Penulis: Bagian Penulisan

  • Wakaf Kun Karima Terima Rekomendasi BWI Provinsi Banten, Perkuat Sinergi Pengelolaan Wakaf Uang

    Wakaf Kun Karima Terima Rekomendasi BWI Provinsi Banten, Perkuat Sinergi Pengelolaan Wakaf Uang

    Pandeglang- Wakaf Kun Karima (Great Trust Fund) resmi menerima rekomendasi dari Badan Wakaf Indonesia (BWI) Provinsi Banten untuk mengelola wakaf uang.(Kamis, 16 April 2026)

    Momentum ini sekaligus dirangkaikan dengan pertemuan bersama pengelola wakaf uang Kun Karima (Great Trust Fund) dan BWI Provinsi Banten dalam rangka memperkuat sinergi serta meningkatkan kualitas tata kelola wakaf secara profesional dan berkelanjutan.

    Rekomendasi yang diberikan oleh Badan Wakaf Indonesia Provinsi Banten menjadi bukti bahwa Wakaf Kun Karima telah memenuhi standar kelayakan sebagai nadzir wakaf uang, baik dari sisi legalitas, kelembagaan, maupun kapasitas manajerial. Hal ini membuka peluang lebih luas bagi Wakaf Kun Karima untuk berkontribusi dalam pengembangan wakaf produktif di tengah masyarakat.

    Dalam kesempatan tersebut, pihak Badan Wakaf Indonesia Provinsi Banten juga memberikan arahan dan pembinaan terkait pengelolaan wakaf uang yang sesuai dengan prinsip syariah dan regulasi yang berlaku. Diskusi yang berlangsung menekankan pentingnya transparansi, akuntabilitas, serta inovasi dalam mengelola dana wakaf agar dapat memberikan manfaat maksimal bagi umat.

    Dr.KH.Soleh Rosyad, pendiri Wakaf Kun Karima (Great Trust Fund), menyampaikan rasa syukur dan komitmennya untuk menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya. “Rekomendasi ini menjadi motivasi sekaligus tanggung jawab besar bagi kami untuk mengelola wakaf uang secara profesional dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ungkap pendiri wakaf Kun Karima

    Ke depan, Wakaf Kun Karima (Great Trust Fund) berencana mengembangkan berbagai program berbasis wakaf produktif, seperti penguatan sektor pendidikan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta kegiatan sosial keagamaan yang berkelanjutan. Sinergi dengan Badan Wakaf Indonesia Provinsi Banten diharapkan mampu menjadi fondasi kuat dalam membangun ekosistem wakaf yang lebih maju dan berdampak luas.

    Dengan diterimanya rekomendasi ini, Wakaf Kun Karima diharapkan dapat menjadi salah satu pelopor pengelolaan wakaf uang di Provinsi Banten, sekaligus mendorong meningkatnya kesadaran masyarakat untuk berwakaf sebagai bagian dari solusi dalam penguatan ekonomi umat.(Tim Redaksi)

  • Langkah yang Terarah, Hidup yang Berkah

    Langkah yang Terarah, Hidup yang Berkah

    Dr.KH Soleh Rosyad, Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima

    Setiap manusia yang keluar dari rumah hendaknya memiliki tujuan. Jangan pernah melangkah tanpa arah, karena langkah tanpa tujuan akan mudah diombang-ambing oleh keadaan, terbawa ke mana arah angin berhembus.

    Dalam kondisi seperti itu, setan akan datang menawarkan “jasa”, mengajak dan mengarahkan kepada hal-hal yang tidak baik. Na‘udzubillahi min dzalik.

    Oleh karena itu, setiap langkah harus dilandasi dengan tujuan yang jelas dan niat yang benar. Terlebih bagi mereka yang memilih jalan menuntut ilmu.

    Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qasas ayat 77:

    وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

    Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

    Ayat inilah yang dijadikan landasan filosofis oleh Kyai Rifa’i dalam mendirikan Pondok Pesantren Latansa. Maknanya sangat dalam: jangan pernah lupa kepada tempat kembali, yaitu akhirat, dan jangan pernah lupa kepada Tuhan kita, Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Di dalamnya terkandung falsafah keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat, antara ilmu agama dan ilmu umum. Pesantren mengajarkan kita hidup seimbang, menjunjung nilai kemanusiaan, tanpa meninggalkan nilai spiritualitas dan religiusitas.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
    Artinya: “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan memahamkannya tentang agama.” (Shahih al-Bukhari (no. 71) dan Shahih Muslim (no. 1037).

    Kalian bersama orang tua telah memilih pesantren sebagai tempat menuntut ilmu. Maka pertanyaan yang selalu digaungkan adalah: Apa yang kau cari di pesantren? Jawabannya sederhana namun mendalam: “Thalabul ‘ilmi lil ‘ibadah, atau ibadah thalabul ‘ilmi.”

    Mencari ilmu untuk ibadah, atau ibadah menuntut ilmu. Kita belajar bukan sekadar untuk ijazah atau pekerjaan, tetapi sebagai bentuk penghambaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya bahwa manusia dan jin diciptakan tidak lain kecuali untuk beribadah kepada-Nya.

    Dalam Islam, ibadah terbagi menjadi dua: ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah adalah ibadah yang tata caranya langsung ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti shalat. Tidak bisa diubah atau dianalogikan. Mengapa harus takbir, ruku’, sujud, dan seterusnya? Karena semua itu adalah ketetapan Allah yang diajarkan melalui Nabi Muhammad ﷺ.

    Shalat adalah mi’rajnya orang beriman. Barang siapa ingin dekat dengan Allah, ingin mengadu, berdoa, dan memohon kepada-Nya, maka dirikanlah shalat.

    Adapun ibadah ghairu mahdhah adalah seluruh aktivitas yang kita lakukan selama tidak melanggar syariat dan diniatkan karena Allah. Termasuk di dalamnya adalah belajar, mengajar, bekerja, dan berbuat kebaikan kepada sesama.

    Namun inti dari semua ibadah, baik mahdhah maupun ghairu mahdhah, adalah ruh keikhlasan. Tanpa ikhlas, ibadah hanya menjadi gerakan tanpa makna. Kita mungkin telah melaksanakan shalat dengan rukun dan syarat yang sempurna, tetapi belum tentu diterima di sisi Allah jika tidak dilandasi keikhlasan.

    Oleh karena itu, persiapkan diri sebelum shalat, sebagaimana kita mempersiapkan diri ketika hendak menghadap manusia yang mulia. Maka lebih pantas lagi kita mempersiapkan diri ketika menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Dengan demikian, luruskan niat, kuatkan tujuan, dan jalani setiap proses dengan kesungguhan. Karena di pesantren inilah kalian sedang membangun fondasi kehidupan, bukan hanya untuk dunia, tetapi juga untuk akhirat. (Tim Redaksi)

  • Makna Pengabdian dalam Kehidupan

    Makna Pengabdian dalam Kehidupan

    Dr. KH. Soleh Rosyad, Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima

    Tadabbur Surat An-Najm 24-26

    أَمْ لِلْإِنسَانِ مَا تَمَنَّىٰ ﴿٢٤﴾ فَلِلَّهِ الْآخِرَةُ وَالْأُولَىٰ ﴿٢٥﴾ وَكَم مِّن مَّلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِنۢ بَعْدِ أَن يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَن يَشَاءُ وَيَرْضَىٰ ﴿٢٦

    Artinya: “Apakah manusia akan mendapatkan segala yang dicita-citakannya? (Tidak.) Maka milik Allah-lah akhirat dan dunia. Dan betapa banyak malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna, kecuali setelah Allah mengizinkan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridhai.”

    Dari ayat ini kita memahami bahwa tidak semua keinginan manusia akan terwujud, karena seluruh urusan berada dalam genggaman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang menentukan, kepada siapa diberikan dan kepada siapa ditahan. Jika Allah telah memberi, tidak ada yang mampu menghalangi, dan jika Allah menahan, tidak ada yang mampu memberi.

    Sebagai seorang muslim, kita memiliki tujuan hidup di dunia dan di akhirat. Namun yang harus diutamakan adalah akhirat, karena ia bersifat kekal dan abadi, sedangkan dunia hanyalah sementara. Meski demikian, dunia tidak boleh diabaikan, karena ia adalah ladang untuk menanam amal menuju akhirat.

    Apakah semua usaha akan berhasil? Tidak selalu, karena keberhasilan sejati adalah ketika Allah meridhai usaha kita. Oleh sebab itu, keberhasilan lebih dekat kepada orang-orang yang beriman, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta bersungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan.

    Dari sinilah pentingnya pengabdian. Pengabdian harus diutamakan, karena orang yang tidak mampu menyerap makna dan nilai-nilai pengabdian, maka hasilnya akan nihil. Jangan sampai lelah dalam mengabdi, tetapi tidak mendapatkan ruh dari pengabdian itu sendiri. Padahal, pengabdian yang dilakukan dengan benar akan menghantarkan seseorang menuju kesuksesan.

    Pengabdian harus dimulai dengan niat yang lurus, yaitu niat ibadah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, tanpa penyesalan, tanpa keraguan, dan tanpa keinginan untuk mundur. Kemudian dibarengi dengan tawakal kepada Allah, niat untuk memberi manfaat kepada orang lain, serta komitmen dan istiqamah dalam menjalankan amanah.

    Jika pengabdian dilandasi dengan niat seperti itu, maka akan melahirkan kemanfaatan bagi diri sendiri dan orang lain. Karena sejatinya, kemanfaatan itulah yang disebut dengan amal shalih, yaitu segala bentuk kebaikan yang disebarkan kepada manusia dan tidak bertentangan dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika seseorang telah memiliki dua indikator, yaitu taat dan bermanfaat, maka itulah hakikat amal shalih yang sesungguhnya.

    Ketaatan di pondok, baik dalam ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah, merupakan bentuk pengabdian yang nyata, yang menjaga aqidah, membentuk kedisiplinan, serta menyebarkan ilmu dan dakwah kepada para santri. Dari sinilah lahir generasi yang tidak merugi dalam hidupnya, yaitu mereka yang beriman dan beramal shalih.

    Oleh karena itu, kita harus terus memotivasi diri untuk melangkah ke depan, dengan kesadaran bahwa kita peduli terhadap umat, peduli terhadap bangsa, peduli terhadap kebenaran, dan peduli terhadap generasi masa depan. Apa yang kita nikmati hari ini adalah hasil dari perjuangan panjang para pendahulu, dari keringat, air mata, bahkan darah mereka.

    Maka sudah seharusnya kita berada di garda terdepan untuk mewariskan bangsa ini kepada generasi berikutnya dalam keadaan yang lebih baik, penuh kemerdekaan, kedaulatan, kesuksesan, dan kebahagiaan. Caranya adalah dengan menjadi manusia yang bermanfaat, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Khairunnas anfa’uhum linnas,” sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

    Maka kita harus mengubah cara pandang kita, dari sekadar mengejar kepentingan pribadi menjadi pribadi yang memberi manfaat bagi orang lain, masyarakat, bangsa, bahkan dunia.

    Namun kemanfaatan itu tidak akan terwujud tanpa ketaatan. Ketaatan kepada Allah, kepada Rasulullah SAW, kepada guru, kepada orang tua, dan kepada sistem adalah bagian dari amal shalih yang akan melahirkan keberkahan. Amal shalih itu sendiri merupakan bagian dari dakwah, yaitu meneruskan estafet perjuangan Rasulullah SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam. Dakwah tidak hanya dengan lisan, tetapi juga dengan perbuatan, keteladanan, dan upaya mencegah kemungkaran, baik secara langsung maupun dengan pendekatan antisipatif agar manusia tidak terjerumus ke dalam keburukan.

    Ketaatan dan kemanfaatan akan membentuk kedewasaan berpikir. Orang yang terbiasa mengabdi akan memiliki pandangan hidup yang lebih matang. Karena itu, kebenaran yang tidak dikelola dengan baik bisa dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir dengan rapi. Maka tidak salah jika para kiai memiliki cita-cita besar untuk melahirkan generasi santri yang mampu hadir di berbagai bidang kehidupan, menjadi pemimpin, pengusaha, birokrat, aparat negara, dan berbagai profesi lainnya, namun tetap menjaga nilai keikhlasan dan keimanan.

    Ke mana pun kita melangkah setelah masa pengabdian, baik ke dalam negeri maupun luar negeri, ke kota besar atau kembali ke kampung halaman, jangan pernah melepaskan keimanan. Tetaplah kokoh dan kuat. Jalani proses dengan sabar, karena kesuksesan tidak datang secara instan. Justru dalam pengabdian, kita sedang mengumpulkan kekuatan yang luar biasa, kekuatan fisik, kekuatan akal, kekuatan mental, kekuatan akhlak, dan kekuatan spiritual. Pengabdian bukanlah waktu yang hilang, melainkan proses penguatan diri yang akan menjadi bekal kesuksesan di masa depan.

    Sebagai bagian dari pesantren, kita harus menyadari bahwa pesantren adalah khazanah besar dan benteng terakhir dalam menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Di tengah berbagai tantangan zaman, pesantren dan para santri menjadi garda terdepan dalam menjaga aqidah, persatuan, dan keutuhan bangsa.

    Maka selama kita bersatu, kita akan kuat. Dengan nilai keislaman yang akomodatif dan peran aktif para santri, masa depan umat dan bangsa akan tetap terjaga. Oleh karena itu, jangan heran jika tantangan terus datang, karena di balik itu semua ada potensi besar kebangkitan. Dan kebangkitan itu, insyaAllah, akan lahir dari mereka yang ikhlas dalam beriman, istiqamah dalam beramal, dan sungguh-sungguh dalam mengabdi.(Tim Redaksi )

  • Memaknai 24 Jam sebagai Ruang Kelas Pendidikan

    Memaknai 24 Jam sebagai Ruang Kelas Pendidikan

    Kun Karima-Kegiatan kumpul perdana pasca liburan Idul Fitri 1447 H, yang dilaksanakan pada tanggal 07 April 2026 bertempat di Aula Pondok Pesantren Kun Karima, menjadi momentum penting untuk kembali menata niat, semangat, dan arah perjuangan kita.

    Dalam kesempatan tersebut, Dr. KH. Soleh Rosyad selaku Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima menyampaikan bahwa kehidupan di pondok pesantren, meskipun sederhana, sesungguhnya merupakan bekal yang sangat berharga. Kesederhanaan itu justru menjadi kekuatan untuk memotivasi kita agar dalam melakukan setiap pekerjaan harus dengan kesungguhan dan penuh tanggung jawab.

    Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

    “إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ”
    “Innallāha yuḥibbu idzā ‘amila aḥadukum ‘amalan an yutqinah.”

    Artinya:
    “Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (sungguh-sungguh, profesional, dan sempurna).” Silsilah al-Aḥādīts aṣ-Ṣaḥīḥah, no. 1113.

    Jika Allah mencintai, berarti Allah meridhai. Dan ketika Allah telah ridha, maka segala harapan, cita-cita, dan apa yang terlintas dalam hati serta pikiran kita akan dimudahkan dan dikabulkan oleh-Nya. Namun semua itu harus diawali dengan niat yang tulus, semata-mata mengharap ridha Allah, serta diiringi dengan peningkatan kesungguhan dalam berusaha.

    Oleh karena itu, anak-anakku sekalian, jadikan semester ini sebagai semester yang lebih baik. Semester yang penuh peningkatan dibandingkan semester-semester sebelumnya. Jadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin dalam belajar, dalam niat, dalam prestasi, dan dalam akhlak.

    Barang siapa hari ini lebih baik dari kemarin, dengan tekad dan niat yang kuat, maka ia termasuk orang yang beruntung. Beruntung karena mendapatkan nilai tambah, beruntung karena memperoleh kebaikan-kebaikan, beruntung karena mendapatkan ridha Allah, serta beruntung karena dimudahkan dalam setiap urusannya.

    Niat yang tulus akan melahirkan mujahadah (kesungguhan). Dan dari mujahadah itulah lahir keberkahan hidup.

    Maka perlu kita tegaskan kembali: niatkan segala sesuatu karena Allah, tingkatkan kesungguhan, dan bertekadlah menjadi pribadi yang lebih baik dari masa lalu. Dengan demikian, kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung, sebagaimana janji Allah bahwa Allah tidak akan pernah mengingkari janji-Nya.

    Namun, semua itu tidak datang secara instan. Ada proses yang harus ditempuh, ada aturan (SOP) yang harus dijalankan, ada disiplin yang harus ditegakkan, serta komitmen dan istiqamah yang harus dijaga.

    Dalam kehidupan sehari-hari di pondok, bangunlah lingkungan pertemanan yang baik. Jadikan teman-teman kita sebagai sahabat yang saling memotivasi dalam kebaikan. Jangan pernah memiliki musuh satu musuh terlalu banyak, sedangkan sejuta teman masih terasa kurang.

    Kelak, dalam kehidupan, kita akan sangat membutuhkan banyak teman. Oleh karena itu, jangan pilih-pilih teman kecuali berdasarkan kebaikan. Berprasangkalah baik (husnuzan) kepada semua teman, karena mereka semua adalah pilihan terbaik yang telah diantarkan oleh orang tua dengan niat yang baik.

    Semua yang ada di sini layak menjadi teman, layak menjadi sahabat, dan layak menjadi mitra dalam kebaikan. Sebagaimana pesan Kiai, di pondok ini seluruh aktivitas selama 24 jam harus mengandung nilai pendidikan. Dalam kegiatan belajar mengajar (KBM), harus ada nilai pendidikan.

    Dalam ritme kehidupan sekolah, harus ada pendidikan. Dalam interaksi antara guru dan santri, harus ada pendidikan. Dalam jamaah, dalam kebersamaan, dalam organisasi pesantren semuanya harus bernilai pendidikan. Bahkan di asrama, dalam kehidupan sehari-hari selama 24 jam, harus dipastikan mengandung pendidikan.

    Inilah dasar-dasar penting yang harus kita pahami bersama, agar setiap langkah kita di pondok pesantren benar-benar menjadi proses pembentukan ilmu, akhlak, dan masa depan yang lebih baik.(TIM Redaksi Kun Karima)

  • Dari Santri, Surat Cinta untuk Negeri

    Dari Santri, Surat Cinta untuk Negeri

    Wahai Negeri tercinta, Indonesia.

    Engkau adalah anugerah dari Allah, tanah yang subur, laut yang luas, dan budaya yang kaya. Engkau bukan sekadar batas geografis, melainkan rumah besar bagi seluruh anak bangsa. Di bumi pertiwi inilah kami tumbuh, belajar, dan bermimpi. Engkau berdiri kokoh karena doa para ulama, perjuangan para pahlawan, dan pengorbanan jutaan jiwa yang mewariskan kata merdeka.

    Namun kini, di era globalisasi dan digitalisasi, tantanganmu semakin kompleks. Bukan lagi penjajahan fisik yang di hadapi melainkan penjajahan pemikiran, budaya, dan moral. Generasi muda diuji dengan derasnya arus teknologi, budaya instan, serta krisis karakter yang mengikis nilai-nilai luhur bangsa. Hoaks, intoleransi, degradasi moral, dan kesenjangan pendidikan adalah masalah yang harus kita jawab bersama.

    Wahai negeri, jangan pernah merasa sendiri. Kami, para santri, hadir sebagai bagian dari generasi muda yang siap menjadi penjaga sekaligus penerusmu. Di pesantren, kami belajar bukan hanya membaca kitab kuning, tetapi juga membaca realitas zaman. Kami ditempa dengan nilai ikhlas, disiplin, kesederhanaan, dan kepedulian sosial, yang menjadi bekal untuk terjun ke masyarakat.

    Surat ini adalah bukti cinta kami kepadamu. Cinta yang tidak berhenti pada slogan, tetapi diwujudkan dalam ilmu, akhlak, dan karya nyata. Kami yakin, pendidikan adalah kunci untuk membangun peradaban. Dengan ilmu, bangsa akan maju; dengan akhlak, bangsa akan bermartabat; dengan karya, bangsa akan dikenal dunia.

    Wahai negeri, cinta kami adalah cinta yang mendidik. Kami ingin menjadi santri yang tidak hanya pandai berdoa, tetapi juga cakap berinovasi. Tidak hanya menghafal ilmu, tetapi juga mengamalkannya. Tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menyesuaikan diri dengan tantangan modern. Karena kami percaya, bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu menyelaraskan.

    Wahai negeri, kami tahu perjalananmu tidak mudah. Akan ada krisis, cobaan, bahkan perpecahan yang mencoba melemahkanmu. Tetapi selama masih ada santri yang istiqamah dalam doa, semangat dalam belajar, dan tulus dalam berjuang, engkau akan selalu memiliki masa depan.

    Surat ini adalah janji kami, wahai negeri: Bahwa Indonesia akan selalu kami cintai, kami jaga, dan kami bangun dengan seluruh tenaga, pikiran, dan doa. Karena bagi kami, mencintaimu bagian dari iman, dan mengabdi kepadamu adalah wujud syukur kepada Allah. Dengan cinta, ilmu, dan peradaban, kami yakin engkau akan menjadi bangsa yang adil, makmur, berdaulat, dan penuh berkah.

    Doa Kami untuk Negeri Tercinta:

    اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ وَفِتْنَةٍ وَتَفَرُّقٍ،
    وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا سَخَاءً رَخَاءً سَعِيدًا،
    اللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِلْعَدْلِ وَالْحِكْمَةِ وَالأَمَانَةِ،
    وَبَارِكْ فِيْ أَرْضِنَا وَبِحَارِنَا وَخَيْرَاتِنَا،
    وَاجْعَلْ أَبْنَاءَنَا وَشَبَابَنَا وَخُصُوْصًا طُلَّابَ الْعِلْمِ وَالْخُرُوْجَ مِنَ الْمَعَاهِدِ وَالْمَدَارِسِ وَالْمَعَاهِدِ الدِّيْنِيَّةِ،
    قُدْوَةً صَالِحَةً فِي الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ وَالدَّعْوَةِ إِلَى الْخَيْرِ.

    اللَّهُمَّ اجْعَلْ إِنْدُونِيسِيَا بَلْدَةً طَيِّبَةً وَرَبٌّ غَفُوْرٌ.

     

    Ya Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

    Jagalah negeri kami Indonesia dari segala keburukan, fitnah, dan perpecahan. Jadikanlah negeri yang aman, tenteram, sejahtera, dan penuh kebahagiaan.

    Ya Allah, bimbinglah para pemimpin kami agar berlaku adil, bijaksana, dan amanah. Berkahilah tanah kami, lautan kami, dan segala sumber daya kami.

    Jadikanlah generasi muda, khususnya para santri dan penuntut ilmu, sebagai teladan yang baik dalam ilmu, amal, dan dakwah menuju kebaikan. Ya Allah, jadikan Indonesia negeri yang Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur negeri yang damai, adil, makmur, dan dalam naungan ampunan-Mu. (Tim Redaksi)

  • Kembali ke Pesantren, Menjemput Masa Depan

    Kembali ke Pesantren, Menjemput Masa Depan

    Selamat kembali berjuang, wahai para santri.

    Hari ini langkah kalian kembali menuju pesantren. Bukan tanpa rasa, ada rindu yang tertinggal di rumah, ada pelukan yang harus dilepaskan, dan ada air mata yang mungkin diam-diam jatuh di perjalanan.

    Namun di balik itu semua, tersimpan niat yang begitu mulia. Kalian pergi bukan sekadar untuk belajar, tetapi untuk menjemput masa depan, memperbaiki diri, dan menggapai ridha Allah.

    Pesantren akan kembali menjadi saksi perjalanan kalian. Di sanalah kalian belajar bertahan dalam rindu, bersabar dalam lelah, dan tetap tersenyum meski hati ingin pulang. Tidak selalu mudah, bahkan sering terasa berat. Namun justru dari situlah kalian akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat.

    Setiap langkah yang terasa berat, Allah hitung sebagai ibadah.

    Setiap rindu yang kalian simpan, menjadi doa yang diam-diam menguatkan.

    Dan setiap waktu yang kalian habiskan di pesantren, akan menjadi bekal berharga untuk kehidupan yang lebih baik.

    Untuk para orang tua, terima kasih atas keikhlasan yang begitu dalam. Melepas anak kembali ke pesantren bukan perkara mudah, tetapi di situlah cinta diuji merelakan demi kebaikan masa depan mereka.

    Wahai para santri, jika hari ini terasa berat, itu wajar. Menangislah jika perlu, namun jangan berhenti melangkah. Kuatkan niat, karena kalian sedang berjalan di jalan yang mulia, jalan para pencari ilmu.

    Selamat kembali ke pesantren. Semoga Allah menjaga setiap langkah kalian, menenangkan hati yang rindu, dan memberkahi setiap perjuangan. (Tim Redaksi)

  • Infaq dan Wakaf sebagai Jalan Keberkahan Hidup

    Infaq dan Wakaf sebagai Jalan Keberkahan Hidup

    Dr. KH. Soleh Rosyad, (Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima)

    • Tadabbur Surah Al-Baqarah Ayat 261

    Islam mengajarkan bahwa keberkahan hidup tidak diukur dari seberapa banyak harta yang kita kumpulkan, melainkan dari seberapa besar manfaat yang kita tebarkan. Salah satu jalan utama untuk meraih keberkahan tersebut adalah melalui infaq dan wakaf.

    Keduanya bukan sekadar amalan sosial, tetapi bentuk nyata dari keimanan dan ketundukan seorang hamba  kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Allah Subhanahu wa Ta‘ala menggambarkan dahsyatnya nilai infaq dan wakaf dalam Surah Al-Baqarah ayat 261:

    مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

    Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

    Ayat ini menghadirkan gambaran yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyerupakan infaq di jalan-Nya seperti menanam satu biji. Dari satu biji itu tumbuh tujuh tangkai, dan setiap tangkai menghasilkan seratus biji. Artinya, satu kebaikan bisa berkembang menjadi tujuh ratus kebaikan. Bahkan Allah menegaskan, pelipatgandaan ini masih bisa bertambah sesuai kehendak-Nya.

    Konsep ini sangat selaras dengan makna wakaf.  Ketika seseorang “menanam” seribu rupiah di jalan Allah, bukan mustahil nilainya berkembang menjadi ratusan ribu. Ketika seseorang menanam satu juta, Allah mampu melipatgandakannya menjadi ratusan juta dalam bentuk manfaat, pahala, dan keberkahan yang terus mengalir.

    Inilah logika langit, bukan logika untung-rugi dunia. Prinsip ini juga tercermin di malam Lailatul Qadar. Shalat dua rakaat pada malam tersebut nilainya lebih baik dari seribu bulan. Apa yang sedikit di mata manusia, menjadi luar biasa dalam timbangan Allah. Karena itu, infaq, sedekah, dan wakaf bukanlah pengurangan, melainkan investasi akhirat.

    Budaya wakaf inilah yang harus terus kita hidupkan dan sosialisasikan kepada umat. Di tengah berbagai tantangan bangsa, potensi wakaf sejatinya mampu menjadi solusi besar. Ketika umat diberdayakan, kita tidak mudah ditekan oleh kekuatan besar dari luar. Dengan melahirkan kader-kader umat yang kuat secara ilmu, iman, dan ekonomi, jalan menuju keberhasilan akan terbuka.

    Sejarah mencatat Universitas Al-Azhar di Mesir bertahan ratusan tahun dan pernah membantu negara saat krisis melalui kekuatan wakafnya. Ini adalah bukti nyata bahwa wakaf bukan sekadar teori, melainkan kekuatan peradaban, (Lihat: Wakaf Mandiri,2025).

    Prinsip inilah yang juga menjadi ruh wakaf. Wakaf adalah amal yang menahan pokok harta dan mengalirkan manfaatnya secara terus-menerus. Ketika seseorang mewakafkan hartanya, ia sejatinya sedang menanam kebaikan jangka panjang. Harta boleh berhenti di tangan manusia, tetapi pahala wakaf terus mengalir meskipun pelakunya telah meninggalkan dunia.

    Infaq membersihkan harta dan jiwa, sedangkan wakaf membangun peradaban. Banyak lembaga-lembaga besar, seperti masjid, pesantren, rumah sakit, hingga pusat pendidikan, berdiri dan bertahan berabad-abad berkat kekuatan wakaf.

    Namun, infaq dan wakaf tidak selalu berbentuk materi. Waktu yang kita luangkan untuk kebaikan, tenaga yang kita curahkan dengan ikhlas, pikiran yang kita sumbangkan untuk kemaslahatan, serta ilmu yang kita ajarkan kepada orang lain, semuanya dapat bernilai infaq dan wakaf jika diniatkan karena Allah.

    Seorang guru yang mengajarkan ilmu dengan ikhlas, lalu ilmunya diamalkan dan diajarkan kembali, sejatinya sedang melakukan wakaf ilmu yang pahalanya tidak terputus. Amalan ini hanya bernilai di sisi Allah jika dilandasi dengan keikhlasan. Infaq dan wakaf bukan sarana untuk mencari pujian, apalagi kebanggaan duniawi. Allah Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati. Ketika niat lurus karena Allah, maka sedikit terasa cukup, dan yang kecil menjadi besar.

    Dalam kehidupan sehari-hari, budaya infaq dan wakaf seharusnya menjadi gaya hidup barunew lifestyle Bukan menunggu kaya untuk memberi, tetapi memberi agar hidup menjadi berkah. Tradisi gotong royong, saling membantu, dan peduli terhadap sesama adalah bentuk nyata wakaf dalam kehidupan sosial yang perlu terus dijaga dan diwariskan.

    Infaq memperbaiki hubungan kita dengan sesama manusia, sementara wakaf memperkuat kontribusi kita bagi umat dan generasi mendatang. Ketika hubungan vertikal dengan Allah terjaga melalui shalat dan ibadah, serta hubungan horizontal dengan manusia disempurnakan melalui memberi, maka keseimbangan hidup akan tercapai.

    Pada akhirnya, keberkahan hidup lahir dari kesadaran bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan Allah. Harta, waktu, dan kemampuan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Dengan infaq dan wakaf, kita belajar untuk tidak terikat pada dunia, sekaligus menanam bekal untuk kehidupan akhirat.

    Namun, wakaf harus dimulai dari diri sendiri. Jangan sampai kita rajin mengajak orang lain berwakaf, sementara kita sendiri tidak melakukannya. Setiap amal yang dilakukan karena Allah tidak akan pernah sia-sia. Kita perlu melatih diri untuk tidak egois dan kikir, baik dalam harta, tenaga, maupun pikiran. Semua yang kita miliki sejatinya hanyalah titipan Allah.

    Rahmat Allah sangat luas, tugas kita adalah memurnikan ketaatan hanya kepada Allah, menjauhkan diri dari syirik, dan menjaga keikhlasan. Indikator keberagamaan yang lurus adalah ketika hidup kita tidak menyimpang dari tuntunan Allah.

    Setiap keluarga memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Ada yang diberi kelapangan harta, ada pula yang hidup sederhana. Namun, kesederhanaan bukan alasan untuk berhenti memberi. Di pesantren dahulu, budaya gotong royong, saling membantu, dan berbagi sudah menjadi tradisi.

    Itulah wakaf dalam bentuk kehidupan nyata, yang harus terus kita hidupkan. Dalam menghadapi persoalan hidup, jalan terbaik adalah kembali kepada Allah. Shalat adalah pintu utama untuk menghadap-Nya. Shalat lima waktu, shalat berjamaah, dan shalat tahajjud adalah sarana kita menyelesaikan urusan hidup. Jika kita ingin masalah kita selesai, maka hadapkanlah masalah itu langsung kepada Allah melalui shalat, lalu iringilah dengan doa yang sungguh-sungguh dan penuh keyakinan.

    Mendirikan shalat akan memperbaiki hubungan vertikal kita dengan Allah, sedangkan zakat, infak, dan sedekah memperbaiki hubungan horizontal kita dengan sesama manusia.

    Urusan dengan Allah diselesaikan dengan ketundukan, dan urusan dengan manusia diselesaikan dengan memberi. Apabila hubungan vertikal dan horizontal ini terjaga dan selaras, maka kemenangan akan datang, sebagaimana firman Allah: قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ — sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman.

    Generasi muda yang memiliki mimpi besar harus menata hidupnya dengan kontribusi nyata. Hikmah bukan hanya dipahami, tetapi harus dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Jika kita merasa sudah berhikmah tetapi tidak memberi pengaruh, maka mungkin ada yang perlu diluruskan dalam niat dan cara kita.

    Setelah membaca, belajar, dan mengamalkan ilmu, pertanyaan terpenting adalah: apakah semua itu kita lakukan dengan ikhlas? Dalam berkhidmah, totalitas dan keikhlasan adalah kunci. Allah Maha Mengetahui isi hati, dan rahmat-Nya diberikan sesuai ketulusan niat hamba-Nya.

    Bayangkan, oksigen yang kita hirup setiap hari, jika dinilai dengan ukuran dunia nilainya bisa mencapai miliaran rupiah. Belum lagi gravitasi bumi dan sistem kehidupan lainnya. Semua itu Allah berikan secara gratis. Maka, di hadapan Allah, kita semua sama: hamba yang lemah dan fakir. Jalan agar tidak menjadi hina adalah dengan syukur yang dibuktikan melalui ketaatan.

    Marilah kita merenungi kelalaian yang sering kita alami. Antara sadar dan lalai, di situlah letak kebaikan. Jika kita lalai namun sadar, itu masih rahmat. Namun jika lalai dan tidak merasa lalai, itulah bahaya. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang sadar, bersyukur, gemar memberi, dan istiqamah menanam kebaikan di jalan-Nya. (Tim Redaksi)

  • Mensyukuri Nikmat dan Tanggung Jawab

    Mensyukuri Nikmat dan Tanggung Jawab

    Oleh: Dr.KH.Soleh Rosyad, (Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima)

    • Tadabbur Surat Luqman: 20

    Allah melimpahkan nikmat yang tak terhitung jumlahnya kepada manusia. Apa yang ada di langit dan di bumi ditundukkan untuk kemaslahatan hidup: matahari yang menyinari, udara yang menghidupkan, air yang menyuburkan, serta rezeki yang mengalir tanpa henti.

    Semua itu bukan sekadar fasilitas kehidupan, melainkan tanda kasih sayang dan kekuasaan-Nya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Luqman ayat 20:

    أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً ۗ وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُّنِيرٍ

    Artinya: “Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya yang lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.”

    Segala yang ada di langit dan di bumi telah ditundukkan untuk kepentingan manusia. Matahari memancarkan cahaya, udara memberi kehidupan, hujan menyuburkan tanah, pepohonan menghasilkan buah, dan sungai mengalirkan air. Semua berjalan dalam keteraturan yang menunjukkan kekuasaan dan kasih sayang Allah.

    Allah menyempurnakan nikmat-Nya dalam dua bentuk: nikmat lahir dan nikmat batin.

    Nikmat lahir adalah segala yang tampak dan kita rasakan secara fisik, seperti kesehatan, tenaga, cahaya matahari, udara, hujan, dan berbagai rezeki yang menunjang kehidupan.

    Nikmat batin adalah karunia yang menenangkan jiwa, seperti iman, hidayah, ketenangan hati, serta kesempatan untuk beribadah shalat tahajud, dhuha, berdzikir, dan bershalawat.

    Sehat adalah nikmat besar yang sering terlupakan. Dalam kondisi sehat, ibadah terasa ringan dan kekhusyukan lebih mudah diraih. Karena itu, kesehatan hendaknya disyukuri dengan amal nyata dan kesungguhan dalam berbuat baik.

    Setiap orang memiliki cerita dan ujian hidupnya masing-masing. Kita berjalan dengan doa, ikhtiar, dan proses panjang. Setiap amal yang terwujud termasuk berdirinya masjid dan berkembangnya kebaikan adalah rahmat Allah serta balasan atas istiqamah yang dijaga.

    Dalam bahasa Gontor disebutkan:“Ibdā’ binafsik” mulailah dari diri sendiri. Mulailah dari sekarang. Mulailah ketika kita masih sehat. Berbuat baik tidak boleh menunggu sempurna atau menunggu orang lain memulai.

    Di sekitar kita begitu banyak peluang kebaikan. Jangan sampai seperti ayam yang mati kelaparan di tengah lumbung padi. Jangan mengejar yang jauh sementara yang dekat diabaikan. Cita-cita masa depan dibangun dari apa yang kita lakukan hari ini.

    Pastikan setiap detik menjadi bagian dari produktivitas, kebaikan, dan pelurusan niat.

    Dalam Islam, sumber hukum yang disepakati para ulama ada empat: Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, dan Qiyas.

    Keempatnya menjadi landasan utama dalam menetapkan hukum dan menjawab persoalan umat. Qiyas merupakan hasil ijtihad ulama dengan cara menganalogikan suatu masalah baru kepada hukum yang telah ada, berdasarkan kesamaan illat (sebab hukum). Proses ini harus berlandaskan ilmu, pemahaman yang mendalam, serta argumentasi yang kuat.

    Dalam bermujadalah (berdiskusi) dan membela kebenaran, setiap pendapat harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Tidak boleh berbicara tanpa hujjah yang sahih dan tanpa dasar yang jelas. Ilmu harus berpijak pada dalil yang benar, serta didukung oleh data dan fakta yang dapat diuji kebenarannya.

    Islam sejak awal adalah agama yang membawa keseimbangan dan keadilan. Dahulu perempuan diperlakukan tidak manusiawi, lalu Islam datang memuliakan mereka dan memberikan hak serta martabat yang terhormat. Laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan, tetapi keduanya saling melengkapi dan saling menghargai. Moderasi bukan berarti melemahkan ajaran, melainkan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya secara adil dan proporsional.

    Nilai keseimbangan inilah yang harus tercermin dalam kehidupan kita sehari-hari. Hidup adalah perjalanan panjang, penuh ujian dan dinamika. Namun selama kita berjalan dengan doa, ilmu, keikhlasan, dan istiqamah, Allah akan membalas setiap perjuangan.

    Mari mulai dari diri sendiri. Mulai dari sekarang. Mulai ketika kita masih diberi kesehatan. Karena masa depan dibangun hari ini, dan nikmat Allah terlalu banyak untuk diingkari. (Tim Redaksi Kunka)

     

  • Iman dan Amal Soleh sebagai Jalan Menuju Surga

    Iman dan Amal Soleh sebagai Jalan Menuju Surga

    Dr. KH. Soleh Rosyad, (Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima)

    Tadabbur QS. Al-A’raf Ayat 42

    Al-Qur’an menegaskan bahwa jalan menuju surga dibangun di atas dua fondasi utama: iman dan amal saleh.

    Iman yang benar tidak berhenti di dalam hati, tetapi menuntut pembuktian nyata melalui perbuatan baik yang dilakukan dengan penuh keikhlasan dan ketaatan kepada Allah.

    Allah Subhanahu wa Ta‘ala menegaskan hal tersebut dalam QS. Al-A’raf ayat 42

    اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَاۗ أُولٰٓئِكَ أَصْحٰبُ الْجَنَّةِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

    Artinya: “Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh, Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-A’raf: 42)

    Ayat ini menjelaskan dengan sangat jelas tentang hubungan antara iman, amal saleh, dan balasan dari Allah.

    Orang-orang yang beriman adalah mereka yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya, meyakini kebenaran wahyu yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ, lalu membuktikan keimanannya dengan amal kebajikan. Amal tersebut dijalani dengan lapang dada, tanpa rasa terpaksa, karena Allah tidak pernah membebani hamba-Nya kecuali sesuai dengan batas kemampuannya.

    Mereka yang beriman dan mengamalkan kebaikan dengan penuh kesadaran itulah para penghuni surga. Kenikmatan yang Allah berikan bukanlah kenikmatan sementara, melainkan kenikmatan yang kekal. Ayat ini sekaligus menenangkan hati manusia bahwa seluruh perintah dan larangan Allah selalu berada dalam jangkauan kemampuan kita.

    Nilai kejujuran dan keikhlasan ini tercermin secara nyata dalam kehidupan di pondok pesantren. Seluruh aktivitas pendidikan dibangun di atas prinsip keikhlasan dalam beramal dan keadilan dalam bersikap.

    Para santri dididik untuk berkata benar, bertindak lurus, serta menjalankan amanah. Sementara itu, nilai keadilan diwujudkan melalui perlakuan yang sama kepada seluruh santri tanpa membedakan latar belakang.

    Di tengah perkembangan zaman, pesantren juga dituntut untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman. Di Pondok Kun Karima, diterapkan sistem cashless atau transaksi tanpa uang tunai. Sistem ini diharapkan memudahkan transaksi, meningkatkan keamanan, serta melatih santri memahami manajemen keuangan di era digital.

    Inovasi ini merupakan bagian dari amal saleh kolektif demi kemaslahatan santri dan seluruh civitas pondok. Amal saleh yang sejati adalah amal yang dilakukan dengan niat yang tulus, cara yang benar, dan manfaat yang luas, serta senantiasa berada dalam ketaatan kepada Allah.

    Ketaatan tanpa kemanfaatan belumlah sempurna. Sebaliknya, kemanfaatan yang bersumber dari hal-hal yang tidak sesuai syariat seperti hasil korupsi  tidak bernilai amal saleh di sisi Allah. Amal saleh harus memberi manfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bahkan lingkungan sekitar.

    Allah juga menegaskan bahwa setiap ujian dan kewajiban selalu sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Ujian bukan tanda kebencian, melainkan bentuk kasih sayang agar manusia naik derajat. Kyai mengibaratkan ujian seperti golok yang berhenti satu sentimeter di atas kepala: tampak menakutkan, namun tidak akan melukai selama kita tetap taat dan mengikuti aturan Allah.

    Ujian tidak perlu dipertanyakan alasan kehadirannya, melainkan dijadikan sarana untuk mendekat kepada Allah. Banyak manusia baru mengingat Allah ketika berada dalam kesempitan, padahal seharusnya Allah diingat dalam keadaan lapang maupun sempit. Setiap ujian adalah pengingat dan bukti cinta Allah agar hamba-Nya kembali kepada-Nya.

    Dalam pandangan islam, hidup tanpa ujian bukanlah kehidupan yang nyata. Orang-orang yang berhasil adalah mereka yang telah melewati banyak ujian dan mampu bangkit. Kesuksesan bukan tentang tidak pernah jatuh, melainkan tentang kemampuan memperbaiki diri setelah jatuh. Karena itu, iman harus tercermin dalam hati, pikiran, dan perbuatan meski keselarasan ini bukan perkara mudah.

    Dengan iman dan amal saleh, Allah akan membersihkan hati orang-orang beriman dari hasad, kebencian, dan prasangka buruk. Hidayah bukan hasil kehebatan pribadi, melainkan anugerah Allah semata. Maka, sikap yang tepat adalah syukur, tawadhu, dan kesungguhan dalam berbuat baik.

    Hidup ibarat menyeberangi banyak jembatan. Ada jembatan yang kokoh, ada pula yang rapuh. Tugas kita adalah memperbaikinya agar perjalanan hidup dapat dilalui dengan selamat. Kewajiban manusia sangatlah banyak kepada diri, keluarga, masyarakat, dan terutama kepada Allah maka jalani semuanya sesuai kapasitas dengan usaha terbaik dan niat yang lurus.

    Mengejar cita-cita setinggi langit, namun tetap berpijak di bumi. Berbuat bukan untuk dipuji manusia, melainkan sebagai wujud pengabdian kepada Allah. Dengan iman dan amal saleh yang istiqamah, hidup akan terasa lebih tenang, bermakna, dan berujung pada kebahagiaan dunia serta akhirat. (Tim Redaksi)

     

  • Tauhid sebagai Jalan Hidup

    Tauhid sebagai Jalan Hidup

    Dr. KH. Soleh Rosyad,
    Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima

    Tadabbur Surat Yusuf: 108

    قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

    Artinya: “Katankanlah (Muhammad), inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)

    Ayat ini menegaskan kewajiban dakwah. Perintah ini memang ditujukan kepada Rasulullah, tetapi sekaligus mengikat siapa pun yang mengikutinya. Maka siapa pun kita, apa pun profesinya, tidak pernah lepas dari kewajiban menyeru kepada Allah. Inilah jalan Nabi, dan jalan itu harus menjadi jalan para pengikutnya.

    Maksud ayat ini adalah Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk menyeru jin dan manusia, mengajak mereka kepada jalan agama Allah, kepada tata cara hidup yang sesuai dengan sunnah-sunnah-Nya, dan kepada kalimat yang paling mulia: Asyhadu an lā ilāha illallāh, wa asyhadu anna Muḥammadan Rasūlullāh. Artinya: “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

    Kalimat inilah poros kehidupan. Ia menjadi sandaran seluruh makhluk. Selama kalimat tauhid ini tegak, dunia masih berdiri. Jika tauhid tercabut, maka hancurlah tatanan kehidupan. Tauhid adalah perekat kehidupan, ketika manusia lepas dari tauhid, ikatan itu pun terlepas dengan sendirinya.

    Kalau kita bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, itu bukan sekadar ucapan lisan, tetapi pengakuan yang total dalam hati dan pembenaran dalam amal. Kita mengakui Allah sebagai Rabb, sebagai satu-satunya yang mencipta, mengatur, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan.

    Kita juga mengakui bahwa hanya Dia yang berhak disembah, tidak ada satu pun yang layak menerima ibadah sekecil apa pun selain-Nya. Dan kita menetapkan bagi-Nya nama-nama yang indah serta sifat-sifat yang sempurna, tanpa menyerupakan dengan makhluk dan tanpa menolak apa yang telah ditetapkan-Nya.

    Para ulama menjelaskan bahwa kandungan syahadat mencakup tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma wa sifat. Rububiyah adalah keyakinan bahwa Allah adalah Rabbul ‘alamin, Pencipta, Pemilik, dan Pengatur seluruh alam semesta. Tidak ada satu kejadian pun di langit dan di bumi yang keluar dari kehendak dan kekuasaan-Nya. Namun realitanya, banyak orang mengakui Allah sebagai Pencipta dan Pengatur, tetapi belum mentauhidkan-Nya dalam ibadah. Mereka mengakui rububiyah-Nya, tetapi belum menunaikan konsekuensi uluhiyah-Nya.

    Di sinilah letak pentingnya tauhid uluhiyah, yaitu mengesakan Allah dalam seluruh bentuk ibadah. Bukan hanya dalam shalat dan puasa, tetapi juga dalam doa, cinta, takut, tawakal, dan seluruh ketundukan hati. Karena inti syahadat bukan hanya meyakini bahwa Allah itu ada dan berkuasa, tetapi memastikan bahwa seluruh ibadah lahir dan batin hanya tertuju kepada-Nya semata.

    Coba kita renungkan dengan hati yang jernih, tidak ada yang membuat kita bisa duduk di tempat ini kecuali Allah. Tidak ada yang menggerakkan kaki kita melangkah, tidak ada yang menenangkan hati kita untuk hadir, kecuali karena kehendak-Nya.

    Air yang kita minum, yang mengalir dari gelas lalu masuk ke tenggorokan, turun ke perut, memberi manfaat bagi tubuh, itu semua tidak terjadi dengan sendirinya. Tidak ada yang menjadikannya bermanfaat kecuali Allah. Tidak ada yang memberi sakit kecuali Allah, dan tidak ada pula yang menyembuhkan kecuali Allah. Kesadaran seperti ini, jika benar-benar kita hadirkan dalam hati, akan menguatkan tauhid, menumbuhkan tawakal, dan melahirkan ketundukan yang tulus kepada-Nya.

    Kemudian asma dan sifat. Allah memiliki nama-nama yang indah, yang kita kenal dengan Asmaul Husna.

    Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang menghafal, memahami, serta mengamalkannya, maka ia akan memperoleh keutamaan yang besar dari Allah SWT, yaitu masuk surga. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

    Artinya: “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang menghafalnya, maka ia akan masuk surga” (HR. Bukhari dan Muslim.).

    Namun para ulama menjelaskan bahwa nama dan sifat Allah tidak terbatas pada angka tersebut; itu adalah nama-nama yang khusus memiliki keutamaan tertentu, sementara hakikat kesempurnaan Allah tidak terbatasi oleh bilangan.

    Sifat-sifat Allah sangat luas dan sempurna, tidak dapat dijangkau sepenuhnya oleh akal manusia. Karena itu Allah memerintahkan kita berdoa dengan menyebut nama-nama-Nya, sebab dalam setiap nama terkandung sifat yang agung. Di kalangan Ahlussunnah wal Jama‘ah, dikenal dan dipelajari untuk menjaga kemurnian akidah, agar keyakinan kita lurus dan tidak menyimpang.

    Maka siapa pun kita, tidak bisa lepas dari dakwah. Kita harus menyeru kepada Allah dengan bashirah, dengan kejelasan hujjah, dengan dalil yang kuat, baik dalil ‘aqli maupun dalil syar‘i. Kita menyeru kepada apa yang diserukan Rasulullah, yaitu Islam, dengan keyakinan yang mantap, dengan argumentasi yang benar, dan dengan akhlak yang mulia. Allah Maha Suci dari segala bentuk sekutu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Seluruh langit dan bumi bertasbih kepada-Nya, dan tidak ada satu makhluk pun kecuali memuji-Nya, meskipun kita tidak memahami bagaimana tasbih mereka.

    Dari ayat ini kita memahami bahwa sebagai pengikut Rasulullah kita memikul taklif untuk berdakwah dalam bentuk apa pun. Dakwah bukan hanya dengan lisan, tetapi juga dengan perbuatan, dengan keteladanan, dengan akhlak, bahkan dengan tarbiyah. Mendidik generasi adalah bagian dari dakwah dalam bentuk persiapan (i‘dad). Agar mereka siap secara ilmu, iman, dan akhlak.

    Dalam berdakwah dibutuhkan hikmah, strategi, dan pendekatan yang tepat. Kita harus mampu membaca siapa yang kita ajak bicara: kadar akalnya, kadar ilmunya, usianya, latar belakangnya, dan kondisi jiwanya. Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Pendekatan sangat menentukan keberhasilan perjuangan.

    Jangan memutlakkan satu cara untuk semua keadaan. Substansinya tetap satu, yaitu tauhid dan ketaatan kepada Allah, tetapi cara penyampaian bisa variatif dan dinamis, menyesuaikan keadaan masing-masing. Dakwah harus dilakukan dengan kelembutan, kesantunan, dan mau‘izhah hasanah, agar hati terbuka, pesan tersampaikan, dan kita bukan hanya diterima, tetapi juga mampu menerima mereka dengan lapang dada. (Tim Redaksi Pondok Pesantren Kun Karima)