Dr.KH. Soleh Rosyad, Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 42:
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya: “Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan, dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran itu, padahal kamu mengetahuinya.”
Ayat ini merupakan salah satu ayat yang sangat populer dalam kajian tafsir. Secara konteks, ayat ini ditujukan kepada Ahlul Kitab, khususnya sebagian kaum Yahudi yang mengetahui kebenaran risalah Nabi Muhammad saw., namun enggan mengikutinya. Meskipun demikian, pesan ayat ini bersifat universal dan berlaku bagi seluruh umat manusia, termasuk kaum Muslimin.
Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk bersikap jujur terhadap kebenaran. Jangan mencampurkan ajaran Allah dengan pemikiran yang menyimpang, dan jangan pula menyembunyikan kebenaran demi kepentingan apa pun.
Seorang mukmin sejati adalah orang yang berani memegang teguh kebenaran, mengamalkannya, serta menyampaikannya dengan ikhlas, meskipun hal itu menuntut pengorbanan. Dengan demikian, ayat ini menjadi pengingat agar kita selalu menjaga kemurnian iman, kejujuran ilmu, dan keberanian dalam membela kebenaran.
Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang dua hal sekaligus mencampuradukkan antara yang haq dan yang batil, serta menyembunyikan kebenaran padahal telah mengetahuinya. Kebenaran harus dijaga kemurniannya; tidak boleh dicampuri oleh kebatilan, hawa nafsu, kepentingan pribadi, ataupun ambisi duniawi. Sebab, ketika kebenaran bercampur dengan kebatilan, yang lahir bukanlah petunjuk, melainkan keraguan, kesesatan, dan berbagai bentuk penyimpangan.
Menyembunyikan kebenaran bukanlah karena tidak mengetahuinya, melainkan sering kali karena enggan menerimanya atau takut terhadap konsekuensinya. Ada orang yang khawatir kehilangan kedudukan, kehormatan, pengaruh, atau keuntungan duniawi jika ia menyampaikan kebenaran apa adanya.
Padahal, tugas seorang mukmin adalah menampakkan kebenaran dengan terang, mengamalkannya dengan konsisten, dan menyampaikannya dengan penuh kejujuran. Kebenaran harus ditegaskan sebagai kebenaran, sementara kebatilan harus dijelaskan sebagai kebatilan.
Dalam kajian ilmu agama, dikenal istilah agama samawi dan agama ardhi. Agama samawi adalah agama yang bersumber dari wahyu Allah, sedangkan agama ardhi merupakan sistem kepercayaan yang lahir dari pemikiran, tradisi, dan budaya manusia. Dalam perspektif Islam, seluruh nabi sejak Nabi Adam a.s. hingga Nabi Muhammad saw. membawa risalah yang sama, yaitu ajaran tauhid: mengesakan Allah semata. Karena itu, hakikat agama yang dibawa oleh seluruh nabi adalah Islam, yakni sikap berserah diri, tunduk, dan patuh sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dengan demikian, seorang mukmin dituntut untuk menjaga kemurnian ajaran Islam, tidak mencampurkannya dengan keyakinan, pemikiran, atau praktik yang bertentangan dengan prinsip tauhid. Kebenaran wahyu harus diterima, diamalkan, dan disampaikan dengan jujur, agar tetap menjadi cahaya petunjuk bagi kehidupan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan: Inna ad-dina ‘indallahil Islam – sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam. Ajaran tauhid ini telah dibawa oleh seluruh nabi, dari Nabi Adam a.s. hingga Nabi Muhammad saw. Islam bukan agama baru, melainkan kelanjutan dan penyempurnaan dari risalah para nabi terdahulu.
Allah memberikan hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Namun, Allah Yang Maha Mengetahui melihat kesiapan hati hamba-Nya. Ketika dalam diri seseorang masih ada kerinduan kepada kebenaran, ada sepercik harapan untuk mendekat kepada-Nya, maka itulah benih hidayah. Sepercik harapan itu sangat berharga. Sebab, ketika seorang hamba melangkah satu langkah menuju Allah, Allah akan menyambutnya dengan limpahan rahmat, pertolongan, dan kasih sayang yang berlipat ganda.
Karena itu, hati harus senantiasa dibuka untuk menerima cahaya hidayah dan rahmat Allah. Hati yang terbuka akan mudah menerima kebenaran, pikiran yang dipenuhi husnuzan akan melahirkan ketenangan, dan perilaku yang dihiasi amal saleh akan menjadi jalan turunnya keberkahan. Semua itu dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk kebaikan, seperti bersedekah, memberi perhatian kepada sesama, membantu yang membutuhkan, serta menjaga lisan dengan ucapan yang baik.
Dalam Islam, perkataan bukan sekadar bunyi yang keluar dari mulut. Setiap ucapan adalah bagian dari amal yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Apa yang diucapkan termasuk dalam perbuatan manusia, sebagaimana tindakan yang dilakukan oleh anggota tubuh lainnya. Oleh sebab itu, lisan harus dijaga dengan sebaik-baiknya.
Rasulullah saw. mengajarkan agar seseorang berkata baik atau memilih diam. Sebab, setiap kata yang terucap akan dicatat dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Karena itu, sebelum berbicara, hendaknya seseorang berpikir dengan matang, apakah ucapannya membawa manfaat, menebarkan kebaikan, serta mendatangkan ridha Allah.
Ilmu hendaknya digunakan untuk kepentingan dunia dan akhirat. Jangan sampai ilmu hanya menjadi alat untuk mengejar keuntungan duniawi semata. Ilmu yang benar adalah ilmu yang mendekatkan seseorang kepada Allah, menumbuhkan rasa takut kepada-Nya, serta mendorong lahirnya amal saleh. Karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk senantiasa mentadabburi ayat-ayat Allah, baik yang tertulis dalam Al-Qur’an Al-Qur’an maupun yang terbentang luas di alam semesta.
Allah juga mengingatkan tentang bahaya menyeru kepada kebaikan, tetapi melupakan diri sendiri. Seseorang tidak cukup hanya pandai berbicara tentang kebaikan, sementara dirinya sendiri lalai mengamalkannya. Dakwah yang paling baik adalah keteladanan. Kata-kata yang lahir dari hati yang bersih dan didukung oleh amal nyata akan jauh lebih berpengaruh daripada nasihat yang hanya berhenti di lisan.
Setiap lelah yang dibangun di atas landasan iman tidak akan pernah sia-sia. Semua amal, perjuangan, dan pengorbanan yang dilakukan karena Allah akan berbuah manis, baik di dunia maupun di akhirat. Apa yang kita tanam hari ini, insya Allah akan kita tuai sebagai keberkahan di masa mendatang. (Tim Redaksi)







