amalan harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ. Tanpa kesesuaian dengan sunnah, amal tersebut tidak diterima.
Kita mungkin mampu menjaga yang wajib, tetapi bagaimana dengan yang sunnah? Istiqamah adalah ujian terbesar. Manusia sering lalai, malas, bahkan lupa. Maka istighfar menjadi kebutuhan. Rasulullah ﷺ beristighfar tidak kurang dari 70 kali dalam sehari semalam. Lalu bagaimana dengan kita? Karena cinta kepada Allah harus tampak dalam perkataan dan perbuatan. Dalam Islam, perkataan pun termasuk perbuatan hukum. Ucapan, sikap, dan tindakan semuanya bernilai ibadah jika sesuai syariat.
Kita harus menjaga etika, akhlak, syariat, dan metode. Sebab kebenaran materi (maddah) tidak akan sampai bila metode penyampaiannya salah. Dalam dakwah, ilmu saja tidak cukup; perlu hikmah, kelembutan, dan kebijaksanaan. Ilmu yang tidak disertai keluwesan dan kehalusan budi dapat menjadi kaku. Dakwah harus disampaikan dengan santun, penuh perasaan, berakhlak, dan bijaksana. Allah sendiri memerintahkan berdakwah dengan hikmah dan nasihat yang baik.
Sebagian ulama mengatakan bahwa yang terpenting bukan sekadar kita mencintai Allah, tetapi bagaimana kita dicintai oleh Allah. Ayat di atas menegaskan: jika kita mengikuti Rasul, Allah akan mencintai kita. Dicintai Allah adalah anugerah terbesar. Buahnya adalah ketenangan hati, kelapangan jiwa, dan keberkahan hidup. Itu bukan sekadar ucapan, tetapi kenyataan yang dirasakan. Ukuran cinta kita kepada Allah terlihat dari bagaimana kita menaati-Nya. Dan ukuran dicintai Allah tampak dari limpahan rahmat dan ampunan-Nya dalam hidup kita.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi no. 3895, Ibnu Majah no. 1977; dinyatakan hasan shahih oleh Imam Tirmidzi)
Hadis ini menegaskan bahwa ukuran kebaikan seseorang tidak hanya dilihat dari ibadah ritualnya, tetapi juga dari sikap dan akhlaknya kepada keluarga. Cinta karena Allah harus dimulai dari lingkungan terdekat: pasangan, anak-anak, dan anggota keluarga lainnya. Jika seseorang mampu berakhlak lembut, sabar, dan penuh kasih kepada keluarganya, maka itulah bukti nyata keimanan dan kecintaannya kepada Allah.
Jika kita belum mampu mencintai dengan sempurna, belajarlah mencintai karena Allah. Ketulusan akan melahirkan kasih sayang yang Allah tumbuhkan di dalam hati.
Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَىٰ مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَىٰ لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Artinya: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586)
Cinta sosial dalam Islam bukanlah sekadar romantisme atau perasaan sesaat, melainkan solidaritas dan empati yang nyata. Ketika satu saudara mengalami kesulitan, yang lain ikut merasakan, peduli, dan berusaha membantu. Inilah wujud cinta karena Allah yang melahirkan kepedulian, persatuan, dan kekuatan umat. Ketika cinta karena Allah tumbuh, kekurangan tidak lagi menjadi alasan kebencian. Kekurangan tertutup oleh ketulusan. Hati menjadi lembut, prasangka membaik, dan ukhuwah semakin kuat. Mencintai Allah bukan sekadar ucapan, melainkan komitmen untuk mengikuti Rasul-Nya. Cinta yang sejati melahirkan ketaatan, keikhlasan, dan istiqamah.
Jika kita ingin belajar ikhlas, belajarlah mencintai karena Allah. Jika kita ingin dicintai Allah, ikutilah Rasul-Nya. Dan ketika cinta itu telah tulus, Allah akan mengampuni dosa-dosa kita serta melimpahkan kasih sayang-Nya. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang tidak hanya mengaku mencintai Allah, tetapi benar-benar dicintai oleh-Nya.



