Kategori: News

  • Perkuat Silaturahmi Kebangsaan, FSPP Banten Hadiri Buka Puasa Bersama Ketua MPR RI dan Kepala BIN RI

    Perkuat Silaturahmi Kebangsaan, FSPP Banten Hadiri Buka Puasa Bersama Ketua MPR RI dan Kepala BIN RI

    Jakarta– Ketua Presidium FSPP Banten, Dr. KH. Soleh, M.M., menghadiri undangan buka puasa bersama di rumah dinas Ketua MPR RI, Senin (24/02/26). Kegiatan tersebut digelar dalam suasana hangat dan penuh keakraban sebagai ajang silaturahmi antara ulama dan para pejabat negara.

    Pondok Pesantren Kun Karima, Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima

    Acara ini dihadiri langsung oleh Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, serta Kepala BIN RI, Muhammad Herindra. Sejumlah kiai dan pimpinan pondok pesantren dari berbagai daerah, turut hadir bersama perwakilan organisasi dan elemen masyarakat lainnya.

    Buka puasa bersama tersebut bertujuan mempererat hubungan antara ulama dan umara dalam rangka memperkuat sinergi kebangsaan. Dalam sambutannya, Ahmad Muzani menyampaikan bahwa momentum Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat silaturahmi dan kebersamaan.

    “Momen yang baik di bulan baik saya silaturahmi dan buka bersama dengan para pimpinan pondok pesantren se-Jawa Tengah dan Jawa Timur serta para kyai sepuh. Alhamdulillah silaturahmi berjalan lancar dan penuh kebersamaan,” ujar Ahmad Muzani.

    Dalam kesempatan itu, ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara ulama dan pemerintah dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa, mulai dari persoalan sosial, dinamika politik, hingga perubahan global. Menurutnya, ulama memiliki peran strategis dalam menjaga nilai dan moral bangsa, sementara pemerintah bertanggung jawab dalam aspek kebijakan dan tata kelola negara.

    Selain itu, diskusi yang berkembang turut menyinggung visi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Sinergi yang kuat antara pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci dalam membangun ketahanan ideologis, stabilitas nasional, serta menyiapkan generasi unggul yang berkarakter.

    Pondok Pesantren Kun Karima, Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima

    “Untuk itu saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh pimpinan pondok pesantren dan para kyai yang sudah hadir sore ini. Insya Allah perjuangan kita untuk Indonesia lebih baik akan membuahkan hasil untuk masyarakat,” pungkasnya.

    Pondok Pesantren Kun Karima, Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima

    Sementara itu, Ketua Presidium FSPP Banten, Dr. KH. Soleh, M.M., menyampaikan bahwa kegiatan buka puasa bersama ini menjadi momentum konsolidasi nilai dan komitmen kebangsaan. Ia berharap silaturahmi tersebut dapat memperkuat persatuan serta kerja sama dalam menyongsong Indonesia 2045 dengan fondasi moral dan visi kenegaraan yang kokoh.

    (Sumber: FSPP Provinsi Banten)

  • Awali Semester Baru, Pondok Pesantren Kun Karima Gelar Kumpul Perdana

    Awali Semester Baru, Pondok Pesantren Kun Karima Gelar Kumpul Perdana

    Kun Karima — Pondok Pesantren Kun Karima menggelar kegiatan Kumpul Perdana Pasca Libur Semester Ganjil dan Apresiasi Santri Teladan Yang Pertama Tiba Ke Pondok, pada hari Sabtu, 10 Januari 2026, bertempat di Aula Pondok Pesantren Kun Karima. Kegiatan ini wajib diikuti oleh seluruh santri dan asatidz sebagai langkah awal mengawali kembali aktivitas kepesantrenan setelah masa libur semester.

    Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengembalikan semangat dan motivasi santri dalam belajar, meningkatkan kembali komitmen dalam mengikuti seluruh kegiatan pondok, serta meneguhkan disiplin dan memperbaharui niat santri dalam Tholabul ‘Ilmi. Selain itu, dalam acara ini juga para santri yang pertama datang ke pondok diberikan apresiasi sebagai santri teladan, agar menjadi contoh untuk santri lainnya.

    Dalam suasana yang khidmat dan tertib, para santri mengikuti kegiatan dengan penuh perhatian. Mereka tampak fokus mendengarkan nasihat dari Bapak Pimpinan Pondok, bahkan mencatat poin-poin penting yang disampaikan sebagai bekal motivasi dalam menjalani kegiatan ke depan.

    Pada kesempatan tersebut, Bapak Pimpinan Pondok menyampaikan pesan yang sarat makna kepada seluruh santri,

    “Tidak ada kesuksesan tanpa perjuangan dan tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan.”

    Pesan ini diharapkan mampu menjadi penyemangat dan pengingat bagi seluruh santri agar senantiasa bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, menjaga adab, serta istiqamah dalam menjalani kehidupan pesantren.

    Melalui kegiatan ini, Pondok Pesantren Kun Karima berharap seluruh santri dapat memulai semester baru dengan semangat baru, niat yang lurus, serta tekad kuat untuk meraih keberkahan ilmu dan akhlak mulia.

     

    Tim Redaksi Pondok Pesantren Kun Karima

  • Pondok Pesantren Kun Karima Bekali Santri Akhir Kelas 6 Guna Mengarungi Kegiatan Amaliyah Tadris

    Pondok Pesantren Kun Karima Bekali Santri Akhir Kelas 6 Guna Mengarungi Kegiatan Amaliyah Tadris

    Pondok Pesantren Kun Karima menyelenggarakan kegiatan Pembekalan Amaliyah Tadris (Teaching Practice) bagi seluruh santri akhir kelas 6 sebagai persiapan sebelum pelaksanaan praktik mengajar. Kegiatan ini berlangsung selama empat hari, mulai 30 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026, bertempat di Aula Pondok Pesantren Kun Karima.

    Kegiatan pembekalan tersebut diikuti oleh seluruh santri akhir kelas 6 dengan pendampingan langsung dari Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima, Al-Ustadzah Ernawati Sulhatul Imamah, M.Pd., serta para musyrif selaku pembimbing dari masing-masing kelompok mata pelajaran. Selama kegiatan berlangsung, santri menunjukkan antusiasme dan kesungguhan sebagai bentuk kesiapan dalam mengemban amanah praktik mengajar.

    Pembekalan Amaliyah Tadris ini diselenggarakan dengan tujuan memberikan penguatan pemahaman metodologi pengajaran, kesiapan mental, kedisiplinan, serta tanggung jawab moral kepada santri. Melalui kegiatan ini, santri diharapkan mampu melaksanakan tugas mengajar secara sistematis, komunikatif, dan bertanggung jawab, sekaligus menjunjung tinggi nilai-nilai keilmuan dan akhlak kepesantrenan.

    Rangkaian kegiatan pembekalan disusun secara terstruktur. Kegiatan diawali dengan Al-Muhadhoroh Al-‘Aammah sebagai sarana penguatan mental dan keberanian tampil di hadapan publik. Selanjutnya, santri menerima pengarahan umum terkait teknis dan etika Amaliyah Tadris, dilanjutkan dengan pembekalan materi ajar serta praktik penyampaian pelajaran. Seluruh rangkaian ini dirancang untuk melatih kemampuan komunikasi, penguasaan kelas, serta ketepatan metode dalam menyampaikan materi pembelajaran.

    Dalam arahannya, Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima menegaskan bahwa Amaliyah Tadris bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan bagian penting dari proses pembentukan karakter pendidik pesantren. Menurutnya, seorang santri yang mengajar tidak hanya dituntut menguasai materi, tetapi juga mampu menjadi teladan dalam sikap, adab, dan integritas.

    “Amaliyah Tadris adalah media pengabdian ilmu. Santri harus mengajar dengan niat ibadah, menjaga akhlak, serta bertanggung jawab atas ilmu yang disampaikan,” tegasnya.

    Melalui kegiatan pembekalan ini, Pondok Pesantren Kun Karima berharap santri akhir kelas 6 memiliki bekal yang matang, baik secara keilmuan, mental, maupun spiritual, sehingga mampu melaksanakan Amaliyah Tadris secara optimal. Lebih dari itu, santri diharapkan dapat tampil sebagai duta pesantren yang membawa nilai-nilai keislaman, keilmuan, dan keteladanan di tengah masyarakat.

     

    Tim Redaksi Pondok Pesantren Kun Karima

  • IKPM Banten Tampil Solid di 100 Tahun Gontor: Dr. KH Soleh Rosyad Dampingi Kontingen Banten dalam Ajang Persaudaraan dan Silaturahmi

    IKPM Banten Tampil Solid di 100 Tahun Gontor: Dr. KH Soleh Rosyad Dampingi Kontingen Banten dalam Ajang Persaudaraan dan Silaturahmi

    Ponorogo, 26 Oktober 2025 — Dalam rangka memperingati 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, kegiatan akbar  “Turnamen Olahraga Antar PC IKPM Se-Dunia” digelar dengan meriah di Kampus Pusat Gontor, Ponorogo, pada tanggal 23–26 Oktober 2025.

    Turut hadir dalam momentum bersejarah ini, Dr. KH Soleh Rosyad, S.Ag., M.M, Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima Pandeglang sekaligus Ketua Umum IKPM Gontor Wilayah Banten, yang turut mendampingi kontingen IKPM Banten dalam ajang olahraga dan persahabatan antaralumni.

    IKPM Banten Tampil Solid di Tiga Cabang Olahraga

    Dalam perhelatan tersebut, kontingen IKPM Banten ikut serta dalam tiga cabang olahraga, yakni sepak bola, futsal, dan basket.
    Kekompakan dan semangat ukhuwah islamiyah menjadi kekuatan utama tim IKPM Banten selama pertandingan berlangsung.

    Menariknya, IKPM Banten berhasil melaju hingga babak final cabang sepak bola, menghadapi IKPM Surabaya dalam laga yang berlangsung sengit.
    Pertandingan berakhir dengan skor 1–1 pada waktu normal, dan dilanjutkan dengan adu penalti yang akhirnya dimenangkan oleh IKPM Surabaya dengan skor 4–3.

    Meski belum berhasil membawa pulang gelar juara, semangat sportivitas dan kebersamaan tetap menjadi sorotan utama dari perjuangan tim Banten.

    Pesan Ketum IKPM Banten: “Bahagia Menjadi Bagian dari Sejarah 100 Tahun Gontor”

    Usai pertandingan final, Dr. KH Soleh Rosyad, S.Ag., M.M menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya kepada seluruh anggota kontingen IKPM Banten yang telah berjuang dengan penuh semangat dan menjunjung nilai sportivitas.

    “Bagi kami menang dan kalah adalah hal biasa. Tapi kami, IKPM Banten, bahagia karena sudah merupakan bagian dari sejarah 100 tahun Gontor,”
    ujar Dr. KH Soleh Rosyad dengan penuh haru dan rasa syukur.

    Beliau menambahkan, kemenangan sejati bukan hanya di lapangan, tetapi pada rasa persaudaraan dan semangat perjuangan yang terus menyala di dada para alumni Gontor di seluruh penjuru negeri.

    Silaturahmi dan Ziarah: Menguatkan Spirit Gontor

    Selain mendampingi kontingen, KH Soleh Rosyad juga menjalani rangkaian kegiatan silaturahmi kepada para pimpinan Gontor.
    Dalam kunjungan tersebut, beliau bersilaturahmi kepada KH Hasan Abdullah Sahal, salah satu Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih atas bimbingan para guru besar Gontor yang telah mewariskan nilai keikhlasan dan perjuangan dalam dunia pendidikan Islam.

    Tak hanya itu, beliau juga berkesempatan ziarah ke makam Anom Besari dan leluhur Trimurti Pendiri Pondok Modern Gontor — KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi — sebagai wujud penghormatan dan doa atas perjuangan besar mereka dalam membangun peradaban pesantren modern di Indonesia.

    Menjadi Bagian dari Sejarah Besar Gontor

    Momentum peringatan 100 tahun Gontor bukan sekadar ajang nostalgia, tetapi juga menjadi pengingat akan peran besar Gontor dalam membangun peradaban Islam di Indonesia dan dunia.
    Kehadiran IKPM Banten dalam ajang ini menjadi bukti nyata bahwa semangat “Berdiri di atas dan untuk semua golongan” tetap terjaga hingga kini.

    “Kami pulang bukan hanya membawa pengalaman, tapi juga membawa semangat baru untuk terus berkhidmat bagi umat dan bangsa, sesuai nilai-nilai Gontor,”
    tutup KH Soleh Rosyad.


    “Ketua IKPM Gontor Banten, Dr. KH Soleh Rosyad, S.Ag., M.M. (Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima Pandeglang), bersama kontingen Banten dalam peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo (23–26 Oktober 2025).”

    Tim Redaksi Pondok Pesantren Kun Karima

     

    Sumber : gontor.ac.id

  • Pasukan Paskibra Santri Pondok Pesantren Kun Karima Sukses Jalankan Tugas pada Apel Akbar Hari Santri Nasional ke-10 Kabupaten Pandeglang

    Pasukan Paskibra Santri Pondok Pesantren Kun Karima Sukses Jalankan Tugas pada Apel Akbar Hari Santri Nasional ke-10 Kabupaten Pandeglang

    Pandeglang, 22 Oktober 2025 — Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) Santri Pondok Pesantren Kun Karima berhasil menjalankan tugasnya dengan penuh disiplin dan khidmat pada Apel Akbar Hari Santri Nasional (HSN) ke-10 tingkat Kabupaten Pandeglang, yang digelar pada Rabu, 22 Oktober 2025.
    Kegiatan yang mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia”

    Acara tersebut dihadiri oleh ribuan santri, para ulama, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Pandeglang. Kehadiran para santri dari berbagai pesantren mencerminkan semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap tanah air.

    Peringatan Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober merupakan bentuk penghormatan terhadap jasa dan pengorbanan para santri dan ulama yang berperan besar dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.

    Pesan dari Wakil Gubernur Banten

    Dalam amanatnya pada Apel Akbar Hari Santri Nasional ke-10 yang berlangsung di Alun-Alun Pandeglang, Wakil Gubernur Banten, H. Dimyati Natakusumah, menjelaskan, tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional karena bertepatan dengan lahirnya resolusi jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945.Dalam sejarah perjuangan bangsa, para santri berada di garda terdepan dalam merebut kemerdekaan Republik Indonesia.

    “Peringatan Hari Santri Nasional, tujuannya untuk menghargai, memperkuat, mempererat, dan meneladani,” ucapnya.

    Menurut Wagub Banten, para santri bukan hanya belajar agama, tetapi juga menanamkan nilai cinta tanah air. Peringatan Hari Santri Nasional dibuat untuk menghargai para santri. Pada saat kemerdekaan yang terdepan adalah para santri. Para santri bukan hanya belajar agama tapi juga bagaimana mencintai tanah air. Antara agama dan nasionalisme tidak bertentangan, saling ketergantungan. Negara yang hebat dan besar harus beragama,” ujarnya

     

    Baca Juga : Pagelaran Seni Panggung Gembira, Warnai Malam di Pondok Pesantren Kun Karima

     

    Wakil Gubernur Banten, turut memberikan apresiasi kepada seluruh santri di Banten, atas dedikasi dan kontribusinya dalam menyukseskan peringatan Hari Santri Nasional tahun 2025.

    Selain itu, Wagub Banten juga menekankan kepada santri pentingnya menjaga sopan santun dan menghormati guru serta kepala sekolah sebagai bagian dari pembentukan karakter pelajar yang berakhlak dan beretika. “Anak-anak tidak boleh melawan guru maupun kepala sekolah. Harus patuh, taat, dan belajar menghargai gurunya,” Wagub menyoroti perlunya penegakan disiplin dan penguatan aturan dimadrasah dan Pondok Pesantren. Ujarnya.

    Apresiasi Bupati Pandeglang Dalam Sambutanya

    Bupati Pandeglang, Ibu R. Dewi Setiani, S.Sos., M.A., menyampaikan apresiasi dan rasa bangga kepada seluruh peserta apel, khususnya kepada Pasukan Paskibra Santri Pondok Pesantren Kun Karima, yang telah menampilkan kedisiplinan, kekompakan, dan tanggung jawab tinggi dalam menjalankan tugas pengibaran bendera merah putih.

    “Saya menyampaikan terima kasih kepada santri Pondok Pesantren Kun Karima yang telah mengibarkan bendera merah putih. ujar Bupati Pandeglang dalam sambutannya.

    Bupati juga berharap agar para santri di Kabupaten Pandeglang terus berperan aktif dalam mengisi kemerdekaan melalui berbagai karya nyata, baik di bidang pendidikan, sosial, maupun pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, santri adalah potret generasi penerus bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual.

     

    Tim Redaksi Pondok Pesantren Kun Karima

    Tim Media Pondok Pesantren Kun Karima

  • Pagelaran Seni Panggung Gembira, Warnai Malam di Pondok Pesantren Kun Karima

    Pagelaran Seni Panggung Gembira, Warnai Malam di Pondok Pesantren Kun Karima

    Pandeglang, 12 Oktober 2025 — Dalam rangka mempererat ukhuwah Islamiyah dan menggali potensi santri, Pondok Pesantren Kun Karima menyelenggarakan Pagelaran Seni “Panggung Gembira pada Ahad malam, 12 Oktober 2025. Kegiatan berlangsung di aula utama pesantren dengan penuh semarak dan antusiasme dari para santri, dewan pengurus, serta para tamu undangan.

    Acara tahunan ini menampilkan beragam pertunjukan seni bernuansa Islami seperti hadrah, drama religi, pembacaan puisi, tari tradisional, nasyid, dan berbagai penampilan kreatif lainnya hasil karya para santri. Setiap penampilan mencerminkan semangat keislaman, kebersamaan, dan kecintaan terhadap seni budaya.

    Menurut panitia penyelenggara, kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan bakat dan kreativitas santri di bidang seni Islami, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri, tanggung jawab, dan solidaritas antar-santri.

    Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima, dalam sambutannya, menyampaikan apresiasi atas kerja keras para santri dan pengurus dalam mempersiapkan acara tersebut.

    “Seni bukan sekadar hiburan, tetapi juga media dakwah dan pendidikan karakter. Melalui kegiatan seperti ini, santri belajar bekerja sama, berani tampil, dan menyalurkan potensi positifnya,” ujar Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima, Dr. K.H. Soleh, S.Ag., M.M.

    Suasana malam itu semakin meriah dengan gemerlap cahaya lampu dan dekorasi bernuansa Islami yang menghiasi panggung. Para wali santri dan alumni turut hadir memberikan dukungan dan semangat kepada para peserta.

     

    Baca Juga : Cahaya Santri: Perjalanan Inspiratif dari Desa

     

    Pagelaran Seni Panggung Gembira kini menjadi agenda tahunan yang selalu dinantikan di Pondok Pesantren Kun Karima. Selain sebagai ajang hiburan, kegiatan ini menjadi wadah ekspresi dan apresiasi santri atas berbagai kegiatan pembelajaran serta pengembangan diri selama satu tahun penuh.

     

    Tim Redaksi Pondok Pesantren Kun Karima

    Tim Media Pondok Pesantren Kun Karima

  • Pimpinan Ponpes Kun Karima Pimpin Aduan FSPP Banten ke KPID: Tuntut Trans7 Bertanggung Jawab atas Tayangan Xpose Uncensored

    Pimpinan Ponpes Kun Karima Pimpin Aduan FSPP Banten ke KPID: Tuntut Trans7 Bertanggung Jawab atas Tayangan Xpose Uncensored

    Banten, 16 Oktober 2025 — Gelombang protes terhadap program Xpose Uncensored yang ditayangkan Trans7 terus meluas. Setelah menuai kritik dari berbagai kalangan pesantren di Indonesia, kini Forum Silaturahim Pondok Pesantren (FSPP) Provinsi Banten resmi mengadukan program tersebut kepada Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Banten.
    Langkah ini mendapat dukungan dari berbagai pondok pesantren, termasuk Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima Pandeglang beserta sejumlah kyai di Banten yang turut hadir dalam dialog dan pengaduan resmi di ruang Komisi I DPRD Banten, Kamis (16/10/2025).

     

    FSPP Banten Tegaskan Pelanggaran Serius

    Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Presidium FSPP Provinsi Banten, Dr. KH. Soleh Rosyad, S.Ag., M.M. menegaskan bahwa Segenap Pimpinan Pondok Pesantren di Banten yang dinaungi  oleh FSPP Banten menilai tayangan Xpose Uncensored bukan sekadar kesalahan teknis atau kelalaian dalam penyiaran.

    “Ini bukan sekadar kesalahan tayang. Kami melihat ada indikasi pelanggaran serius, bahkan sistemik. Maka kami menuntut adanya langkah hukum dan pemulihan menyeluruh,” tegas Dr. KH. Soleh Rosyad, S.Ag., M.M. usai bertemu dengan jajaran komisioner KPID Provinsi Banten.

    Dalam pertemuan itu, Dr. KH. Soleh Rosyad, S.Ag., M.M. menyampaikan empat tuntutan utama dari FSPP Banten kepada KPID Banten dan KPI Pusat, yaitu:

    1. Pemeriksaan dan Sanksi Hukum
      FSPP mendesak agar KPID Banten segera melakukan pemeriksaan terhadap tayangan Xpose Uncensored. Jika ditemukan unsur pidana seperti pencemaran nama baik atau penistaan agama, KPI diminta meneruskan kasus ini ke kepolisian sesuai MoU KPI–Polri.
    2. Permintaan Maaf dan Klarifikasi Publik
      Trans7 diminta menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada pesantren, para kyai, dan umat Islam melalui siaran langsung di televisi nasional.
    3. Evaluasi Program dan Pengawasan Ketat
      FSPP mendorong agar KPI memperketat mekanisme pengawasan program televisi agar tidak lagi muncul tayangan yang merendahkan lembaga keagamaan.
    4. Pemulihan Citra Pesantren
      FSPP menekankan pentingnya pemulihan citra pesantren dan para kyai yang telah tercoreng akibat tayangan tersebut.

     

    Baca Juga : Pagelaran Seni Panggung Gembira, Warnai Malam di Pondok Pesantren Kun Karima

     

    Tanggapan Resmi KPID Banten

    Ketua KPID Banten, Haris H Witharja, menyampaikan apresiasi atas langkah para pengasuh pondok pesantren yang menyalurkan aspirasi melalui jalur resmi.

    “Apa yang dilakukan para pengasuh pondok pesantren di Banten menyampaikan aspirasi ke KPI dan KPID Banten merupakan sebuah langkah yang tepat. Aspirasi ini kemudian akan diteruskan ke KPI Pusat dan menjadi catatan,” ungkap Haris.

     

    Ia juga menegaskan bahwa lembaga penyiaran terkait telah dijatuhi sanksi oleh KPI.

    “KPI sendiri sudah menjatuhkan sanksi kepada lembaga penyiaran yang dimaksud dan program siarannya sudah dihentikan,” katanya.

     

    Harapan dan Tindak Lanjut

    Dialog dan pengaduan tersebut menjadi bukti nyata bahwa masyarakat pesantren tidak tinggal diam terhadap tayangan yang dinilai menyesatkan publik dan melecehkan lembaga keagamaan. FSPP Banten bersama para kyai menyatakan akan terus memantau perkembangan kasus ini hingga ada kejelasan dan tindak lanjut dari KPI Pusat.

     

     

     

     

    Sumber: BantenRaya.com, KPI.go.id

  • Dari Asrama ke Dunia: Mimpi-Mimpi Besar yang Dirajut di Pesantren

    Dari Asrama ke Dunia: Mimpi-Mimpi Besar yang Dirajut di Pesantren

    Dinding asrama mungkin terbuat dari tembok sederhana, namun mimpi-mimpi yang tumbuh di dalamnya mampu menembus batas dunia. Di pesantren, kamar berukuran tiga kali empat yang diisi delapan orang bukan sekadar tempat tidur bergantian, tapi ruang berkumpulnya harapan. Di sanalah para santri menulis masa depan mereka—dengan pena murahan, semangat yang mahal, dan sesekali bercanda soal dunia yang belum mereka datangi.

    Setiap malam di asrama adalah lembaran dari kitab kehidupan. Di sela-sela suara nyamuk dan desahan kipas angin yang sudah miring, para santri merajut mimpi. Ada yang ingin kuliah ke Timur Tengah, ada yang membayangkan jadi dai internasional, ada pula yang diam-diam ingin punya podcast bertema fiqih cinta. Semuanya sah, semuanya boleh. Karena di pesantren, tak ada yang membatasi mimpi, kecuali waktu tidur yang dibatasi pukul 10 malam.

    Mimpi itu tumbuh bersamaan dengan hafalan yang susah masuk dan alarm subuh yang susah bangun. Tapi justru di tengah kesulitan itulah ketangguhan terbentuk. Santri tidak dimanjakan kenyamanan, tapi disiapkan untuk ketangguhan. Karena hidup ini, kata ustadz, tidak selalu seperti jadwal piket yang bisa ditukar, tapi lebih sering seperti jam pelajaran nahwu—susah di awal, manis di akhir (kalau lulus).

    Tak jarang, mimpi-mimpi itu dipoles lewat diskusi malam hari, diiringi suara sendal seret dan bunyi angin syahdu. Tema obrolan bisa lompat dari wacana khilafah ke harga gorengan di kantin pesantren. Tapi percayalah, di tengah gurauan dan gelak tawa itu, mereka sedang belajar berpikir, bercita-cita, dan bermimpi—hal yang jarang dimiliki generasi rebahan.

    Asrama bukan batas, tapi titik awal. Ia seperti rahim kedua bagi para pemimpi—tempat bertumbuh sebelum dilahirkan ke tengah-tengah masyarakat. Di pesantren, santri belajar bukan hanya ilmu, tapi juga disiplin, hidup bareng, sabar menunggu kiriman bulanan, dan rela tidur sebelah teman yang mendengkur seperti gergaji. Semua itu adalah kurikulum kehidupan yang tak tertulis di silabus manapun.

    Maka tak heran jika dari asrama yang sempit itu, lahir mereka yang pikirannya luas. Santri yang dulu berebut ember, kini berebut kesempatan untuk mengabdi. Yang dulu mengantri mandi, sekarang mengantri panggung dakwah. Yang dulu hanya mengenal nama-nama teman sekamar, kini dikenal masyarakat sebagai penyambung lidah umat.

    Dari asrama ke dunia, santri tahu bahwa jalan menuju cita-cita tak selalu lapang. Tapi mereka telah dilatih untuk kuat, bukan manja. Karena di pesantren, mimpi bukan sekadar angan, tapi amal yang terus dirajut dengan doa dan kerja. Dan pada akhirnya, dunia memang terlalu sempit untuk membatasi mimpi-mimpi yang lahir dari tempat sekecil asrama.

    Wallahu a‘lam, sambil lipat sarung.

  • Pagi yang Tak Pernah Sepi: Semangat Santri Menyambut Fajar di Pesantren Modern

    Pagi yang Tak Pernah Sepi: Semangat Santri Menyambut Fajar di Pesantren Modern

    Bagi santri, pagi bukan sekadar waktu. Ia adalah awal, semangat, dan sering kali juga perjuangan melawan godaan selimut yang lebih kuat dari debat antara Abu Hanifah dan Syafi’i. Di pesantren modern, fajar bukan cuma penanda waktu subuh, tapi juga simbol semangat baru—saat lorong-lorong asrama mulai ramai oleh suara sendal jepit dan sapaan lirih sesama pejuang bangun pagi.

    Subuh di pesantren bukan waktu yang sepi, bahkan bisa jadi ini jam sibuk pertama. Santri bergegas wudhu, terkadang dengan mata setengah terbuka dan tangan yang masih meraba-raba gayung. Ada yang baru sadar kalau handuknya ketinggalan saat sudah basah kuyup. Namun dari sana, lahirlah kebersamaan dan ketulusan yang tak dibuat-buat. Tidak ada yang menuntut harus rapi atau wangi, cukup datang ke masjid, membawa semangat, dan satu dua doa agar hari ini tidak kena tilang kedisiplinan.

    Usai salat subuh, suasana tidak serta-merta redup. Justru ini waktu di mana banyak pesantren modern memulai program unggulannya: pemberian mufrodat, halaqah pagi, atau mengaji  bersama. Di sinilah tampak wajah-wajah santri yang belum mandi tapi sudah siap menghafal. Kalau ada yang menyebut santri itu makhluk tangguh, itu karena mereka bisa menghafal ayat Al-Qur’an dengan latar belakang suara ayam berkokok dan teman menguap bersambung.

    Ada keindahan tersendiri saat melihat halaman pesantren disinari cahaya jingga. Beberapa santri menyapu halaman dengan sarung masih melilit setengah badan, yang lain memanaskan air untuk teh manis pagi—menu wajib sebelum ngaji. Di pojok masjid, tampak ustadz muda yang baru menikah menyimak setoran surah dari santri yang suaranya masih cempreng tapi niatnya mantap.

    Pagi hari di pesantren modern adalah latihan spiritual sekaligus manajemen waktu. Santri belajar bahwa kesuksesan bukan soal seberapa lama tidur, tapi seberapa disiplin bangun. Bahkan ada anekdot yang populer: “Santri sejati itu bukan yang hafal banyak kitab, tapi yang nggak kesiangan walau tidur paling malam.” Kalimat ini sering dipakai untuk menyindir, tapi juga untuk menyemangati diri sendiri agar esok bangun sebelum gong subuh dibunyikan.

    Pagi yang tak pernah sepi itu adalah fondasi dari pesantren yang terus hidup. Ketika semangat fajar dijaga, maka hari-hari berikutnya akan terisi oleh semangat belajar, beribadah, dan berkhidmah. Di sinilah jiwa santri dibentuk: bukan hanya cerdas secara intelektual, tapi juga tangguh dalam spiritual dan sosial.

    Maka jika engkau ingin tahu bagaimana sebuah bangsa dibangun, lihatlah pagi hari di pesantren. Di sanalah para calon pemimpin masa depan memulai harinya—dengan wajah ngantuk, sarung miring, dan semangat yang tidak pernah tidur.

    Wallahu a‘lam, sambil nyeruput teh manis.

  • Bahagia Itu Sederhana: Menemukan Makna di Balik Kesibukan Pesantren

    Bahagia Itu Sederhana: Menemukan Makna di Balik Kesibukan Pesantren

    Di pesantren, bahagia itu tidak diukur dari seberapa sering ngopi di kafe estetik, tapi seberapa cepat bisa menemukan sandal hilang sebelum iqamah berkumandang. Hidup di pesantren memang sibuk—pagi-pagi sudah digedor untuk subuh berjamaah, siang ngaji, sore belajar, malamnya setoran hafalan. Tapi anehnya, di tengah rutinitas yang tampaknya melelahkan itu, kami menemukan bahagia. Bukan bahagia yang menggelegar seperti konser, tapi bahagia yang pelan-pelan meresap, seperti aroma minyak kayu putih di malam hari: sederhana, tapi menenangkan.

    Kebahagiaan santri itu tidak perlu disunting pakai filter. Cukup dengan tahu jadwal piket hari ini bukan giliran sendiri, itu sudah membuat hati seperti terbang di atas awan. Bahkan saat ngantuk berat di kelas, ketika ustadz berkata, “Insya Allah ini materi terakhir hari ini,” sontak wajah santri bersinar lebih terang dari layar LCD. Di pesantren, makna hidup tidak datang dari seminar motivasi atau buku self-improvement, tapi dari percakapan di kamar asrama yang membahas mulai dari masalah wudhu sampai siapa yang paling cepat rebutan tempe di dapur.

    Ada filosofi tersendiri dalam tiap kesibukan santri. Mandi sebelum subuh misalnya, bukan hanya latihan disiplin, tapi juga latihan iman—karena di waktu itu, antara dinginnya air dan nikmatnya kasur, hanya yang betul-betul ikhlas yang menang. Belum lagi perjuangan mencuci baju sendiri—jika baju hilang, bisa jadi itu bagian dari rencana Allah agar lebih ikhlas dalam berbagi (meskipun tetap lapor ke ustadz bagian keamanan).

    Guyonan di pesantren pun mengandung makna tersendiri. Seorang santri pernah berkata, “Ngantuk saat ngaji itu ujian iman, tapi ngantuk saat nonton bola itu ujian batin.” Kalimat itu tampak lucu, tapi sebenarnya sedang menyinggung konflik eksistensial antara cinta ilmu dan cinta Liga Champions. Guyonan seperti ini menjadi bumbu yang membuat hidup di pesantren tidak terasa seperti beban, melainkan perjalanan menuju kedewasaan.

    Kesibukan di pesantren bukan semata aktivitas lahir, tapi pengasahan batin. Ketika harus menghafal matan Alfiyah sambil menahan kantuk, atau menghindari godaan main bola saat jam belajar malam, di situlah santri belajar bahwa bahagia itu bukan hanya soal senang-senang, tapi tentang bertumbuh. Bahagia itu saat bisa menyelesaikan satu halaman hafalan, walaupun tadi sempat mengulang lima kali karena lidah keliru membaca “mabniyyun”.

    Maka dari itu, kalau ada yang bertanya bagaimana bentuk bahagia versi santri, mungkin jawabannya seperti ini: bahagia itu saat kitab baru dibagikan, sandal ditemukan dalam keadaan utuh, dan ustadz mengakhiri pelajaran dengan kalimat manis, “Cukup sekian dulu ngaji kita hari ini.” Ah, nikmat mana lagi yang engkau dustakan?

    Di balik kesibukan pesantren yang tiada habis, para santri justru menemukan makna hidup yang tenang. Karena pada akhirnya, kesederhanaan hidup bukan lawan dari kebahagiaan, justru itu pangkalnya. Wallahu a‘lam, sambil nyuci baju.