Dr. KH. Soleh Rosyad, (Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima)
- Tadabbur Surah Al-Baqarah Ayat 261
Islam mengajarkan bahwa keberkahan hidup tidak diukur dari seberapa banyak harta yang kita kumpulkan, melainkan dari seberapa besar manfaat yang kita tebarkan. Salah satu jalan utama untuk meraih keberkahan tersebut adalah melalui infaq dan wakaf.
Keduanya bukan sekadar amalan sosial, tetapi bentuk nyata dari keimanan dan ketundukan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala menggambarkan dahsyatnya nilai infaq dan wakaf dalam Surah Al-Baqarah ayat 261:
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Ayat ini menghadirkan gambaran yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyerupakan infaq di jalan-Nya seperti menanam satu biji. Dari satu biji itu tumbuh tujuh tangkai, dan setiap tangkai menghasilkan seratus biji. Artinya, satu kebaikan bisa berkembang menjadi tujuh ratus kebaikan. Bahkan Allah menegaskan, pelipatgandaan ini masih bisa bertambah sesuai kehendak-Nya.
Konsep ini sangat selaras dengan makna wakaf. Ketika seseorang “menanam” seribu rupiah di jalan Allah, bukan mustahil nilainya berkembang menjadi ratusan ribu. Ketika seseorang menanam satu juta, Allah mampu melipatgandakannya menjadi ratusan juta dalam bentuk manfaat, pahala, dan keberkahan yang terus mengalir.
Inilah logika langit, bukan logika untung-rugi dunia. Prinsip ini juga tercermin di malam Lailatul Qadar. Shalat dua rakaat pada malam tersebut nilainya lebih baik dari seribu bulan. Apa yang sedikit di mata manusia, menjadi luar biasa dalam timbangan Allah. Karena itu, infaq, sedekah, dan wakaf bukanlah pengurangan, melainkan investasi akhirat.
Budaya wakaf inilah yang harus terus kita hidupkan dan sosialisasikan kepada umat. Di tengah berbagai tantangan bangsa, potensi wakaf sejatinya mampu menjadi solusi besar. Ketika umat diberdayakan, kita tidak mudah ditekan oleh kekuatan besar dari luar. Dengan melahirkan kader-kader umat yang kuat secara ilmu, iman, dan ekonomi, jalan menuju keberhasilan akan terbuka.
Sejarah mencatat Universitas Al-Azhar di Mesir bertahan ratusan tahun dan pernah membantu negara saat krisis melalui kekuatan wakafnya. Ini adalah bukti nyata bahwa wakaf bukan sekadar teori, melainkan kekuatan peradaban, (Lihat: Wakaf Mandiri,2025).
Prinsip inilah yang juga menjadi ruh wakaf. Wakaf adalah amal yang menahan pokok harta dan mengalirkan manfaatnya secara terus-menerus. Ketika seseorang mewakafkan hartanya, ia sejatinya sedang menanam kebaikan jangka panjang. Harta boleh berhenti di tangan manusia, tetapi pahala wakaf terus mengalir meskipun pelakunya telah meninggalkan dunia.
Infaq membersihkan harta dan jiwa, sedangkan wakaf membangun peradaban. Banyak lembaga-lembaga besar, seperti masjid, pesantren, rumah sakit, hingga pusat pendidikan, berdiri dan bertahan berabad-abad berkat kekuatan wakaf.
Namun, infaq dan wakaf tidak selalu berbentuk materi. Waktu yang kita luangkan untuk kebaikan, tenaga yang kita curahkan dengan ikhlas, pikiran yang kita sumbangkan untuk kemaslahatan, serta ilmu yang kita ajarkan kepada orang lain, semuanya dapat bernilai infaq dan wakaf jika diniatkan karena Allah.
Seorang guru yang mengajarkan ilmu dengan ikhlas, lalu ilmunya diamalkan dan diajarkan kembali, sejatinya sedang melakukan wakaf ilmu yang pahalanya tidak terputus. Amalan ini hanya bernilai di sisi Allah jika dilandasi dengan keikhlasan. Infaq dan wakaf bukan sarana untuk mencari pujian, apalagi kebanggaan duniawi. Allah Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati. Ketika niat lurus karena Allah, maka sedikit terasa cukup, dan yang kecil menjadi besar.
Dalam kehidupan sehari-hari, budaya infaq dan wakaf seharusnya menjadi gaya hidup baru—new lifestyle Bukan menunggu kaya untuk memberi, tetapi memberi agar hidup menjadi berkah. Tradisi gotong royong, saling membantu, dan peduli terhadap sesama adalah bentuk nyata wakaf dalam kehidupan sosial yang perlu terus dijaga dan diwariskan.
Infaq memperbaiki hubungan kita dengan sesama manusia, sementara wakaf memperkuat kontribusi kita bagi umat dan generasi mendatang. Ketika hubungan vertikal dengan Allah terjaga melalui shalat dan ibadah, serta hubungan horizontal dengan manusia disempurnakan melalui memberi, maka keseimbangan hidup akan tercapai.
Pada akhirnya, keberkahan hidup lahir dari kesadaran bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan Allah. Harta, waktu, dan kemampuan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Dengan infaq dan wakaf, kita belajar untuk tidak terikat pada dunia, sekaligus menanam bekal untuk kehidupan akhirat.
Namun, wakaf harus dimulai dari diri sendiri. Jangan sampai kita rajin mengajak orang lain berwakaf, sementara kita sendiri tidak melakukannya. Setiap amal yang dilakukan karena Allah tidak akan pernah sia-sia. Kita perlu melatih diri untuk tidak egois dan kikir, baik dalam harta, tenaga, maupun pikiran. Semua yang kita miliki sejatinya hanyalah titipan Allah.
Rahmat Allah sangat luas, tugas kita adalah memurnikan ketaatan hanya kepada Allah, menjauhkan diri dari syirik, dan menjaga keikhlasan. Indikator keberagamaan yang lurus adalah ketika hidup kita tidak menyimpang dari tuntunan Allah.
Setiap keluarga memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Ada yang diberi kelapangan harta, ada pula yang hidup sederhana. Namun, kesederhanaan bukan alasan untuk berhenti memberi. Di pesantren dahulu, budaya gotong royong, saling membantu, dan berbagi sudah menjadi tradisi.
Itulah wakaf dalam bentuk kehidupan nyata, yang harus terus kita hidupkan. Dalam menghadapi persoalan hidup, jalan terbaik adalah kembali kepada Allah. Shalat adalah pintu utama untuk menghadap-Nya. Shalat lima waktu, shalat berjamaah, dan shalat tahajjud adalah sarana kita menyelesaikan urusan hidup. Jika kita ingin masalah kita selesai, maka hadapkanlah masalah itu langsung kepada Allah melalui shalat, lalu iringilah dengan doa yang sungguh-sungguh dan penuh keyakinan.
Mendirikan shalat akan memperbaiki hubungan vertikal kita dengan Allah, sedangkan zakat, infak, dan sedekah memperbaiki hubungan horizontal kita dengan sesama manusia.
Urusan dengan Allah diselesaikan dengan ketundukan, dan urusan dengan manusia diselesaikan dengan memberi. Apabila hubungan vertikal dan horizontal ini terjaga dan selaras, maka kemenangan akan datang, sebagaimana firman Allah: قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ — sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman.
Generasi muda yang memiliki mimpi besar harus menata hidupnya dengan kontribusi nyata. Hikmah bukan hanya dipahami, tetapi harus dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Jika kita merasa sudah berhikmah tetapi tidak memberi pengaruh, maka mungkin ada yang perlu diluruskan dalam niat dan cara kita.
Setelah membaca, belajar, dan mengamalkan ilmu, pertanyaan terpenting adalah: apakah semua itu kita lakukan dengan ikhlas? Dalam berkhidmah, totalitas dan keikhlasan adalah kunci. Allah Maha Mengetahui isi hati, dan rahmat-Nya diberikan sesuai ketulusan niat hamba-Nya.
Bayangkan, oksigen yang kita hirup setiap hari, jika dinilai dengan ukuran dunia nilainya bisa mencapai miliaran rupiah. Belum lagi gravitasi bumi dan sistem kehidupan lainnya. Semua itu Allah berikan secara gratis. Maka, di hadapan Allah, kita semua sama: hamba yang lemah dan fakir. Jalan agar tidak menjadi hina adalah dengan syukur yang dibuktikan melalui ketaatan.
Marilah kita merenungi kelalaian yang sering kita alami. Antara sadar dan lalai, di situlah letak kebaikan. Jika kita lalai namun sadar, itu masih rahmat. Namun jika lalai dan tidak merasa lalai, itulah bahaya. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang sadar, bersyukur, gemar memberi, dan istiqamah menanam kebaikan di jalan-Nya. (Tim Redaksi)



