Penulis: Bagian Penulisan

  • Pramuka Pondok Pesantren Kun Karima Raih Berbagai Juara di Festival Lomba Pionering Se-Banten 2026

    Pramuka Pondok Pesantren Kun Karima Raih Berbagai Juara di Festival Lomba Pionering Se-Banten 2026

    Pandeglang- Pramuka Pondok Pesantren Kun Karima kembali mengharumkan nama pesantren dalam ajang Festival Lomba Pionering Tingkat Pramuka Penggalang dan Penegak Se-Banten 2026 yang digelar di SMPN 2 Cimanuk, Kabupaten Pandeglang, pada Ahad, 17 Mei 2026.

    Dalam kegiatan yang diikuti oleh peserta Pramuka dari berbagai sekolah dan pesantren se-Provinsi Banten tersebut, kontingen Pramuka Kun Karima berhasil meraih sejumlah penghargaan di berbagai kategori, baik tingkat Penggalang maupun Penegak.

    Festival lomba pionering ini menjadi ajang unjuk kemampuan anggota Pramuka dalam bidang keterampilan tali-temali, kekuatan konstruksi, kreativitas, kekompakan tim, hingga sportivitas antar peserta. Sejak awal perlombaan, peserta dari Pondok Pesantren Kun Karima tampil penuh semangat dan percaya diri.

    Pada tingkat Penggalang, Pramuka Pondok Pesantren Kun Karima berhasil meraih:

    • Juara 2 Best Suporter Tingkat Penggalang
    • Juara 3 Kategori Kerapihan Penggalang
    • Juara 2 Kategori Kekuatan Penggalang
    • Juara 2 Kategori Tali Temali Penggalang
    • Juara 3 Kategori Kreativitas Penggalang
    • Juara Harapan 2 Tingkat Penggalang
    • Juara 2 Tingkat Penggalang
    • Juara 1 Favorit Tingkat Penggalang

    Sementara pada tingkat Penegak, kontingen Kun Karima juga berhasil menorehkan prestasi dengan meraih:

    • Juara 2 Best Suporter Tingkat Penegak
    • Juara 3 Kategori Kreativitas Penegak
    • Juara Harapan 1 Tingkat Penegak
    • Juara 1 Favorit Tingkat Penegak

    Tidak hanya itu, Pramuka Pondok Pesantren Kun Karima juga sukses membawa pulang penghargaan Juara Best Team dan Juara Best Coach.

    Nofan Budi Sentoso, Kepala Sekolah SMA Kun Karima, menyampaikan rasa syukur dan bangga atas prestasi yang diraih para santri dalam ajang tersebut. Menurutnya, capaian itu tidak diraih secara instan, melainkan melalui proses latihan, kekompakan tim, kedisiplinan, serta semangat para peserta selama mempersiapkan diri menghadapi perlombaan.

    Ia juga berharap keberhasilan tersebut dapat menjadi motivasi bagi para santri untuk terus aktif dalam kegiatan positif, khususnya di bidang kepramukaan yang mengajarkan banyak nilai kehidupan.(TIM Redaksi)

  • TIM Futsal SD Islam Insan Karima Raih Juara 1 di La Tansa 2 Futsal Championship 2026

    TIM Futsal SD Islam Insan Karima Raih Juara 1 di La Tansa 2 Futsal Championship 2026

    Lebak- Prestasi membanggakan kembali diraih oleh SD Islam Insan Karima. TIM futsal sekolah tersebut sukses meraih Juara 1 dalam ajang La Tansa 2 Futsal Championship Tournament Futsal SD/MI Se-Banten yang digelar pada 16–17 Mei 2026.

    Turnamen yang diikuti berbagai tim futsal tingkat SD dan MI se-Provinsi Banten itu berlangsung meriah dan penuh persaingan. Sejak babak penyisihan, TIM futsal SD Islam Insan Karima tampil percaya diri dengan permainan yang solid, disiplin, dan semangat.

    Perjalanan menuju gelar juara tidak diraih dengan mudah. Para pemain harus melewati sejumlah pertandingan penting melawan tim-tim tangguh hingga akhirnya berhasil melaju ke partai final. Pada pertandingan puncak, TIM futsal SD Islam Insan Karima mampu tampil kompak dan fokus sepanjang laga hingga berhasil memastikan kemenangan sekaligus membawa pulang trofi Juara 1.

    Taufiq Hidayat mewakili SD Islam Insan Karima menyampaikan rasa syukur dan bangga atas pencapaian yang diraih para siswa dalam turnamen tersebut. Menurutnya, keberhasilan ini merupakan hasil dari latihan rutin, kerja keras, serta semangat juang para pemain selama mengikuti kompetisi.

    Ia juga mengapresiasi dukungan para guru, pelatih, dan orang tua siswa yang terus memberikan semangat kepada para pemain selama pertandingan berlangsung. Menurutnya, dukungan tersebut menjadi salah satu faktor penting yang menambah motivasi para pemain di lapangan.

    Prestasi ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar SD Islam Insan Karima sekaligus menjadi bukti bahwa pembinaan bakat dan karakter siswa melalui kegiatan olahraga terus berjalan dengan baik di lingkungan sekolah. (TIM Redaksi)

  • Memegang Teguh Haq, Menjauhi Kebatilan

    Memegang Teguh Haq, Menjauhi Kebatilan

    Dr.KH. Soleh Rosyad, Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 42:

    وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

    Artinya: “Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan, dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran itu, padahal kamu mengetahuinya.”

    Ayat ini merupakan salah satu ayat yang sangat populer dalam kajian tafsir. Secara konteks, ayat ini ditujukan kepada Ahlul Kitab, khususnya sebagian kaum Yahudi yang mengetahui kebenaran risalah Nabi Muhammad saw., namun enggan mengikutinya. Meskipun demikian, pesan ayat ini bersifat universal dan berlaku bagi seluruh umat manusia, termasuk kaum Muslimin.

    Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk bersikap jujur terhadap kebenaran. Jangan mencampurkan ajaran Allah dengan pemikiran yang menyimpang, dan jangan pula menyembunyikan kebenaran demi kepentingan apa pun.

    Seorang mukmin sejati adalah orang yang berani memegang teguh kebenaran, mengamalkannya, serta menyampaikannya dengan ikhlas, meskipun hal itu menuntut pengorbanan. Dengan demikian, ayat ini menjadi pengingat agar kita selalu menjaga kemurnian iman, kejujuran ilmu, dan keberanian dalam membela kebenaran.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang dua hal sekaligus mencampuradukkan antara yang haq dan yang batil, serta menyembunyikan kebenaran padahal telah mengetahuinya. Kebenaran harus dijaga kemurniannya; tidak boleh dicampuri oleh kebatilan, hawa nafsu, kepentingan pribadi, ataupun ambisi duniawi. Sebab, ketika kebenaran bercampur dengan kebatilan, yang lahir bukanlah petunjuk, melainkan keraguan, kesesatan, dan berbagai bentuk penyimpangan.

    Menyembunyikan kebenaran bukanlah karena tidak mengetahuinya, melainkan sering kali karena enggan menerimanya atau takut terhadap konsekuensinya. Ada orang yang khawatir kehilangan kedudukan, kehormatan, pengaruh, atau keuntungan duniawi jika ia menyampaikan kebenaran apa adanya.

    Padahal, tugas seorang mukmin adalah menampakkan kebenaran dengan terang, mengamalkannya dengan konsisten, dan menyampaikannya dengan penuh kejujuran. Kebenaran harus ditegaskan sebagai kebenaran, sementara kebatilan harus dijelaskan sebagai kebatilan.

    Dalam kajian ilmu agama, dikenal istilah agama samawi dan agama ardhi. Agama samawi adalah agama yang bersumber dari wahyu Allah, sedangkan agama ardhi merupakan sistem kepercayaan yang lahir dari pemikiran, tradisi, dan budaya manusia. Dalam perspektif Islam, seluruh nabi sejak Nabi Adam a.s. hingga Nabi Muhammad saw. membawa risalah yang sama, yaitu ajaran tauhid: mengesakan Allah semata. Karena itu, hakikat agama yang dibawa oleh seluruh nabi adalah Islam, yakni sikap berserah diri, tunduk, dan patuh sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Dengan demikian, seorang mukmin dituntut untuk menjaga kemurnian ajaran Islam, tidak mencampurkannya dengan keyakinan, pemikiran, atau praktik yang bertentangan dengan prinsip tauhid. Kebenaran wahyu harus diterima, diamalkan, dan disampaikan dengan jujur, agar tetap menjadi cahaya petunjuk bagi kehidupan.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan: Inna ad-dina ‘indallahil Islam – sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam. Ajaran tauhid ini telah dibawa oleh seluruh nabi, dari Nabi Adam a.s. hingga Nabi Muhammad saw. Islam bukan agama baru, melainkan kelanjutan dan penyempurnaan dari risalah para nabi terdahulu.

    Allah memberikan hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Namun, Allah Yang Maha Mengetahui melihat kesiapan hati hamba-Nya. Ketika dalam diri seseorang masih ada kerinduan kepada kebenaran, ada sepercik harapan untuk mendekat kepada-Nya, maka itulah benih hidayah. Sepercik harapan itu sangat berharga. Sebab, ketika seorang hamba melangkah satu langkah menuju Allah, Allah akan menyambutnya dengan limpahan rahmat, pertolongan, dan kasih sayang yang berlipat ganda.

    Karena itu, hati harus senantiasa dibuka untuk menerima cahaya hidayah dan rahmat Allah. Hati yang terbuka akan mudah menerima kebenaran, pikiran yang dipenuhi husnuzan akan melahirkan ketenangan, dan perilaku yang dihiasi amal saleh akan menjadi jalan turunnya keberkahan. Semua itu dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk kebaikan, seperti bersedekah, memberi perhatian kepada sesama, membantu yang membutuhkan, serta menjaga lisan dengan ucapan yang baik.

    Dalam Islam, perkataan bukan sekadar bunyi yang keluar dari mulut. Setiap ucapan adalah bagian dari amal yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Apa yang diucapkan termasuk dalam perbuatan manusia, sebagaimana tindakan yang dilakukan oleh anggota tubuh lainnya. Oleh sebab itu, lisan harus dijaga dengan sebaik-baiknya.

    Rasulullah saw. mengajarkan agar seseorang berkata baik atau memilih diam. Sebab, setiap kata yang terucap akan dicatat dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Karena itu, sebelum berbicara, hendaknya seseorang berpikir dengan matang, apakah ucapannya membawa manfaat, menebarkan kebaikan, serta mendatangkan ridha Allah.

    Ilmu hendaknya digunakan untuk kepentingan dunia dan akhirat. Jangan sampai ilmu hanya menjadi alat untuk mengejar keuntungan duniawi semata. Ilmu yang benar adalah ilmu yang mendekatkan seseorang kepada Allah, menumbuhkan rasa takut kepada-Nya, serta mendorong lahirnya amal saleh. Karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk senantiasa mentadabburi ayat-ayat Allah, baik yang tertulis dalam Al-Qur’an Al-Qur’an maupun yang terbentang luas di alam semesta.

    Allah juga mengingatkan tentang bahaya menyeru kepada kebaikan, tetapi melupakan diri sendiri. Seseorang tidak cukup hanya pandai berbicara tentang kebaikan, sementara dirinya sendiri lalai mengamalkannya. Dakwah yang paling baik adalah keteladanan. Kata-kata yang lahir dari hati yang bersih dan didukung oleh amal nyata akan jauh lebih berpengaruh daripada nasihat yang hanya berhenti di lisan.

    Setiap lelah yang dibangun di atas landasan iman tidak akan pernah sia-sia. Semua amal, perjuangan, dan pengorbanan yang dilakukan karena Allah akan berbuah manis, baik di dunia maupun di akhirat. Apa yang kita tanam hari ini, insya Allah akan kita tuai sebagai keberkahan di masa mendatang. (Tim Redaksi)

  • Hiking Pramuka Kun Karima: Menumbuhkan Semangat, Disiplin, dan Akhlak Santri

    Hiking Pramuka Kun Karima: Menumbuhkan Semangat, Disiplin, dan Akhlak Santri

    Pandeglang-Pondok Pesantren Kun Karima menggelar kegiatan Hiking Pramuka pada Senin, 12 Mei 2026, sebagai bagian dari pembinaan karakter, kedisiplinan, dan semangat kebersamaan para santri. Kegiatan pembukaan hiking pramuka dilaksanakan di halaman Pondok Pesantren Kun Karima.

    Sebelum perjalanan dimulai, para santri tampak berkumpul dan berbaris rapi di halaman pondok pesantren. Dengan perlengkapan sederhana dan semangat kebersamaan, para peserta mengikuti arahan dari pembina pramuka serta dewan guru.

    Kepala Sekolah MTs Kun Karima, Taufiq Hidayat, dalam sambutannya menyampaikan rasa bahagianya melihat semangat para santri yang begitu tinggi mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, hiking pramuka menjadi kegiatan yang telah lama dinantikan para peserta.

    “Ini acara yang sudah lama kalian nantikan. Saya ikut bahagia melihat semangat anak-anak hari ini yang begitu luar biasa,” ujarnya di hadapan para santri.

    Ia menjelaskan, kegiatan hiking bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan sarana pendidikan yang melatih kekuatan fisik, mental, kedisiplinan, serta kerja sama antarpeserta. Selain itu, di setiap pos perjalanan telah disiapkan berbagai materi dan tantangan yang harus diikuti dengan sungguh-sungguh oleh para santri.

    “Kegiatan pagi ini membutuhkan energi dan fisik yang kuat. Di setiap pos ada materi yang harus diikuti dengan serius,” kata Taufiq Hidayat.

    Dalam arahannya, ia juga menyampaikan pesan pimpinan pondok pesantren agar seluruh peserta dan pembina selalu berhati-hati selama kegiatan berlangsung. Keselamatan, kekompakan, dan rasa tanggung jawab menjadi hal utama yang harus dijaga bersama.

    Lebih lanjut, Taufik Hidayat menilai kegiatan hiking memiliki banyak makna dalam kehidupan para santri. Melalui kegiatan tersebut, para peserta diajak memahami arti perjuangan, semangat, dan pentingnya kerja sama dalam mencapai tujuan.

    “Hiking ini mengajarkan kita bahwa hidup adalah perjuangan. Harus ada semangat, kebersamaan, dan saling membantu. Dari sini kita belajar memperkuat ukhuwah,” ungkapnya.

    Ia juga mengingatkan para santri agar senantiasa menjaga adab dan etika selama kegiatan berlangsung. Menurutnya, identitas seorang santri tidak hanya terlihat dari pakaian, tetapi juga dari sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. (Tim Redaksi)

  • Silaturahmi dan Sosialisasi Program Dapur MBG Pesantren Digelar di Ponpes Kun Karima

    Silaturahmi dan Sosialisasi Program Dapur MBG Pesantren Digelar di Ponpes Kun Karima

    Pandeglang– Upaya mendukung program pemerintah dalam pemenuhan gizi generasi bangsa terus diperkuat melalui kolaborasi strategis bersama pondok pesantren. Hal tersebut terlihat dalam kegiatan Silaturahmi dan Sosialisasi Program Dapur MBG Pondok Pesantren Se-Banten bersama pimpinan SKKP Indotama, Hilman Thaib Mandagi, yang dilaksanakan di Aula Pondok Pesantren Kun Karima pada Sabtu, 09 Mei 2026.

    Kegiatan ini dihadiri sekitar 20 perwakilan pondok pesantren dari berbagai daerah, di antaranya Depok, Bogor, Jakarta, Tangerang, Serang, Pandeglang, dan Lebak.

    Dalam sosialisasi tersebut, pihak SKKP Indotama menawarkan kerja sama pembangunan Dapur MBG di lingkungan pondok pesantren sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah dalam pemenuhan gizi. Program ini juga diharapkan mampu menjadi sarana pemberdayaan ekonomi pesantren yang berkelanjutan.

    Dr.KH. Soleh Rosyad selaku Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima menyambut positif program tersebut. Menurutnya, kolaborasi ini menjadi peluang besar bagi pondok pesantren untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada para santri, khususnya dalam penyediaan makanan sehat dan bergizi.

    Ia juga menegaskan bahwa pesantren memiliki peran penting dalam mencetak generasi yang sehat, cerdas, dan berakhlakul karimah. Karena itu, program Dapur MBG dinilai sejalan dengan visi pesantren dalam membangun kemandirian serta memperkuat kontribusi pesantren terhadap pembangunan masyarakat.

    Sementara itu, Brigjen Pol. (Purn.) Hilman Thaib Mandagi menyampaikan bahwa pesantren merupakan mitra strategis dalam mendukung program ketahanan pangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Melalui program Dapur MBG, diharapkan lahir langkah nyata dalam menciptakan lingkungan pesantren yang lebih sehat, mandiri, dan produktif.

    Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan terjalin kerja sama yang lebih luas antara pesantren dan berbagai pihak dalam mendukung program pemerintah demi terwujudnya generasi bangsa yang sehat, kuat, dan berkualitas. TIM Redaksi

  • Menjaga Hidayah, Menguatkan Amal Saleh

    Menjaga Hidayah, Menguatkan Amal Saleh

    Dr.KH Soleh Rosyad, Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima

    Sebagai manusia, kita tidak luput dari kesalahan. Tidak ada manusia yang sempurna. Namun, ketika kita menyadari kesalahan, hendaknya kita segera kembali kepada Allah dengan memperbanyak istighfar, memohon ampunan-Nya, serta berusaha sungguh-sungguh untuk memperbaiki diri.

    Dalam proses memperbaiki diri itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membiarkan hamba-Nya berjalan tanpa arahan dan harapan. Allah memberikan jaminan, ketenangan, dan penguatan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.

    Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Mā’idah ayat 105:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; tidaklah orang yang sesat itu akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu semua akan kembali, lalu Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Mā’idah: 105)

    Ayat ini menghadirkan ketenteraman bagi hati orang-orang beriman. Seakan-akan Allah berfirman, “Jika engkau telah mendapatkan hidayah, maka jagalah, peliharalah, dan kuatkanlah dirimu. Hidayah itu adalah karunia-Ku. Tidak ada seorang pun yang mampu menggoyahkannya selama engkau tetap berpegang teguh kepadanya.”

    Dalam tafsirnya, ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab pertama seorang mukmin adalah memperbaiki dan menjaga dirinya sendiri. Ia harus memastikan bahwa dirinya tetap berada di atas jalan hidayah, istiqamah dalam ketaatan, dan kokoh dalam keimanan. Jika seseorang telah menempuh jalan yang benar, maka kesesatan orang lain tidak akan membahayakannya, selama ia tetap teguh berpegang pada petunjuk Allah.

    Namun, ayat ini bukan berarti seorang mukmin boleh bersikap acuh tak acuh terhadap keadaan di sekitarnya. Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini tidak menghapus kewajiban amar ma’ruf nahi munkar. Justru, setelah seseorang berusaha menasihati, mengajak kepada kebaikan, dan mencegah kemungkaran sesuai kemampuannya, maka ia tidak perlu bersedih berlebihan jika masih ada orang yang memilih jalan kesesatan. Tugasnya adalah menyampaikan, sedangkan hidayah sepenuhnya berada di tangan Allah.

    Karena itu, kita harus senantiasa memperbaiki diri dan terus menebarkan kebaikan. Sebab, kebaikan akan melahirkan kebaikan berikutnya. Setiap amal saleh yang kita lakukan hendaknya menjadi pintu bagi lahirnya amal saleh yang lain. Dengan demikian, hidup seorang mukmin akan senantiasa dipenuhi dengan pertumbuhan, keberkahan, dan kemajuan.

    Dalam melakukan kebaikan, kita hendaknya mengerahkan seluruh potensi yang Allah anugerahkan kepada kita kekuatan ilmu, semangat yang tinggi (himmah), kekuatan fisik, kesehatan, kejernihan akal, serta kelembutan hati dan kesabaran. Semua itu merupakan bekal berharga untuk menapaki jalan kebaikan secara istiqamah.

    Ketika seseorang telah meraih gelar sarjana, misalnya, ia tidak boleh berhenti belajar. Gelar bukanlah garis akhir, melainkan sebuah pijakan awal untuk melangkah lebih jauh. Jangan sampai kita merasa cukup hanya karena telah memperoleh gelar, lalu kehilangan semangat untuk terus belajar, berkembang, dan memperbaiki diri.

    Semakin tinggi ilmu yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab yang diemban. Ilmu bukan sekadar penghias diri atau simbol prestasi, melainkan amanah yang harus dijaga, dikembangkan, dan diamalkan. Sebab, orang yang berhenti belajar sejatinya sedang menghentikan pertumbuhan dirinya sendiri. Seorang pencari ilmu sejati akan selalu merasa haus akan pengetahuan. Semakin banyak ia belajar, semakin ia menyadari betapa luasnya ilmu Allah dan betapa banyak hal yang belum diketahuinya. Kesadaran inilah yang mendorongnya untuk terus memperbaiki diri, memperluas wawasan, dan meningkatkan kualitas amal.

    Allah juga menegaskan bahwa siapa saja yang terus memperbaiki dirinya, menjaga istiqamah, dan memelihara hidayah yang telah dianugerahkan kepadanya, maka pengaruh buruk dari orang-orang yang sesat tidak akan mampu menggoyahkannya. Hidayah yang dijaga dengan baik akan tetap kokoh, tidak mudah tergeser oleh godaan, tekanan, maupun berbagai bentuk kerusakan yang datang dari arah mana pun.

    Selama seseorang senantiasa berpegang teguh kepada petunjuk Allah, memperkuat imannya dengan amal saleh, dan menjaga hatinya dengan zikir serta ketaatan, maka Allah akan melindunginya. Tidak ada kekuatan yang mampu merusak hidayah yang terpelihara dalam hati seorang hamba, selama ia terus menjaganya dengan istiqamah dan keikhlasan.

    Orang-orang yang telah memperoleh hidayah akan selalu mendapatkan pertolongan, penguatan, dan ketenangan dari Allah. Namun, jaminan ini bukan berarti kita boleh bersikap pasif. Justru sebaliknya, kita harus tetap aktif, dinamis, dan produktif dalam kebaikan. Hidayah adalah anugerah yang sangat mahal, dan karena itu harus dijaga, dipelihara, serta diperkuat.

    Pada hakikatnya, hidayah adalah buah tertinggi dari ilmu. Seluruh ilmu yang kita pelajari seharusnya bermuara pada hidayah. Jika ilmu tidak mengantarkan kepada hidayah, maka ilmu itu kehilangan makna sejatinya. Oleh karena itu, hidayah harus diperkuat dengan amal saleh, pikiran yang positif, zikir, ihsan, tilawah Al-Qur’an, serta kesadaran diri yang terus tumbuh.

    Sebagai manusia, kita adalah tempat salah dan lupa. Maka, ketika kita berbuat kesalahan, kita harus segera menyadarinya. Jangan sampai kita melakukan kesalahan, tetapi justru merasa diri benar. Merasa benar dalam kesalahan adalah bentuk kesesatan yang sangat berbahaya. Sebaliknya, mengakui kesalahan adalah pintu menuju ampunan Allah.

    Hidayah yang kita miliki adalah hasil perjuangan sekaligus anugerah dari Allah. Ia bisa datang melalui didikan orang tua, lingkungan yang baik, para guru, dan berbagai wasilah lainnya. Karena itu, hidayah harus terus diperjuangkan agar tetap hidup dalam diri kita melalui istiqamah dalam ibadah, ketekunan dalam amal saleh, serta kesungguhan dalam mendekatkan diri kepada Allah, termasuk dalam menjaga ibadah.

    Jika suatu ketika kita lalai dari kebiasaan baik yang selama ini kita lakukan, hendaknya kita merasa kehilangan dan menyesal. Rasa kehilangan itu adalah tanda hidupnya iman dalam hati. Sebab, seorang mukmin akan selalu merindukan amal-amal kebaikan yang mendekatkannya kepada Allah. (TIM Redaksi)

  • Pesantren Fest 2026: SD Islam Insan Karima Raih Juara Umum Drumband

    Pesantren Fest 2026: SD Islam Insan Karima Raih Juara Umum Drumband

    Banten – Gelaran Pesantren Fest 2026 yang berlangsung pada 3–4 Mei 2026 di kawasan bersejarah Keraton Surosoan, Kota Serang, sukses menjadi panggung prestasi bagi para santri di Provinsi Banten.

    Mengusung tema “Santri Banten Untuk Indonesia, Santri Banten Untuk Membangun Peradaban Dunia,

    Kegiatan ini menghadirkan beragam kompetisi yang menjadi wadah pengembangan potensi generasi muda Islam, baik di bidang keagamaan, seni, maupun keterampilan.

    Di antara berbagai penampilan, SD Islam Insan Karima tampil di bidang seni drumband. Dengan semangat tinggi, kekompakan yang solid, serta teknik permainan yang matang, tim drumband SD Islam Insan Karima berhasil meraih Juara Umum, sekaligus menyabet posisi Juara 1 dalam perlombaan tersebut.

    Prestasi ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi sekolah, tetapi juga mencerminkan keberhasilan pendidikan berbasis nilai-nilai pesantren dalam membentuk generasi yang unggul, disiplin, dan kreatif. Penampilan mereka dinilai memiliki harmonisasi yang kuat antara ritme, formasi, dan energi, sehingga mampu memukau dewan juri serta para penonton yang hadir.

    Turut hadir dalam kegiatan ini Ketua Yayasan Kun Karima, Dr. KH. Soleh Rosyad, yang memberikan apresiasi tinggi atas prestasi yang diraih. Ia menyampaikan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil dari kerja keras, latihan yang konsisten, serta sinergi yang baik antara peserta didik, pembina, dan dukungan orang tua.

    Pesantren Fest 2026 menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa santri Banten tidak hanya berperan dalam bidang keagamaan, tetapi juga mampu bersaing dan berprestasi di berbagai bidang, termasuk seni dan budaya. Prestasi yang diraih SD Islam Insan Karima diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan lainnya dalam mengembangkan potensi peserta didik secara holistik dan berkelanjutan.(Tim Redaksi)

  • Dalam Sabar dan Salat, Ada Kekuatan yang Tak Terlihat

    Dalam Sabar dan Salat, Ada Kekuatan yang Tak Terlihat

    Dr.KH Soleh Rosyad, Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima

    Tadabbur Surat Al-Baqarah ayat 153:

    Ayat ini sangat populer, bahkan sebagian besar dari kita telah menghafalnya. Namun, dalam tingkat pengamalannya, ayat ini membutuhkan mujahadah (kesungguhan), membutuhkan ilmu, pengalaman, serta praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 153:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

    Ayat ini dimulai dengan panggilan yang sangat mulia, “Wahai orang-orang yang beriman.” Ini menunjukkan bahwa pesan yang terkandung di dalamnya adalah bekal utama bagi setiap mukmin dalam menghadapi seluruh dinamika kehidupan.

    Dalam kondisi apa pun, seorang mukmin harus senantiasa melakukan mi’raj kepada Allah, dan mi’raj orang-orang beriman itu adalah salat. Ketika hati sempit, pikiran gelisah, atau persoalan hidup terasa berat, tempat kembali terbaik bukanlah kepada manusia, melainkan kepada Allah melalui salat.

    Ayat ini juga memerintahkan orang-orang beriman agar meminta pertolongan kepada Allah untuk meraih pahala akhirat. Mengapa akhirat? Karena ketika seseorang menjadikan akhirat sebagai tujuan utama, dunia akan datang mengikutinya.

    Seperti orang yang menanam padi, ia akan mendapatkan rumputnya sekaligus. Tetapi orang yang hanya menanam rumput, ia tidak akan pernah memperoleh padi. Demikian pula kehidupan ini; ketika seseorang menanam tujuan akhirat, dunia akan Allah sertakan sebagai bonus.

    Sebaliknya, jika yang dikejar hanya dunia, belum tentu akhirat dapat diraih. Karena itu, mintalah kepada Allah ganjaran-ganjaran ukhrawi, keberkahan hidup, ilmu yang bermanfaat, hati yang tenang, dan husnul khatimah. Niscaya urusan dunia akan Allah cukupkan. Jalan untuk meraih semua itu adalah dengan bersabar, berdoa, berikhtiar, lalu menegakkan salat.

    Di dalam salat terkandung doa, zikir, ketundukan, penghambaan, dan penyerahan total seorang hamba kepada Rabb-nya. Setelah melaksanakan salat, jangan berhenti pada ibadah semata. Teruslah melangkah dengan penuh kesabaran dan terimalah setiap persoalan dengan hati yang lapang. Sabar yang dimaksud dalam ayat ini bukanlah sikap pasif yang hanya diam menerima keadaan, melainkan sabar yang hidup, sabar yang bergerak, sabar yang disertai doa, usaha, dan keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu dekat.

    Ketika seseorang sedang sakit, misalnya, ia diperintahkan untuk bersabar dengan terus berdoa dan berikhtiar. Kesabaran bukan berarti menyerah pada keadaan, tetapi tetap berusaha mencari pengobatan terbaik sambil menggantungkan harapan sepenuhnya kepada Allah. Pikiran harus dijaga agar tetap positif dan penuh husnuzan, karena pikiran yang negatif hanya akan memperberat beban dan memperdalam persoalan yang sedang dihadapi.

    Demikian pula ketika kita menjenguk orang yang sakit, hadirkanlah hati yang tulus, ucapan yang menenangkan, dan doa yang menguatkan. Berikan dukungan dan harapan, bukan prasangka atau perkataan yang melemahkan, sebab sering kali semangat dan doa yang baik menjadi obat yang tidak kalah penting dari pengobatan itu sendiri.

    Para mufasir menjelaskan bahwa sabar memiliki makna yang sangat luas. Ia mencakup kesabaran ketika ditimpa musibah, yaitu kemampuan hati untuk tetap tenang, tidak berkeluh kesah secara berlebihan, serta tetap berbaik sangka kepada Allah saat ujian datang. Ia juga mencakup kesabaran dalam menjauhi apa yang diharamkan oleh Allah, yakni kemampuan menahan diri dari godaan, hawa nafsu, dan segala yang dilarang, meskipun kesempatan dan keinginan terbuka lebar.

    Bahkan kesabaran dalam meninggalkan yang haram memiliki derajat yang sangat tinggi, karena ujianya terjadi di dalam diri kita sendiri. Jika sabar saat musibah berat karena ujian datang dari luar, maka sabar dalam menjauhi maksiat sering kali lebih berat karena tantanganya ada di dalam hati.

    Namun kesabaran saja tidak cukup. Ia harus disertai doa yang sungguh-sungguh, ikhtiar yang maksimal, dan komitmen untuk tetap berada dalam batas-batas yang Allah tetapkan. Ketika ujian hidup datang, kita bersabar. Ketika godaan maksiat muncul, kita pun bersabar. Di situlah letak kemuliaan seorang hamba. Karena itu, bagi generasi muda yang hidup di tengah banyaknya tantangan, godaan, dan persoalan zaman, jagalah diri dengan kesabaran dan ikhtiar. Jadikan sabar bukan sekadar kata yang indah di lisan, tetapi sikap hidup yang menjaga kehormatan diri di hadapan Allah.

    Sebagian ulama juga menjelaskan bahwa sabar terwujud melalui ibadah puasa. Orang yang berpuasa termasuk golongan orang-orang yang sabar karena ia melatih dirinya untuk menahan lapar, dahaga, serta menahan hawa nafsu. Puasa bukan sekadar menahan diri secara fisik, tetapi pendidikan jiwa yang melatih keteguhan hati, pengendalian diri, dan keikhlasan. Bahkan disebutkan bahwa puasa adalah setengah dari kesabaran, karena di dalamnya terkandung unsur menahan dan mengendalikan diri secara menyeluruh.

    Meski demikian, salat memiliki kedudukan yang lebih agung dalam menghadapi ketetapan Allah atas berbagai persoalan hidup. Salat adalah tempat seorang hamba bersimpuh, mengadu, menangis, dan menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah.

    Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan yang sangat agung. Ketika beliau menghadapi persoalan atau kesulitan, beliau tidak larut dalam keluhan dan tidak tenggelam dalam kegelisahan, melainkan segera mendirikan salat. Inilah pelajaran besar bagi kita: ketika masalah datang, jangan mengeluh kepada manusia, tetapi segeralah menghadap Allah melalui salat.

    Memang, salat terasa berat, terlebih jika ingin melaksanakannya dengan khusyuk dan penuh kesadaran. Namun justru di situlah letak kemuliaannya. Salat yang dijaga dengan baik akan melahirkan ketenangan jiwa, kekuatan batin, dan kejernihan hati. Dari salat lahir kesadaran bahwa kita lemah sedangkan Allah Mahakuat, kita terbatas sedangkan Allah Mahaluas pertolongan-Nya.

    Kesadaran inilah yang seharusnya menjaga kita dalam kehidupan sehari-hari. Jangan pernah meremehkan pelanggaran kecil, sebab dosa besar sering kali berawal dari dosa-dosa kecil yang dibiarkan, diulang, lalu berubah menjadi kebiasaan. Apa yang semula dianggap sepele, perlahan mengeras menjadi karakter. Karena itu, pangkaslah kelonggaran diri terhadap dosa sekecil apa pun, termasuk kebohongan kecil. Kebohongan yang terus diulang bukan hanya menumpuk dosa, tetapi juga merusak kejujuran hati dan integritas diri.

    Namun jika seseorang terlanjur melakukan kesalahan, jangan pernah berputus asa. Segeralah kembali kepada Allah dengan memperbanyak istigfar. Rasulullah ﷺ yang telah dijamin surga saja tetap memperbanyak istigfar setiap hari dan menjaga salatnya dengan penuh kesungguhan. Jika beliau yang maksum saja demikian, maka terlebih lagi kita yang penuh kekurangan dan kelalaian.

    Maka ayat ini menjadi motivasi besar bagi kita untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari: sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar dalam meninggalkan larangan, dan sabar ketika menghadapi musibah. Dalam setiap keadaan, baik lapang maupun sempit, perbanyaklah istigfar. Di sanalah terdapat pembersih hati, penghapus dosa, penenang jiwa, dan pintu turunnya pertolongan Allah. (Tim Redaksi)

  • Luasnya Kalam Allah dan Jalan Menuju Ridha-Nya

    Luasnya Kalam Allah dan Jalan Menuju Ridha-Nya

    Dr.KH.Soleh Rosyad,(Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima)

    Tadabbur QS. Al-Kahfi: 109–110

    Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

    قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا ۝ قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

    Artinya:“Katakanlah (Muhammad), ‘Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya habislah lautan itu sebelum selesai (dituliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu pula.’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah dia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”( QS. Al-Kahfi: 109–110)

    Ayat ini menggambarkan betapa luas dan tidak terbatasnya kalimat-kalimat Allah. Seandainya seluruh lautan dijadikan tinta untuk menuliskan ilmu, hikmah, dan ketetapan Allah, niscaya lautan itu akan habis sebelum kalimat-kalimat-Nya selesai dituliskan, meskipun ditambah lagi berkali-kali lipat. Ini menunjukkan bahwa ilmu Allah tidak berbatas, sementara makhluk memiliki keterbatasan.

    Para ulama tafsir, seperti dalam Tafsir Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa perintah “qul” (katakanlah) yang ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ juga berlaku bagi seluruh umatnya. Artinya, pesan ini bukan hanya untuk beliau, tetapi untuk seluruh manusia agar menyadari kebesaran Allah dan mengamalkannya dalam kehidupan.

    Dalam ayat lain, Allah ﷻ juga menegaskan dalam QS. Luqman ayat 27:

    وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِن شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنۢ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

    “Dan seandainya semua pohon yang ada di bumi menjadi pena, dan lautan (menjadi tinta), lalu ditambah kepadanya tujuh lautan lagi (sebagai tinta), niscaya tidak akan habis kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

    Ayat ini menegaskan bahwa seandainya seluruh pohon di bumi dijadikan pena dan seluruh lautan dijadikan tinta, bahkan ditambah lagi tujuh lautan setelahnya, tetap tidak akan mampu menuliskan seluruh kalimat-kalimat Allah. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu, hikmah, dan ketetapan Allah tidak memiliki batas, sementara segala sesuatu selain-Nya memiliki keterbatasan dan akan berakhir. Inilah bukti kesempurnaan sifat Allah, yang meliputi qudrah dan iradah-Nya yang tidak mampu dijangkau secara sempurna oleh akal manusia.

    Pemahaman ini seharusnya menumbuhkan kesadaran dalam diri kita untuk senantiasa berdzikir dan mendekatkan diri kepada Allah. Kalimat Laa ilaaha illallah bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi memiliki bobot yang sangat besar di sisi Allah. Dalam hadits qudsi dijelaskan bahwa kalimat tauhid mampu mengalahkan dosa-dosa yang begitu banyak. Maka sungguh beruntung orang yang lisannya senantiasa berdzikir, hatinya hidup dengan keimanan, dan amalnya berjalan dalam ketaatan kepada Allah.

    Kebenaran Allah adalah sesuatu yang kokoh, tegak, dan tidak akan pernah runtuh, sedangkan segala sesuatu selain-Nya pasti akan fana dan sirna. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita menjadikan nilai-nilai Ilahi sebagai landasan dalam setiap aspek kehidupan, agar setiap langkah yang kita tempuh memiliki arah yang jelas, terarah, dan senantiasa menuju ridha-Nya.

    Dalam menjalani kehidupan ini, manusia dituntut untuk berikhtiar dengan sungguh-sungguh. Tidak ada jaminan bagi seseorang untuk meraih surga tanpa usaha dan perjuangan. Amal shalih, dzikir, doa, dan mujahadah adalah jalan yang harus ditempuh dengan penuh kesungguhan. Jika sekadar urusan rezeki, bahkan makhluk melata pun telah dijamin oleh Allah. Namun untuk meraih kebahagiaan akhirat dan surga-Nya, dibutuhkan kesabaran, ketekunan, serta kesungguhan dalam beribadah dan beramal.

    Setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan membuahkan hasil. Tanpa usaha, tidak akan ada buah yang dapat dipetik. Namun di balik semua itu, kita tetap harus menyadari keterbatasan diri sebagai hamba. Kita tidak akan mampu memuji Allah dengan pujian yang benar-benar sempurna sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, ucapan Alhamdulillah menjadi doa terbaik, sebagai ungkapan syukur dan pengakuan atas segala nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita.

    Dalam kehidupan sosial, kita diajarkan untuk menjadi pribadi yang ringan dalam kebaikan. Sedekah bukanlah beban, melainkan energi yang menghidupkan amal. Dengan sedekah, shalat, dan zakat, amal-amal kebaikan menjadi lebih bermakna. Sudah seharusnya kita mudah memberi, mudah tersenyum, dan mudah membahagiakan orang lain.

    Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa beliau hanyalah manusia yang tidak mengetahui perkara gaib kecuali apa yang diwahyukan oleh Allah. Semua yang beliau sampaikan, termasuk kisah-kisah terdahulu seperti Ashabul Kahfi, adalah wahyu dari Allah, bukan karangan manusia. Ini menjadi bukti bahwa risalah yang beliau bawa adalah kebenaran yang hak.

    Amal shalih harus dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat. Tidak boleh seseorang beribadah berdasarkan keinginannya sendiri tanpa mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ. Ibadah harus benar secara lahir dan ikhlas secara batin. Jika salah satunya tidak terpenuhi, maka amal tersebut tidak akan sempurna. Keikhlasan adalah inti dari setiap amal. Secara fiqih, ibadah bisa saja sah jika memenuhi syarat dan rukun, tetapi agar diterima di sisi Allah, harus dilandasi dengan keikhlasan dan ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ. Inilah yang menjadikan amal itu bernilai tinggi.

    Semakin bertambah ilmu seseorang, semakin terbuka pula pintu hidayah baginya, dan semakin bertambah keimanannya. Oleh karena itu, menuntut ilmu dan mengamalkannya adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.Dalam kehidupan pribadi, kita juga harus menjaga diri dari hal-hal yang merusak masa depan. Hubungan yang tidak sesuai syariat, meskipun tampak indah, sejatinya dapat merusak kehidupan. Jika mencintai seseorang, maka tempuhlah jalan yang halal. Fokuslah pada perbaikan diri. Seluruh perjalanan hidup ini harus diarahkan kepada Allah. Setiap amal, niat, dan langkah hendaknya dilandasi dengan keikhlasan dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ. Dengan demikian, ibadah kita tidak hanya sah, tetapi juga diterima dan bernilai di sisi Allah.(Tim Redaksi)

     

  • Pengajian Rutin MUI Kecamatan Majasari: Memperkuat Ukhuwah dan Keimanan Umat

    Pengajian Rutin MUI Kecamatan Majasari: Memperkuat Ukhuwah dan Keimanan Umat

    Pandeglang-Pengajian Rutin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang, diselenggarakan pada Selasa, 21 April 2026, bertempat di aula Pondok Pesantren Kun Karima.

    Kegiatan ini berlangsung dengan khidmat dan dihadiri oleh para ulama, tokoh masyarakat, serta jamaah dari berbagai wilayah di Kecamatan Majasari.

    Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang menambah suasana penuh kekhusyukan. Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh perwakilan pengurus MUI Kecamatan Majasari yang menekankan pentingnya menjaga ukhuwah islamiyah serta meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan di tengah dinamika kehidupan masyarakat saat ini.

    Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pengajian umum. Kajian pertama disampaikan oleh Kiai Yogi dari Pondok Pesantren Miftahul Huda Yunusia (Telaga), kajian kedua diisi oleh KH. Munjaji (Jarokasang)

    Dalam kesempatan tersebut, Dr. KH. Soleh Rosyad selaku Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima menyampaikan bahwa pengajian rutin ini menjadi wadah silaturahmi sekaligus sarana menambah ilmu agama bagi masyarakat. Dengan terselenggaranya kegiatan ini secara konsisten, diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam membentuk pribadi muslim yang lebih baik serta memperkuat persatuan umat, khususnya di wilayah Kecamatan Majasari.

    Melalui kegiatan ini, semangat kebersamaan dan nilai-nilai keislaman diharapkan terus tumbuh dan mengakar dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. (Tim Redaksi)