Dr.KH Soleh Rosyad, Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima
Sebagai manusia, kita tidak luput dari kesalahan. Tidak ada manusia yang sempurna. Namun, ketika kita menyadari kesalahan, hendaknya kita segera kembali kepada Allah dengan memperbanyak istighfar, memohon ampunan-Nya, serta berusaha sungguh-sungguh untuk memperbaiki diri.
Dalam proses memperbaiki diri itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membiarkan hamba-Nya berjalan tanpa arahan dan harapan. Allah memberikan jaminan, ketenangan, dan penguatan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.
Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Mā’idah ayat 105:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; tidaklah orang yang sesat itu akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu semua akan kembali, lalu Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Mā’idah: 105)
Ayat ini menghadirkan ketenteraman bagi hati orang-orang beriman. Seakan-akan Allah berfirman, “Jika engkau telah mendapatkan hidayah, maka jagalah, peliharalah, dan kuatkanlah dirimu. Hidayah itu adalah karunia-Ku. Tidak ada seorang pun yang mampu menggoyahkannya selama engkau tetap berpegang teguh kepadanya.”
Dalam tafsirnya, ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab pertama seorang mukmin adalah memperbaiki dan menjaga dirinya sendiri. Ia harus memastikan bahwa dirinya tetap berada di atas jalan hidayah, istiqamah dalam ketaatan, dan kokoh dalam keimanan. Jika seseorang telah menempuh jalan yang benar, maka kesesatan orang lain tidak akan membahayakannya, selama ia tetap teguh berpegang pada petunjuk Allah.
Namun, ayat ini bukan berarti seorang mukmin boleh bersikap acuh tak acuh terhadap keadaan di sekitarnya. Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini tidak menghapus kewajiban amar ma’ruf nahi munkar. Justru, setelah seseorang berusaha menasihati, mengajak kepada kebaikan, dan mencegah kemungkaran sesuai kemampuannya, maka ia tidak perlu bersedih berlebihan jika masih ada orang yang memilih jalan kesesatan. Tugasnya adalah menyampaikan, sedangkan hidayah sepenuhnya berada di tangan Allah.
Karena itu, kita harus senantiasa memperbaiki diri dan terus menebarkan kebaikan. Sebab, kebaikan akan melahirkan kebaikan berikutnya. Setiap amal saleh yang kita lakukan hendaknya menjadi pintu bagi lahirnya amal saleh yang lain. Dengan demikian, hidup seorang mukmin akan senantiasa dipenuhi dengan pertumbuhan, keberkahan, dan kemajuan.
Dalam melakukan kebaikan, kita hendaknya mengerahkan seluruh potensi yang Allah anugerahkan kepada kita kekuatan ilmu, semangat yang tinggi (himmah), kekuatan fisik, kesehatan, kejernihan akal, serta kelembutan hati dan kesabaran. Semua itu merupakan bekal berharga untuk menapaki jalan kebaikan secara istiqamah.
Ketika seseorang telah meraih gelar sarjana, misalnya, ia tidak boleh berhenti belajar. Gelar bukanlah garis akhir, melainkan sebuah pijakan awal untuk melangkah lebih jauh. Jangan sampai kita merasa cukup hanya karena telah memperoleh gelar, lalu kehilangan semangat untuk terus belajar, berkembang, dan memperbaiki diri.
Semakin tinggi ilmu yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab yang diemban. Ilmu bukan sekadar penghias diri atau simbol prestasi, melainkan amanah yang harus dijaga, dikembangkan, dan diamalkan. Sebab, orang yang berhenti belajar sejatinya sedang menghentikan pertumbuhan dirinya sendiri. Seorang pencari ilmu sejati akan selalu merasa haus akan pengetahuan. Semakin banyak ia belajar, semakin ia menyadari betapa luasnya ilmu Allah dan betapa banyak hal yang belum diketahuinya. Kesadaran inilah yang mendorongnya untuk terus memperbaiki diri, memperluas wawasan, dan meningkatkan kualitas amal.
Allah juga menegaskan bahwa siapa saja yang terus memperbaiki dirinya, menjaga istiqamah, dan memelihara hidayah yang telah dianugerahkan kepadanya, maka pengaruh buruk dari orang-orang yang sesat tidak akan mampu menggoyahkannya. Hidayah yang dijaga dengan baik akan tetap kokoh, tidak mudah tergeser oleh godaan, tekanan, maupun berbagai bentuk kerusakan yang datang dari arah mana pun.
Selama seseorang senantiasa berpegang teguh kepada petunjuk Allah, memperkuat imannya dengan amal saleh, dan menjaga hatinya dengan zikir serta ketaatan, maka Allah akan melindunginya. Tidak ada kekuatan yang mampu merusak hidayah yang terpelihara dalam hati seorang hamba, selama ia terus menjaganya dengan istiqamah dan keikhlasan.
Orang-orang yang telah memperoleh hidayah akan selalu mendapatkan pertolongan, penguatan, dan ketenangan dari Allah. Namun, jaminan ini bukan berarti kita boleh bersikap pasif. Justru sebaliknya, kita harus tetap aktif, dinamis, dan produktif dalam kebaikan. Hidayah adalah anugerah yang sangat mahal, dan karena itu harus dijaga, dipelihara, serta diperkuat.
Pada hakikatnya, hidayah adalah buah tertinggi dari ilmu. Seluruh ilmu yang kita pelajari seharusnya bermuara pada hidayah. Jika ilmu tidak mengantarkan kepada hidayah, maka ilmu itu kehilangan makna sejatinya. Oleh karena itu, hidayah harus diperkuat dengan amal saleh, pikiran yang positif, zikir, ihsan, tilawah Al-Qur’an, serta kesadaran diri yang terus tumbuh.
Sebagai manusia, kita adalah tempat salah dan lupa. Maka, ketika kita berbuat kesalahan, kita harus segera menyadarinya. Jangan sampai kita melakukan kesalahan, tetapi justru merasa diri benar. Merasa benar dalam kesalahan adalah bentuk kesesatan yang sangat berbahaya. Sebaliknya, mengakui kesalahan adalah pintu menuju ampunan Allah.
Hidayah yang kita miliki adalah hasil perjuangan sekaligus anugerah dari Allah. Ia bisa datang melalui didikan orang tua, lingkungan yang baik, para guru, dan berbagai wasilah lainnya. Karena itu, hidayah harus terus diperjuangkan agar tetap hidup dalam diri kita melalui istiqamah dalam ibadah, ketekunan dalam amal saleh, serta kesungguhan dalam mendekatkan diri kepada Allah, termasuk dalam menjaga ibadah.
Jika suatu ketika kita lalai dari kebiasaan baik yang selama ini kita lakukan, hendaknya kita merasa kehilangan dan menyesal. Rasa kehilangan itu adalah tanda hidupnya iman dalam hati. Sebab, seorang mukmin akan selalu merindukan amal-amal kebaikan yang mendekatkannya kepada Allah. (TIM Redaksi)














