Oleh : Rohmanudin
Tim Redaksi Pondok Pesantren Kun Karima
Malam itu, hujan turun perlahan membasahi halaman pesantren. Di sudut kamar asrama, seorang santri bernama Rizki duduk termenung sambil memandangi foto keluarganya yang tersimpan rapi di dalam buku catatan.
Sudah hampir satu tahun ia mondok, tetapi terkadang rasa rindu kepada rumah masih datang tanpa diundang. Ia merindukan masakan ibunya, canda gurau bersama saudara-saudaranya, dan kenyamanan kamar yang dulu menjadi tempatnya beristirahat.
Tidak hanya itu, Rizki juga sering merasa dirinya tertinggal dibandingkan teman-temannya. Saat sebagian santri mampu menghafal dengan cepat, ia masih harus mengulang berkali-kali. Ketika teman-temannya dipercaya menjadi pengurus, ia merasa belum memiliki kemampuan yang cukup.
Dalam hati ia bertanya, “Apakah aku memang tidak berbakat menjadi santri yang hebat?”
Keesokan harinya, saat selesai mengaji, Rizki melihat seorang kakak kelas yang sangat dihormati di pesantren. Namanya Hasan. Ia dikenal sebagai santri yang cerdas, rendah hati, disiplin, dan selalu menjadi teladan.
Banyak santri mengaguminya.
Melihat Hasan yang begitu hebat, Rizki semakin merasa kecil. Baginya, Hasan seolah dilahirkan untuk menjadi santri teladan. Namun suatu sore, saat membantu membersihkan halaman masjid, Rizki memberanikan diri bertanya.
“Kak Hasan, apakah sejak awal mondok Kakak memang selalu pintar dan rajin?”
Hasan tersenyum kecil.
“Tidak, Rizki. Justru dulu aku termasuk santri yang paling sering ditegur.”
Rizki terkejut. “Benarkah?”
Hasan mengangguk. “Dulu aku sering terlambat bangun, hafalanku lambat, bahkan pernah ingin pulang karena merasa tidak sanggup menjalani kehidupan pesantren.”
Rizki terdiam. Sulit baginya membayangkan sosok Hasan yang sekarang pernah mengalami kesulitan yang sama. Melihat wajah Rizki yang penuh rasa penasaran, Hasan melanjutkan,
“Tahukah kamu mengapa pohon besar bisa berdiri kokoh?”
“Karena batangnya kuat?” jawab Rizki.
“Bukan hanya itu. Karena akarnya tumbuh lama di dalam tanah sebelum orang melihat besarnya pohon tersebut.”
Hasan lalu menatap Rizki dengan penuh kehangatan.
“Banyak orang hanya melihat hasilnya. Mereka melihat santri yang pandai, hafalannya banyak, dan prestasinya tinggi. Tetapi mereka tidak melihat berapa kali ia gagal, berapa kali ia menangis, dan berapa lama ia berjuang dalam diam.”
Perkataan itu menancap kuat dalam hati Rizki. Sejak hari itu, ia mulai mengubah cara pandangnya. Ia tidak lagi sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia mulai fokus memperbaiki dirinya sedikit demi sedikit. Jika dulu ia sering terlambat bangun, kini ia berusaha bangun lebih awal. Jika dulu ia malas mengulang hafalan, kini ia menyempatkan waktu setiap malam. Jika dulu ia mudah menyerah ketika melakukan kesalahan, kini ia menjadikan kesalahan sebagai pelajaran.
Hari demi hari berlalu.
Minggu berganti bulan.
Bulan berganti tahun.
Perubahan besar ternyata tidak datang sekaligus.
Perubahan itu hadir dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan dengan istiqamah.
Tanpa disadari, Rizki mulai menjadi pribadi yang berbeda.
Ia lebih disiplin.
Lebih bertanggung jawab.
Lebih percaya diri.
Bahkan beberapa santri junior mulai menjadikannya tempat bertanya ketika mengalami kesulitan.
Suatu hari, pesantren mengadakan acara penghargaan santri. Ketika nama Rizki disebut sebagai salah satu santri yang menunjukkan perkembangan terbaik, ia teringat dirinya yang dulu.
Santri yang sering merasa gagal.
Santri yang sering ingin menyerah.
Santri yang pernah berpikir bahwa dirinya tidak akan mampu.
Matanya berkaca-kaca. Bukan karena penghargaan itu. Tetapi karena ia menyadari satu hal penting.
Bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh ternyata memiliki arti besar.
Malam harinya, Rizki duduk di serambi masjid sambil memandangi langit yang dipenuhi bintang.
Ia teringat pesan Hasan.
“Pohon besar tidak tumbuh dalam sehari.”
Begitu pula seorang santri.
Tidak ada santri hebat yang terbentuk dalam semalam.
Tidak ada hafalan yang kuat tanpa pengulangan.
Tidak ada akhlak yang mulia tanpa pembiasaan.
Tidak ada kesuksesan tanpa kesabaran dan perjuangan.
Pesantren bukanlah tempat untuk mencari jalan yang mudah. Pesantren adalah tempat menempa diri agar menjadi lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih dekat kepada Allah.







