Tauhid sebagai Jalan Hidup

Dr. KH. Soleh Rosyad,
Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima

Tadabbur Surat Yusuf: 108

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Artinya: “Katankanlah (Muhammad), inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)

Ayat ini menegaskan kewajiban dakwah. Perintah ini memang ditujukan kepada Rasulullah, tetapi sekaligus mengikat siapa pun yang mengikutinya. Maka siapa pun kita, apa pun profesinya, tidak pernah lepas dari kewajiban menyeru kepada Allah. Inilah jalan Nabi, dan jalan itu harus menjadi jalan para pengikutnya.

Maksud ayat ini adalah Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk menyeru jin dan manusia, mengajak mereka kepada jalan agama Allah, kepada tata cara hidup yang sesuai dengan sunnah-sunnah-Nya, dan kepada kalimat yang paling mulia: Asyhadu an lā ilāha illallāh, wa asyhadu anna Muḥammadan Rasūlullāh. Artinya: “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Kalimat inilah poros kehidupan. Ia menjadi sandaran seluruh makhluk. Selama kalimat tauhid ini tegak, dunia masih berdiri. Jika tauhid tercabut, maka hancurlah tatanan kehidupan. Tauhid adalah perekat kehidupan, ketika manusia lepas dari tauhid, ikatan itu pun terlepas dengan sendirinya.

Kalau kita bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, itu bukan sekadar ucapan lisan, tetapi pengakuan yang total dalam hati dan pembenaran dalam amal. Kita mengakui Allah sebagai Rabb, sebagai satu-satunya yang mencipta, mengatur, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan.

Kita juga mengakui bahwa hanya Dia yang berhak disembah, tidak ada satu pun yang layak menerima ibadah sekecil apa pun selain-Nya. Dan kita menetapkan bagi-Nya nama-nama yang indah serta sifat-sifat yang sempurna, tanpa menyerupakan dengan makhluk dan tanpa menolak apa yang telah ditetapkan-Nya.

Para ulama menjelaskan bahwa kandungan syahadat mencakup tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma wa sifat. Rububiyah adalah keyakinan bahwa Allah adalah Rabbul ‘alamin, Pencipta, Pemilik, dan Pengatur seluruh alam semesta. Tidak ada satu kejadian pun di langit dan di bumi yang keluar dari kehendak dan kekuasaan-Nya. Namun realitanya, banyak orang mengakui Allah sebagai Pencipta dan Pengatur, tetapi belum mentauhidkan-Nya dalam ibadah. Mereka mengakui rububiyah-Nya, tetapi belum menunaikan konsekuensi uluhiyah-Nya.

Di sinilah letak pentingnya tauhid uluhiyah, yaitu mengesakan Allah dalam seluruh bentuk ibadah. Bukan hanya dalam shalat dan puasa, tetapi juga dalam doa, cinta, takut, tawakal, dan seluruh ketundukan hati. Karena inti syahadat bukan hanya meyakini bahwa Allah itu ada dan berkuasa, tetapi memastikan bahwa seluruh ibadah lahir dan batin hanya tertuju kepada-Nya semata.

Coba kita renungkan dengan hati yang jernih, tidak ada yang membuat kita bisa duduk di tempat ini kecuali Allah. Tidak ada yang menggerakkan kaki kita melangkah, tidak ada yang menenangkan hati kita untuk hadir, kecuali karena kehendak-Nya.

Air yang kita minum, yang mengalir dari gelas lalu masuk ke tenggorokan, turun ke perut, memberi manfaat bagi tubuh, itu semua tidak terjadi dengan sendirinya. Tidak ada yang menjadikannya bermanfaat kecuali Allah. Tidak ada yang memberi sakit kecuali Allah, dan tidak ada pula yang menyembuhkan kecuali Allah. Kesadaran seperti ini, jika benar-benar kita hadirkan dalam hati, akan menguatkan tauhid, menumbuhkan tawakal, dan melahirkan ketundukan yang tulus kepada-Nya.

Kemudian asma dan sifat. Allah memiliki nama-nama yang indah, yang kita kenal dengan Asmaul Husna.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang menghafal, memahami, serta mengamalkannya, maka ia akan memperoleh keutamaan yang besar dari Allah SWT, yaitu masuk surga. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

Artinya: “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang menghafalnya, maka ia akan masuk surga” (HR. Bukhari dan Muslim.).

Namun para ulama menjelaskan bahwa nama dan sifat Allah tidak terbatas pada angka tersebut; itu adalah nama-nama yang khusus memiliki keutamaan tertentu, sementara hakikat kesempurnaan Allah tidak terbatasi oleh bilangan.

Sifat-sifat Allah sangat luas dan sempurna, tidak dapat dijangkau sepenuhnya oleh akal manusia. Karena itu Allah memerintahkan kita berdoa dengan menyebut nama-nama-Nya, sebab dalam setiap nama terkandung sifat yang agung. Di kalangan Ahlussunnah wal Jama‘ah, dikenal dan dipelajari untuk menjaga kemurnian akidah, agar keyakinan kita lurus dan tidak menyimpang.

Maka siapa pun kita, tidak bisa lepas dari dakwah. Kita harus menyeru kepada Allah dengan bashirah, dengan kejelasan hujjah, dengan dalil yang kuat, baik dalil ‘aqli maupun dalil syar‘i. Kita menyeru kepada apa yang diserukan Rasulullah, yaitu Islam, dengan keyakinan yang mantap, dengan argumentasi yang benar, dan dengan akhlak yang mulia. Allah Maha Suci dari segala bentuk sekutu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Seluruh langit dan bumi bertasbih kepada-Nya, dan tidak ada satu makhluk pun kecuali memuji-Nya, meskipun kita tidak memahami bagaimana tasbih mereka.

Dari ayat ini kita memahami bahwa sebagai pengikut Rasulullah kita memikul taklif untuk berdakwah dalam bentuk apa pun. Dakwah bukan hanya dengan lisan, tetapi juga dengan perbuatan, dengan keteladanan, dengan akhlak, bahkan dengan tarbiyah. Mendidik generasi adalah bagian dari dakwah dalam bentuk persiapan (i‘dad). Agar mereka siap secara ilmu, iman, dan akhlak.

Dalam berdakwah dibutuhkan hikmah, strategi, dan pendekatan yang tepat. Kita harus mampu membaca siapa yang kita ajak bicara: kadar akalnya, kadar ilmunya, usianya, latar belakangnya, dan kondisi jiwanya. Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Pendekatan sangat menentukan keberhasilan perjuangan.

Jangan memutlakkan satu cara untuk semua keadaan. Substansinya tetap satu, yaitu tauhid dan ketaatan kepada Allah, tetapi cara penyampaian bisa variatif dan dinamis, menyesuaikan keadaan masing-masing. Dakwah harus dilakukan dengan kelembutan, kesantunan, dan mau‘izhah hasanah, agar hati terbuka, pesan tersampaikan, dan kita bukan hanya diterima, tetapi juga mampu menerima mereka dengan lapang dada. (Tim Redaksi Pondok Pesantren Kun Karima)

 

Bagikan Kegiatan Ini!

Facebook
WhatsApp
Email
X

Kegiatan Lainnya