Kategori: Kegiatan

  • Menjaga Hidayah, Menguatkan Amal Saleh

    Menjaga Hidayah, Menguatkan Amal Saleh

    Dr.KH Soleh Rosyad, Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima

    Sebagai manusia, kita tidak luput dari kesalahan. Tidak ada manusia yang sempurna. Namun, ketika kita menyadari kesalahan, hendaknya kita segera kembali kepada Allah dengan memperbanyak istighfar, memohon ampunan-Nya, serta berusaha sungguh-sungguh untuk memperbaiki diri.

    Dalam proses memperbaiki diri itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membiarkan hamba-Nya berjalan tanpa arahan dan harapan. Allah memberikan jaminan, ketenangan, dan penguatan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.

    Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Mā’idah ayat 105:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; tidaklah orang yang sesat itu akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu semua akan kembali, lalu Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Mā’idah: 105)

    Ayat ini menghadirkan ketenteraman bagi hati orang-orang beriman. Seakan-akan Allah berfirman, “Jika engkau telah mendapatkan hidayah, maka jagalah, peliharalah, dan kuatkanlah dirimu. Hidayah itu adalah karunia-Ku. Tidak ada seorang pun yang mampu menggoyahkannya selama engkau tetap berpegang teguh kepadanya.”

    Dalam tafsirnya, ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab pertama seorang mukmin adalah memperbaiki dan menjaga dirinya sendiri. Ia harus memastikan bahwa dirinya tetap berada di atas jalan hidayah, istiqamah dalam ketaatan, dan kokoh dalam keimanan. Jika seseorang telah menempuh jalan yang benar, maka kesesatan orang lain tidak akan membahayakannya, selama ia tetap teguh berpegang pada petunjuk Allah.

    Namun, ayat ini bukan berarti seorang mukmin boleh bersikap acuh tak acuh terhadap keadaan di sekitarnya. Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini tidak menghapus kewajiban amar ma’ruf nahi munkar. Justru, setelah seseorang berusaha menasihati, mengajak kepada kebaikan, dan mencegah kemungkaran sesuai kemampuannya, maka ia tidak perlu bersedih berlebihan jika masih ada orang yang memilih jalan kesesatan. Tugasnya adalah menyampaikan, sedangkan hidayah sepenuhnya berada di tangan Allah.

    Karena itu, kita harus senantiasa memperbaiki diri dan terus menebarkan kebaikan. Sebab, kebaikan akan melahirkan kebaikan berikutnya. Setiap amal saleh yang kita lakukan hendaknya menjadi pintu bagi lahirnya amal saleh yang lain. Dengan demikian, hidup seorang mukmin akan senantiasa dipenuhi dengan pertumbuhan, keberkahan, dan kemajuan.

    Dalam melakukan kebaikan, kita hendaknya mengerahkan seluruh potensi yang Allah anugerahkan kepada kita kekuatan ilmu, semangat yang tinggi (himmah), kekuatan fisik, kesehatan, kejernihan akal, serta kelembutan hati dan kesabaran. Semua itu merupakan bekal berharga untuk menapaki jalan kebaikan secara istiqamah.

    Ketika seseorang telah meraih gelar sarjana, misalnya, ia tidak boleh berhenti belajar. Gelar bukanlah garis akhir, melainkan sebuah pijakan awal untuk melangkah lebih jauh. Jangan sampai kita merasa cukup hanya karena telah memperoleh gelar, lalu kehilangan semangat untuk terus belajar, berkembang, dan memperbaiki diri.

    Semakin tinggi ilmu yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab yang diemban. Ilmu bukan sekadar penghias diri atau simbol prestasi, melainkan amanah yang harus dijaga, dikembangkan, dan diamalkan. Sebab, orang yang berhenti belajar sejatinya sedang menghentikan pertumbuhan dirinya sendiri. Seorang pencari ilmu sejati akan selalu merasa haus akan pengetahuan. Semakin banyak ia belajar, semakin ia menyadari betapa luasnya ilmu Allah dan betapa banyak hal yang belum diketahuinya. Kesadaran inilah yang mendorongnya untuk terus memperbaiki diri, memperluas wawasan, dan meningkatkan kualitas amal.

    Allah juga menegaskan bahwa siapa saja yang terus memperbaiki dirinya, menjaga istiqamah, dan memelihara hidayah yang telah dianugerahkan kepadanya, maka pengaruh buruk dari orang-orang yang sesat tidak akan mampu menggoyahkannya. Hidayah yang dijaga dengan baik akan tetap kokoh, tidak mudah tergeser oleh godaan, tekanan, maupun berbagai bentuk kerusakan yang datang dari arah mana pun.

    Selama seseorang senantiasa berpegang teguh kepada petunjuk Allah, memperkuat imannya dengan amal saleh, dan menjaga hatinya dengan zikir serta ketaatan, maka Allah akan melindunginya. Tidak ada kekuatan yang mampu merusak hidayah yang terpelihara dalam hati seorang hamba, selama ia terus menjaganya dengan istiqamah dan keikhlasan.

    Orang-orang yang telah memperoleh hidayah akan selalu mendapatkan pertolongan, penguatan, dan ketenangan dari Allah. Namun, jaminan ini bukan berarti kita boleh bersikap pasif. Justru sebaliknya, kita harus tetap aktif, dinamis, dan produktif dalam kebaikan. Hidayah adalah anugerah yang sangat mahal, dan karena itu harus dijaga, dipelihara, serta diperkuat.

    Pada hakikatnya, hidayah adalah buah tertinggi dari ilmu. Seluruh ilmu yang kita pelajari seharusnya bermuara pada hidayah. Jika ilmu tidak mengantarkan kepada hidayah, maka ilmu itu kehilangan makna sejatinya. Oleh karena itu, hidayah harus diperkuat dengan amal saleh, pikiran yang positif, zikir, ihsan, tilawah Al-Qur’an, serta kesadaran diri yang terus tumbuh.

    Sebagai manusia, kita adalah tempat salah dan lupa. Maka, ketika kita berbuat kesalahan, kita harus segera menyadarinya. Jangan sampai kita melakukan kesalahan, tetapi justru merasa diri benar. Merasa benar dalam kesalahan adalah bentuk kesesatan yang sangat berbahaya. Sebaliknya, mengakui kesalahan adalah pintu menuju ampunan Allah.

    Hidayah yang kita miliki adalah hasil perjuangan sekaligus anugerah dari Allah. Ia bisa datang melalui didikan orang tua, lingkungan yang baik, para guru, dan berbagai wasilah lainnya. Karena itu, hidayah harus terus diperjuangkan agar tetap hidup dalam diri kita melalui istiqamah dalam ibadah, ketekunan dalam amal saleh, serta kesungguhan dalam mendekatkan diri kepada Allah, termasuk dalam menjaga ibadah.

    Jika suatu ketika kita lalai dari kebiasaan baik yang selama ini kita lakukan, hendaknya kita merasa kehilangan dan menyesal. Rasa kehilangan itu adalah tanda hidupnya iman dalam hati. Sebab, seorang mukmin akan selalu merindukan amal-amal kebaikan yang mendekatkannya kepada Allah. (TIM Redaksi)

  • Memaknai 24 Jam sebagai Ruang Kelas Pendidikan

    Memaknai 24 Jam sebagai Ruang Kelas Pendidikan

    Kun Karima-Kegiatan kumpul perdana pasca liburan Idul Fitri 1447 H, yang dilaksanakan pada tanggal 07 April 2026 bertempat di Aula Pondok Pesantren Kun Karima, menjadi momentum penting untuk kembali menata niat, semangat, dan arah perjuangan kita.

    Dalam kesempatan tersebut, Dr. KH. Soleh Rosyad selaku Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima menyampaikan bahwa kehidupan di pondok pesantren, meskipun sederhana, sesungguhnya merupakan bekal yang sangat berharga. Kesederhanaan itu justru menjadi kekuatan untuk memotivasi kita agar dalam melakukan setiap pekerjaan harus dengan kesungguhan dan penuh tanggung jawab.

    Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

    “إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ”
    “Innallāha yuḥibbu idzā ‘amila aḥadukum ‘amalan an yutqinah.”

    Artinya:
    “Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (sungguh-sungguh, profesional, dan sempurna).” Silsilah al-Aḥādīts aṣ-Ṣaḥīḥah, no. 1113.

    Jika Allah mencintai, berarti Allah meridhai. Dan ketika Allah telah ridha, maka segala harapan, cita-cita, dan apa yang terlintas dalam hati serta pikiran kita akan dimudahkan dan dikabulkan oleh-Nya. Namun semua itu harus diawali dengan niat yang tulus, semata-mata mengharap ridha Allah, serta diiringi dengan peningkatan kesungguhan dalam berusaha.

    Oleh karena itu, anak-anakku sekalian, jadikan semester ini sebagai semester yang lebih baik. Semester yang penuh peningkatan dibandingkan semester-semester sebelumnya. Jadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin dalam belajar, dalam niat, dalam prestasi, dan dalam akhlak.

    Barang siapa hari ini lebih baik dari kemarin, dengan tekad dan niat yang kuat, maka ia termasuk orang yang beruntung. Beruntung karena mendapatkan nilai tambah, beruntung karena memperoleh kebaikan-kebaikan, beruntung karena mendapatkan ridha Allah, serta beruntung karena dimudahkan dalam setiap urusannya.

    Niat yang tulus akan melahirkan mujahadah (kesungguhan). Dan dari mujahadah itulah lahir keberkahan hidup.

    Maka perlu kita tegaskan kembali: niatkan segala sesuatu karena Allah, tingkatkan kesungguhan, dan bertekadlah menjadi pribadi yang lebih baik dari masa lalu. Dengan demikian, kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung, sebagaimana janji Allah bahwa Allah tidak akan pernah mengingkari janji-Nya.

    Namun, semua itu tidak datang secara instan. Ada proses yang harus ditempuh, ada aturan (SOP) yang harus dijalankan, ada disiplin yang harus ditegakkan, serta komitmen dan istiqamah yang harus dijaga.

    Dalam kehidupan sehari-hari di pondok, bangunlah lingkungan pertemanan yang baik. Jadikan teman-teman kita sebagai sahabat yang saling memotivasi dalam kebaikan. Jangan pernah memiliki musuh satu musuh terlalu banyak, sedangkan sejuta teman masih terasa kurang.

    Kelak, dalam kehidupan, kita akan sangat membutuhkan banyak teman. Oleh karena itu, jangan pilih-pilih teman kecuali berdasarkan kebaikan. Berprasangkalah baik (husnuzan) kepada semua teman, karena mereka semua adalah pilihan terbaik yang telah diantarkan oleh orang tua dengan niat yang baik.

    Semua yang ada di sini layak menjadi teman, layak menjadi sahabat, dan layak menjadi mitra dalam kebaikan. Sebagaimana pesan Kiai, di pondok ini seluruh aktivitas selama 24 jam harus mengandung nilai pendidikan. Dalam kegiatan belajar mengajar (KBM), harus ada nilai pendidikan.

    Dalam ritme kehidupan sekolah, harus ada pendidikan. Dalam interaksi antara guru dan santri, harus ada pendidikan. Dalam jamaah, dalam kebersamaan, dalam organisasi pesantren semuanya harus bernilai pendidikan. Bahkan di asrama, dalam kehidupan sehari-hari selama 24 jam, harus dipastikan mengandung pendidikan.

    Inilah dasar-dasar penting yang harus kita pahami bersama, agar setiap langkah kita di pondok pesantren benar-benar menjadi proses pembentukan ilmu, akhlak, dan masa depan yang lebih baik.(TIM Redaksi Kun Karima)

  • Infaq dan Wakaf sebagai Jalan Keberkahan Hidup

    Infaq dan Wakaf sebagai Jalan Keberkahan Hidup

    Dr. KH. Soleh Rosyad, (Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima)

    • Tadabbur Surah Al-Baqarah Ayat 261

    Islam mengajarkan bahwa keberkahan hidup tidak diukur dari seberapa banyak harta yang kita kumpulkan, melainkan dari seberapa besar manfaat yang kita tebarkan. Salah satu jalan utama untuk meraih keberkahan tersebut adalah melalui infaq dan wakaf.

    Keduanya bukan sekadar amalan sosial, tetapi bentuk nyata dari keimanan dan ketundukan seorang hamba  kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Allah Subhanahu wa Ta‘ala menggambarkan dahsyatnya nilai infaq dan wakaf dalam Surah Al-Baqarah ayat 261:

    مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

    Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

    Ayat ini menghadirkan gambaran yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyerupakan infaq di jalan-Nya seperti menanam satu biji. Dari satu biji itu tumbuh tujuh tangkai, dan setiap tangkai menghasilkan seratus biji. Artinya, satu kebaikan bisa berkembang menjadi tujuh ratus kebaikan. Bahkan Allah menegaskan, pelipatgandaan ini masih bisa bertambah sesuai kehendak-Nya.

    Konsep ini sangat selaras dengan makna wakaf.  Ketika seseorang “menanam” seribu rupiah di jalan Allah, bukan mustahil nilainya berkembang menjadi ratusan ribu. Ketika seseorang menanam satu juta, Allah mampu melipatgandakannya menjadi ratusan juta dalam bentuk manfaat, pahala, dan keberkahan yang terus mengalir.

    Inilah logika langit, bukan logika untung-rugi dunia. Prinsip ini juga tercermin di malam Lailatul Qadar. Shalat dua rakaat pada malam tersebut nilainya lebih baik dari seribu bulan. Apa yang sedikit di mata manusia, menjadi luar biasa dalam timbangan Allah. Karena itu, infaq, sedekah, dan wakaf bukanlah pengurangan, melainkan investasi akhirat.

    Budaya wakaf inilah yang harus terus kita hidupkan dan sosialisasikan kepada umat. Di tengah berbagai tantangan bangsa, potensi wakaf sejatinya mampu menjadi solusi besar. Ketika umat diberdayakan, kita tidak mudah ditekan oleh kekuatan besar dari luar. Dengan melahirkan kader-kader umat yang kuat secara ilmu, iman, dan ekonomi, jalan menuju keberhasilan akan terbuka.

    Sejarah mencatat Universitas Al-Azhar di Mesir bertahan ratusan tahun dan pernah membantu negara saat krisis melalui kekuatan wakafnya. Ini adalah bukti nyata bahwa wakaf bukan sekadar teori, melainkan kekuatan peradaban, (Lihat: Wakaf Mandiri,2025).

    Prinsip inilah yang juga menjadi ruh wakaf. Wakaf adalah amal yang menahan pokok harta dan mengalirkan manfaatnya secara terus-menerus. Ketika seseorang mewakafkan hartanya, ia sejatinya sedang menanam kebaikan jangka panjang. Harta boleh berhenti di tangan manusia, tetapi pahala wakaf terus mengalir meskipun pelakunya telah meninggalkan dunia.

    Infaq membersihkan harta dan jiwa, sedangkan wakaf membangun peradaban. Banyak lembaga-lembaga besar, seperti masjid, pesantren, rumah sakit, hingga pusat pendidikan, berdiri dan bertahan berabad-abad berkat kekuatan wakaf.

    Namun, infaq dan wakaf tidak selalu berbentuk materi. Waktu yang kita luangkan untuk kebaikan, tenaga yang kita curahkan dengan ikhlas, pikiran yang kita sumbangkan untuk kemaslahatan, serta ilmu yang kita ajarkan kepada orang lain, semuanya dapat bernilai infaq dan wakaf jika diniatkan karena Allah.

    Seorang guru yang mengajarkan ilmu dengan ikhlas, lalu ilmunya diamalkan dan diajarkan kembali, sejatinya sedang melakukan wakaf ilmu yang pahalanya tidak terputus. Amalan ini hanya bernilai di sisi Allah jika dilandasi dengan keikhlasan. Infaq dan wakaf bukan sarana untuk mencari pujian, apalagi kebanggaan duniawi. Allah Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati. Ketika niat lurus karena Allah, maka sedikit terasa cukup, dan yang kecil menjadi besar.

    Dalam kehidupan sehari-hari, budaya infaq dan wakaf seharusnya menjadi gaya hidup barunew lifestyle Bukan menunggu kaya untuk memberi, tetapi memberi agar hidup menjadi berkah. Tradisi gotong royong, saling membantu, dan peduli terhadap sesama adalah bentuk nyata wakaf dalam kehidupan sosial yang perlu terus dijaga dan diwariskan.

    Infaq memperbaiki hubungan kita dengan sesama manusia, sementara wakaf memperkuat kontribusi kita bagi umat dan generasi mendatang. Ketika hubungan vertikal dengan Allah terjaga melalui shalat dan ibadah, serta hubungan horizontal dengan manusia disempurnakan melalui memberi, maka keseimbangan hidup akan tercapai.

    Pada akhirnya, keberkahan hidup lahir dari kesadaran bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan Allah. Harta, waktu, dan kemampuan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Dengan infaq dan wakaf, kita belajar untuk tidak terikat pada dunia, sekaligus menanam bekal untuk kehidupan akhirat.

    Namun, wakaf harus dimulai dari diri sendiri. Jangan sampai kita rajin mengajak orang lain berwakaf, sementara kita sendiri tidak melakukannya. Setiap amal yang dilakukan karena Allah tidak akan pernah sia-sia. Kita perlu melatih diri untuk tidak egois dan kikir, baik dalam harta, tenaga, maupun pikiran. Semua yang kita miliki sejatinya hanyalah titipan Allah.

    Rahmat Allah sangat luas, tugas kita adalah memurnikan ketaatan hanya kepada Allah, menjauhkan diri dari syirik, dan menjaga keikhlasan. Indikator keberagamaan yang lurus adalah ketika hidup kita tidak menyimpang dari tuntunan Allah.

    Setiap keluarga memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Ada yang diberi kelapangan harta, ada pula yang hidup sederhana. Namun, kesederhanaan bukan alasan untuk berhenti memberi. Di pesantren dahulu, budaya gotong royong, saling membantu, dan berbagi sudah menjadi tradisi.

    Itulah wakaf dalam bentuk kehidupan nyata, yang harus terus kita hidupkan. Dalam menghadapi persoalan hidup, jalan terbaik adalah kembali kepada Allah. Shalat adalah pintu utama untuk menghadap-Nya. Shalat lima waktu, shalat berjamaah, dan shalat tahajjud adalah sarana kita menyelesaikan urusan hidup. Jika kita ingin masalah kita selesai, maka hadapkanlah masalah itu langsung kepada Allah melalui shalat, lalu iringilah dengan doa yang sungguh-sungguh dan penuh keyakinan.

    Mendirikan shalat akan memperbaiki hubungan vertikal kita dengan Allah, sedangkan zakat, infak, dan sedekah memperbaiki hubungan horizontal kita dengan sesama manusia.

    Urusan dengan Allah diselesaikan dengan ketundukan, dan urusan dengan manusia diselesaikan dengan memberi. Apabila hubungan vertikal dan horizontal ini terjaga dan selaras, maka kemenangan akan datang, sebagaimana firman Allah: قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ — sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman.

    Generasi muda yang memiliki mimpi besar harus menata hidupnya dengan kontribusi nyata. Hikmah bukan hanya dipahami, tetapi harus dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Jika kita merasa sudah berhikmah tetapi tidak memberi pengaruh, maka mungkin ada yang perlu diluruskan dalam niat dan cara kita.

    Setelah membaca, belajar, dan mengamalkan ilmu, pertanyaan terpenting adalah: apakah semua itu kita lakukan dengan ikhlas? Dalam berkhidmah, totalitas dan keikhlasan adalah kunci. Allah Maha Mengetahui isi hati, dan rahmat-Nya diberikan sesuai ketulusan niat hamba-Nya.

    Bayangkan, oksigen yang kita hirup setiap hari, jika dinilai dengan ukuran dunia nilainya bisa mencapai miliaran rupiah. Belum lagi gravitasi bumi dan sistem kehidupan lainnya. Semua itu Allah berikan secara gratis. Maka, di hadapan Allah, kita semua sama: hamba yang lemah dan fakir. Jalan agar tidak menjadi hina adalah dengan syukur yang dibuktikan melalui ketaatan.

    Marilah kita merenungi kelalaian yang sering kita alami. Antara sadar dan lalai, di situlah letak kebaikan. Jika kita lalai namun sadar, itu masih rahmat. Namun jika lalai dan tidak merasa lalai, itulah bahaya. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang sadar, bersyukur, gemar memberi, dan istiqamah menanam kebaikan di jalan-Nya. (Tim Redaksi)

  • Mensyukuri Nikmat dan Tanggung Jawab

    Mensyukuri Nikmat dan Tanggung Jawab

    Oleh: Dr.KH.Soleh Rosyad, (Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima)

    • Tadabbur Surat Luqman: 20

    Allah melimpahkan nikmat yang tak terhitung jumlahnya kepada manusia. Apa yang ada di langit dan di bumi ditundukkan untuk kemaslahatan hidup: matahari yang menyinari, udara yang menghidupkan, air yang menyuburkan, serta rezeki yang mengalir tanpa henti.

    Semua itu bukan sekadar fasilitas kehidupan, melainkan tanda kasih sayang dan kekuasaan-Nya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Luqman ayat 20:

    أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً ۗ وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُّنِيرٍ

    Artinya: “Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya yang lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.”

    Segala yang ada di langit dan di bumi telah ditundukkan untuk kepentingan manusia. Matahari memancarkan cahaya, udara memberi kehidupan, hujan menyuburkan tanah, pepohonan menghasilkan buah, dan sungai mengalirkan air. Semua berjalan dalam keteraturan yang menunjukkan kekuasaan dan kasih sayang Allah.

    Allah menyempurnakan nikmat-Nya dalam dua bentuk: nikmat lahir dan nikmat batin.

    Nikmat lahir adalah segala yang tampak dan kita rasakan secara fisik, seperti kesehatan, tenaga, cahaya matahari, udara, hujan, dan berbagai rezeki yang menunjang kehidupan.

    Nikmat batin adalah karunia yang menenangkan jiwa, seperti iman, hidayah, ketenangan hati, serta kesempatan untuk beribadah shalat tahajud, dhuha, berdzikir, dan bershalawat.

    Sehat adalah nikmat besar yang sering terlupakan. Dalam kondisi sehat, ibadah terasa ringan dan kekhusyukan lebih mudah diraih. Karena itu, kesehatan hendaknya disyukuri dengan amal nyata dan kesungguhan dalam berbuat baik.

    Setiap orang memiliki cerita dan ujian hidupnya masing-masing. Kita berjalan dengan doa, ikhtiar, dan proses panjang. Setiap amal yang terwujud termasuk berdirinya masjid dan berkembangnya kebaikan adalah rahmat Allah serta balasan atas istiqamah yang dijaga.

    Dalam bahasa Gontor disebutkan:“Ibdā’ binafsik” mulailah dari diri sendiri. Mulailah dari sekarang. Mulailah ketika kita masih sehat. Berbuat baik tidak boleh menunggu sempurna atau menunggu orang lain memulai.

    Di sekitar kita begitu banyak peluang kebaikan. Jangan sampai seperti ayam yang mati kelaparan di tengah lumbung padi. Jangan mengejar yang jauh sementara yang dekat diabaikan. Cita-cita masa depan dibangun dari apa yang kita lakukan hari ini.

    Pastikan setiap detik menjadi bagian dari produktivitas, kebaikan, dan pelurusan niat.

    Dalam Islam, sumber hukum yang disepakati para ulama ada empat: Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, dan Qiyas.

    Keempatnya menjadi landasan utama dalam menetapkan hukum dan menjawab persoalan umat. Qiyas merupakan hasil ijtihad ulama dengan cara menganalogikan suatu masalah baru kepada hukum yang telah ada, berdasarkan kesamaan illat (sebab hukum). Proses ini harus berlandaskan ilmu, pemahaman yang mendalam, serta argumentasi yang kuat.

    Dalam bermujadalah (berdiskusi) dan membela kebenaran, setiap pendapat harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Tidak boleh berbicara tanpa hujjah yang sahih dan tanpa dasar yang jelas. Ilmu harus berpijak pada dalil yang benar, serta didukung oleh data dan fakta yang dapat diuji kebenarannya.

    Islam sejak awal adalah agama yang membawa keseimbangan dan keadilan. Dahulu perempuan diperlakukan tidak manusiawi, lalu Islam datang memuliakan mereka dan memberikan hak serta martabat yang terhormat. Laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan, tetapi keduanya saling melengkapi dan saling menghargai. Moderasi bukan berarti melemahkan ajaran, melainkan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya secara adil dan proporsional.

    Nilai keseimbangan inilah yang harus tercermin dalam kehidupan kita sehari-hari. Hidup adalah perjalanan panjang, penuh ujian dan dinamika. Namun selama kita berjalan dengan doa, ilmu, keikhlasan, dan istiqamah, Allah akan membalas setiap perjuangan.

    Mari mulai dari diri sendiri. Mulai dari sekarang. Mulai ketika kita masih diberi kesehatan. Karena masa depan dibangun hari ini, dan nikmat Allah terlalu banyak untuk diingkari. (Tim Redaksi Kunka)

     

  • Iman dan Amal Soleh sebagai Jalan Menuju Surga

    Iman dan Amal Soleh sebagai Jalan Menuju Surga

    Dr. KH. Soleh Rosyad, (Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima)

    Tadabbur QS. Al-A’raf Ayat 42

    Al-Qur’an menegaskan bahwa jalan menuju surga dibangun di atas dua fondasi utama: iman dan amal saleh.

    Iman yang benar tidak berhenti di dalam hati, tetapi menuntut pembuktian nyata melalui perbuatan baik yang dilakukan dengan penuh keikhlasan dan ketaatan kepada Allah.

    Allah Subhanahu wa Ta‘ala menegaskan hal tersebut dalam QS. Al-A’raf ayat 42

    اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَاۗ أُولٰٓئِكَ أَصْحٰبُ الْجَنَّةِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

    Artinya: “Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh, Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-A’raf: 42)

    Ayat ini menjelaskan dengan sangat jelas tentang hubungan antara iman, amal saleh, dan balasan dari Allah.

    Orang-orang yang beriman adalah mereka yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya, meyakini kebenaran wahyu yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ, lalu membuktikan keimanannya dengan amal kebajikan. Amal tersebut dijalani dengan lapang dada, tanpa rasa terpaksa, karena Allah tidak pernah membebani hamba-Nya kecuali sesuai dengan batas kemampuannya.

    Mereka yang beriman dan mengamalkan kebaikan dengan penuh kesadaran itulah para penghuni surga. Kenikmatan yang Allah berikan bukanlah kenikmatan sementara, melainkan kenikmatan yang kekal. Ayat ini sekaligus menenangkan hati manusia bahwa seluruh perintah dan larangan Allah selalu berada dalam jangkauan kemampuan kita.

    Nilai kejujuran dan keikhlasan ini tercermin secara nyata dalam kehidupan di pondok pesantren. Seluruh aktivitas pendidikan dibangun di atas prinsip keikhlasan dalam beramal dan keadilan dalam bersikap.

    Para santri dididik untuk berkata benar, bertindak lurus, serta menjalankan amanah. Sementara itu, nilai keadilan diwujudkan melalui perlakuan yang sama kepada seluruh santri tanpa membedakan latar belakang.

    Di tengah perkembangan zaman, pesantren juga dituntut untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman. Di Pondok Kun Karima, diterapkan sistem cashless atau transaksi tanpa uang tunai. Sistem ini diharapkan memudahkan transaksi, meningkatkan keamanan, serta melatih santri memahami manajemen keuangan di era digital.

    Inovasi ini merupakan bagian dari amal saleh kolektif demi kemaslahatan santri dan seluruh civitas pondok. Amal saleh yang sejati adalah amal yang dilakukan dengan niat yang tulus, cara yang benar, dan manfaat yang luas, serta senantiasa berada dalam ketaatan kepada Allah.

    Ketaatan tanpa kemanfaatan belumlah sempurna. Sebaliknya, kemanfaatan yang bersumber dari hal-hal yang tidak sesuai syariat seperti hasil korupsi  tidak bernilai amal saleh di sisi Allah. Amal saleh harus memberi manfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bahkan lingkungan sekitar.

    Allah juga menegaskan bahwa setiap ujian dan kewajiban selalu sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Ujian bukan tanda kebencian, melainkan bentuk kasih sayang agar manusia naik derajat. Kyai mengibaratkan ujian seperti golok yang berhenti satu sentimeter di atas kepala: tampak menakutkan, namun tidak akan melukai selama kita tetap taat dan mengikuti aturan Allah.

    Ujian tidak perlu dipertanyakan alasan kehadirannya, melainkan dijadikan sarana untuk mendekat kepada Allah. Banyak manusia baru mengingat Allah ketika berada dalam kesempitan, padahal seharusnya Allah diingat dalam keadaan lapang maupun sempit. Setiap ujian adalah pengingat dan bukti cinta Allah agar hamba-Nya kembali kepada-Nya.

    Dalam pandangan islam, hidup tanpa ujian bukanlah kehidupan yang nyata. Orang-orang yang berhasil adalah mereka yang telah melewati banyak ujian dan mampu bangkit. Kesuksesan bukan tentang tidak pernah jatuh, melainkan tentang kemampuan memperbaiki diri setelah jatuh. Karena itu, iman harus tercermin dalam hati, pikiran, dan perbuatan meski keselarasan ini bukan perkara mudah.

    Dengan iman dan amal saleh, Allah akan membersihkan hati orang-orang beriman dari hasad, kebencian, dan prasangka buruk. Hidayah bukan hasil kehebatan pribadi, melainkan anugerah Allah semata. Maka, sikap yang tepat adalah syukur, tawadhu, dan kesungguhan dalam berbuat baik.

    Hidup ibarat menyeberangi banyak jembatan. Ada jembatan yang kokoh, ada pula yang rapuh. Tugas kita adalah memperbaikinya agar perjalanan hidup dapat dilalui dengan selamat. Kewajiban manusia sangatlah banyak kepada diri, keluarga, masyarakat, dan terutama kepada Allah maka jalani semuanya sesuai kapasitas dengan usaha terbaik dan niat yang lurus.

    Mengejar cita-cita setinggi langit, namun tetap berpijak di bumi. Berbuat bukan untuk dipuji manusia, melainkan sebagai wujud pengabdian kepada Allah. Dengan iman dan amal saleh yang istiqamah, hidup akan terasa lebih tenang, bermakna, dan berujung pada kebahagiaan dunia serta akhirat. (Tim Redaksi)

     

  • Tauhid sebagai Jalan Hidup

    Tauhid sebagai Jalan Hidup

    Dr. KH. Soleh Rosyad,
    Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima

    Tadabbur Surat Yusuf: 108

    قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

    Artinya: “Katankanlah (Muhammad), inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)

    Ayat ini menegaskan kewajiban dakwah. Perintah ini memang ditujukan kepada Rasulullah, tetapi sekaligus mengikat siapa pun yang mengikutinya. Maka siapa pun kita, apa pun profesinya, tidak pernah lepas dari kewajiban menyeru kepada Allah. Inilah jalan Nabi, dan jalan itu harus menjadi jalan para pengikutnya.

    Maksud ayat ini adalah Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk menyeru jin dan manusia, mengajak mereka kepada jalan agama Allah, kepada tata cara hidup yang sesuai dengan sunnah-sunnah-Nya, dan kepada kalimat yang paling mulia: Asyhadu an lā ilāha illallāh, wa asyhadu anna Muḥammadan Rasūlullāh. Artinya: “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

    Kalimat inilah poros kehidupan. Ia menjadi sandaran seluruh makhluk. Selama kalimat tauhid ini tegak, dunia masih berdiri. Jika tauhid tercabut, maka hancurlah tatanan kehidupan. Tauhid adalah perekat kehidupan, ketika manusia lepas dari tauhid, ikatan itu pun terlepas dengan sendirinya.

    Kalau kita bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, itu bukan sekadar ucapan lisan, tetapi pengakuan yang total dalam hati dan pembenaran dalam amal. Kita mengakui Allah sebagai Rabb, sebagai satu-satunya yang mencipta, mengatur, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan.

    Kita juga mengakui bahwa hanya Dia yang berhak disembah, tidak ada satu pun yang layak menerima ibadah sekecil apa pun selain-Nya. Dan kita menetapkan bagi-Nya nama-nama yang indah serta sifat-sifat yang sempurna, tanpa menyerupakan dengan makhluk dan tanpa menolak apa yang telah ditetapkan-Nya.

    Para ulama menjelaskan bahwa kandungan syahadat mencakup tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma wa sifat. Rububiyah adalah keyakinan bahwa Allah adalah Rabbul ‘alamin, Pencipta, Pemilik, dan Pengatur seluruh alam semesta. Tidak ada satu kejadian pun di langit dan di bumi yang keluar dari kehendak dan kekuasaan-Nya. Namun realitanya, banyak orang mengakui Allah sebagai Pencipta dan Pengatur, tetapi belum mentauhidkan-Nya dalam ibadah. Mereka mengakui rububiyah-Nya, tetapi belum menunaikan konsekuensi uluhiyah-Nya.

    Di sinilah letak pentingnya tauhid uluhiyah, yaitu mengesakan Allah dalam seluruh bentuk ibadah. Bukan hanya dalam shalat dan puasa, tetapi juga dalam doa, cinta, takut, tawakal, dan seluruh ketundukan hati. Karena inti syahadat bukan hanya meyakini bahwa Allah itu ada dan berkuasa, tetapi memastikan bahwa seluruh ibadah lahir dan batin hanya tertuju kepada-Nya semata.

    Coba kita renungkan dengan hati yang jernih, tidak ada yang membuat kita bisa duduk di tempat ini kecuali Allah. Tidak ada yang menggerakkan kaki kita melangkah, tidak ada yang menenangkan hati kita untuk hadir, kecuali karena kehendak-Nya.

    Air yang kita minum, yang mengalir dari gelas lalu masuk ke tenggorokan, turun ke perut, memberi manfaat bagi tubuh, itu semua tidak terjadi dengan sendirinya. Tidak ada yang menjadikannya bermanfaat kecuali Allah. Tidak ada yang memberi sakit kecuali Allah, dan tidak ada pula yang menyembuhkan kecuali Allah. Kesadaran seperti ini, jika benar-benar kita hadirkan dalam hati, akan menguatkan tauhid, menumbuhkan tawakal, dan melahirkan ketundukan yang tulus kepada-Nya.

    Kemudian asma dan sifat. Allah memiliki nama-nama yang indah, yang kita kenal dengan Asmaul Husna.

    Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang menghafal, memahami, serta mengamalkannya, maka ia akan memperoleh keutamaan yang besar dari Allah SWT, yaitu masuk surga. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

    Artinya: “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang menghafalnya, maka ia akan masuk surga” (HR. Bukhari dan Muslim.).

    Namun para ulama menjelaskan bahwa nama dan sifat Allah tidak terbatas pada angka tersebut; itu adalah nama-nama yang khusus memiliki keutamaan tertentu, sementara hakikat kesempurnaan Allah tidak terbatasi oleh bilangan.

    Sifat-sifat Allah sangat luas dan sempurna, tidak dapat dijangkau sepenuhnya oleh akal manusia. Karena itu Allah memerintahkan kita berdoa dengan menyebut nama-nama-Nya, sebab dalam setiap nama terkandung sifat yang agung. Di kalangan Ahlussunnah wal Jama‘ah, dikenal dan dipelajari untuk menjaga kemurnian akidah, agar keyakinan kita lurus dan tidak menyimpang.

    Maka siapa pun kita, tidak bisa lepas dari dakwah. Kita harus menyeru kepada Allah dengan bashirah, dengan kejelasan hujjah, dengan dalil yang kuat, baik dalil ‘aqli maupun dalil syar‘i. Kita menyeru kepada apa yang diserukan Rasulullah, yaitu Islam, dengan keyakinan yang mantap, dengan argumentasi yang benar, dan dengan akhlak yang mulia. Allah Maha Suci dari segala bentuk sekutu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Seluruh langit dan bumi bertasbih kepada-Nya, dan tidak ada satu makhluk pun kecuali memuji-Nya, meskipun kita tidak memahami bagaimana tasbih mereka.

    Dari ayat ini kita memahami bahwa sebagai pengikut Rasulullah kita memikul taklif untuk berdakwah dalam bentuk apa pun. Dakwah bukan hanya dengan lisan, tetapi juga dengan perbuatan, dengan keteladanan, dengan akhlak, bahkan dengan tarbiyah. Mendidik generasi adalah bagian dari dakwah dalam bentuk persiapan (i‘dad). Agar mereka siap secara ilmu, iman, dan akhlak.

    Dalam berdakwah dibutuhkan hikmah, strategi, dan pendekatan yang tepat. Kita harus mampu membaca siapa yang kita ajak bicara: kadar akalnya, kadar ilmunya, usianya, latar belakangnya, dan kondisi jiwanya. Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Pendekatan sangat menentukan keberhasilan perjuangan.

    Jangan memutlakkan satu cara untuk semua keadaan. Substansinya tetap satu, yaitu tauhid dan ketaatan kepada Allah, tetapi cara penyampaian bisa variatif dan dinamis, menyesuaikan keadaan masing-masing. Dakwah harus dilakukan dengan kelembutan, kesantunan, dan mau‘izhah hasanah, agar hati terbuka, pesan tersampaikan, dan kita bukan hanya diterima, tetapi juga mampu menerima mereka dengan lapang dada. (Tim Redaksi Pondok Pesantren Kun Karima)

     

  • Memaknai Tawakal dalam Ibadah

    Memaknai Tawakal dalam Ibadah

    Oleh Dr. KH. Soleh Rosyad, Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima

    • Reflektif QS. Hud: 123

    Dalam perjalanan hidup manusia, sering kali kita merasa lelah oleh banyaknya persoalan. Urusan dunia seakan tidak pernah selesai, sementara ketenangan batin terasa semakin jauh.

    Dalam situasi seperti ini, Al-Qur’an hadir bukan sekadar sebagai bacaan, tetapi sebagai petunjuk yang menenangkan dan menyadarkan bahwa tidak ada satu pun urusan yang benar-benar berada di luar kendali Allah Subhanahu wa ta’ala.

    Salah satu ayat yang meneguhkan kesadaran tersebut adalah penutup Surat Hud, ayat 123. Ayat ini mengajarkan kepada kita tentang luasnya ilmu Allah, kepemilikan mutlak-Nya atas alam semesta, serta keharusan manusia untuk beribadah dan bertawakal sepenuhnya kepada-Nya.

    Ayat ini juga menjadi pengingat bahwa Allah tidak pernah lalai terhadap apa pun yang kita kerjakan, sekecil apa pun amal itu.

    Surat Hud ayat 123:

    وَلِلّٰهِ غَيْبُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاِلَيْهِ يُرْجَعُ الْاَمْرُ كُلُّهٗ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِۗ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ

    Artinya: “Dan milik Allah-lah segala yang gaib di langit dan di bumi. Kepada-Nya-lah segala urusan dikembalikan. Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya. Dan Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 123)

    Allah Subhanahu wa ta’ala. mengabarkan melalui ayat ini bahwa segala sesuatu yang gaib di langit dan di bumi sepenuhnya milik Allah Subhanahu wa ta’ala.

    Ayat ini menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui secara detail yang tampak dan yang tidak tampak, yang besar maupun yang kecil, yang kasar maupun yang halus, bahkan yang tersembunyi di dalam hati manusia. Seluruh alam malakut beserta makhluk-makhluknya adalah milik Allah Subhanahu wa ta’ala dan berada dalam pengaturan-Nya.

    Sebagai makhluk ciptaan-Nya, kita diajarkan bahwa segala persoalan, baik yang nyata maupun yang tersembunyi, pada akhirnya dikembalikan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Pada hari kiamat, setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban dan akan menerima balasan sesuai dengan amal perbuatannya.

    Karena itu, Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan: “Sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya. Dialah satu-satunya Zat yang mencukupi seluruh kebutuhan makhluk-Nya, dan Dia tidak pernah lalai terhadap amal kebaikan maupun keburukan yang kita lakukan.

    Dari ayat ini, hal pertama yang perlu kita tafakuri adalah kesadaran bahwa kita ini milik Allah Subhanahu wa ta’ala. Allah-lah yang menciptakan, mengurus, dan mencukupi seluruh kebutuhan kita. Pengetahuan Allah sangat detail. Allah mengetahui suara doa kita, bahkan bisikan hati kita.

    Karena itu, jangan pernah ragu untuk berdoa terutama mendoakan kedua orang tua, karena Allah mengetahui apa yang terlintas di dalam hati, baik yang positif maupun yang negatif. Maka tugas kita adalah membersihkan hati dan pikiran, menjaga lisan, serta menjauhkan diri dari prasangka dan kata-kata yang buruk.

    Hati dan pikiran adalah pusat respon manusia terhadap setiap peristiwa kehidupan. Sebagaimana perintah Allah: “Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq”, setiap peristiwa baik itu nikmat maupun musibah, menyenangkan atau menyulitkan selalu melahirkan suara hati. Tantangannya adalah bagaimana kita mampu menata hati, menghilangkan respon negatif, memunculkan sikap positif, dan tidak membebani diri secara berlebihan.

    Ayat ini sering kali menemukan kembali maknanya yang paling dalam justru ketika seseorang diuji dengan sakit. Dalam kondisi tubuh yang lemah dan rasa tak berdaya, berbagai analisa kerap bermunculan: ini sakit apa, itu gejala apa. Namun di balik semua itu, sakit sejatinya bukan sekadar ujian fisik, melainkan jalan tafakur, sebuah perjalanan ruhani agar manusia menjadi lebih baik dan semakin dekat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

    Ada satu kisah, orang sakit bertemu dengan seorang dokter yang juga psikolog. Sang dokter berkata kepadanya, sepertinya bapak ini tidak sakit, bapak sehat kok, tapi bapak kurang bahagia, sambil tersenyum.

    Kalimat candaan ini terdengar sederhana, namun menghibur dan menyimpan makna yang dalam. Yang dimaksud bukanlah kebahagiaan lahiriah, melainkan cara seseorang merespons persoalan hidup, terutama ketika seseorang terlalu membebani dirinya sendiri, tidak melibatkan Allah Subhanahu wa ta’ala.

    Ucapan itu seolah menggugah kesadaran. Selama ini, banyak orang mengira bahwa keseriusan berlebihan adalah kunci penyelesaian masalah. Padahal, ada satu hal penting yang sering terlupakan: tawakal. Tawakal bukanlah sikap pasrah setelah semuanya selesai, melainkan harus menyertai niat, menyertai usaha, dan menyertai hasil. Kebahagiaan sejati bukan terletak pada ketiadaan masalah, tetapi pada cara menyikapi masalah dengan tawakal kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

    Allah Subhanahu wa ta’ala mengajarkan kepada kita bahwa seluruh urusan dunia dan akhirat dikembalikan kepada-Nya. Hidup ini penuh dengan tahapan persoalan: pendidikan, pekerjaan, pernikahan, keluarga, cita-cita, kesehatan, bahkan sehat pun adalah persoalan yang harus disyukuri. Semua itu adalah rangkaian ujian yang menuntut kesadaran ilahiyah.

    Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Tawakal dimulai dari niat, perencanaan, pelaksanaan, lalu disempurnakan dengan sabar dan ridha. Allah Subhanahu wa ta’ala.  memerintahkan: “Fa’budhu”—beribadahlah kepada-Nya dengan jasad dan ruh. Shalat adalah sebaik-baik amal. Maka shalat bukan hanya gerakan, tetapi harus disertai dzikir, hati yang hadir, pikiran yang khusyuk, dan ruh yang hidup.

    Puasa adalah jalan menuju takwa, dan yang paling berat adalah puasa hati dan pikiran. Sedekah adalah amal yang paling bermanfaat, namun keikhlasan dalam bersedekah perlu terus dilatih. Dzikir yang dibiasakan, seperti di pondok pesantren adalah sarana penyempurna ibadah jasadiyah dan ruhaniyah.

    Percayakan seluruh urusan kepada Allah. Urusan pendidikan, pekerjaan, kesehatan, bahkan cita-cita hidup. Allah Maha Mencukupi, Maha Menyembuhkan, dan Maha Menolong. Tidak ada satu amal pun yang luput dari perhitungan-Nya. Kebaikan sekecil apa pun akan dibalas, baik di dunia maupun di akhirat.

    Karena itu, hisablah diri sebelum dihisab, dan mohonlah rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala. Jangan meminta keadilan-Nya semata, tetapi mintalah kasih sayang dan rahmat-Nya. Dengan rahmat itulah kekurangan amal, ilmu, dan usaha kita disempurnakan. Sesungguhnya, siapa yang bertawakal kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, maka Allah akan mencukupkannya. Tidak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya, dan balasan-Nya selalu sempurna di dunia dan di akhirat. (Tim Redaksi Pondok Pesantren Kun Karima)

  • Indikator Cinta kepada Allah: Mengikuti Rasul sebagai Bukti Nyata

    Indikator Cinta kepada Allah: Mengikuti Rasul sebagai Bukti Nyata

    Kajian rutin Seninan

    Oleh : Dr. KH. Soleh Rosyad, Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima

    Tadabbur Surah Ali ‘Imran: 31

    Cinta kepada Allah bukan sekadar ungkapan lisan, melainkan komitmen yang dibuktikan dengan ketaatan. Allah telah memberikan ukuran yang jelas tentang cinta tersebut dalam firman-Nya:

    Q.S. Ali ‘Imran: 31

    قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

    Artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad), jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31)

    Ayat yang mulia ini mengandung hikmah yang sangat dalam bagi setiap muslim yang mengaku mencintai Allah dan mengikuti Nabi Muhammad ﷺ. Pertanyaan yang patut kita renungkan adalah: Benarkah kita mencintai Allah? Wallāhu a‘lam. Sebab cinta kepada Allah memiliki indikator tertentu yang menunjukkan dan membuktikan keyakinan tersebut.

    Sebagaimana pepatah mengatakan, lautan dapat diselami, gunung dapat didaki, kuda yang berlari dapat dikejar, tetapi hati manusia tiada yang mengetahui. Maka cinta kepada Allah bukan cukup dengan kata-kata, melainkan harus dibuktikan dengan perbuatan. Mengaku cinta tanpa bukti adalah sia-sia.

    Dalam Islam, cinta kepada Allah harus terwujud dalam ketaatan. Indikator utamanya adalah mengikuti syariat Nabi Muhammad ﷺ. Sebagaimana ditegaskan dalam ayat tersebut, mengikuti Rasul adalah jalan agar Allah mencintai kita.

    Allah Subhabahu wa Ta’ala menegaskan bahwa apa yang disampaikan Nabi adalah wahyu. Nabi Muhammad ﷺ adalah pribadi yang ma‘shum (terjaga). Jika terjadi kekeliruan, Allah langsung membimbing dan meluruskannya. Maka mengikuti Rasul berarti mengikuti kebenaran yang dijamin oleh wahyu. Dalam aspek ‘ubudiyah, yang wajib harus ditegakkan dengan penuh kesungguhan. Dalam muamalah, sunnah pun tetap memiliki nilai besar di sisi Allah. Seluruh ibadah mahdhah harus sesuai tuntunan Rasul.

    Sebab dalam hadis sabda Rasulullah ﷺ:

    مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

    Artinya: “Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak sesuai dengan perintah (ajaran) kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

    Hadis ini menjadi kaidah penting dalam Islam bahwa setiap ibadah dan amalan harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ. Tanpa kesesuaian dengan sunnah, amal tersebut tidak diterima.

    Kita mungkin mampu menjaga yang wajib, tetapi bagaimana dengan yang sunnah? Istiqamah adalah ujian terbesar. Manusia sering lalai, malas, bahkan lupa. Maka istighfar menjadi kebutuhan. Rasulullah ﷺ beristighfar tidak kurang dari 70 kali dalam sehari semalam. Lalu bagaimana dengan kita? Karena cinta kepada Allah harus tampak dalam perkataan dan perbuatan. Dalam Islam, perkataan pun termasuk perbuatan hukum. Ucapan, sikap, dan tindakan semuanya bernilai ibadah jika sesuai syariat.

    Kita harus menjaga etika, akhlak, syariat, dan metode. Sebab kebenaran materi (maddah) tidak akan sampai bila metode penyampaiannya salah. Dalam dakwah, ilmu saja tidak cukup; perlu hikmah, kelembutan, dan kebijaksanaan. Ilmu yang tidak disertai keluwesan dan kehalusan budi dapat menjadi kaku. Dakwah harus disampaikan dengan santun, penuh perasaan, berakhlak, dan bijaksana. Allah sendiri memerintahkan berdakwah dengan hikmah dan nasihat yang baik.

    Sebagian ulama mengatakan bahwa yang terpenting bukan sekadar kita mencintai Allah, tetapi bagaimana kita dicintai oleh Allah. Ayat di atas menegaskan: jika kita mengikuti Rasul, Allah akan mencintai kita. Dicintai Allah adalah anugerah terbesar. Buahnya adalah ketenangan hati, kelapangan jiwa, dan keberkahan hidup. Itu bukan sekadar ucapan, tetapi kenyataan yang dirasakan. Ukuran cinta kita kepada Allah terlihat dari bagaimana kita menaati-Nya. Dan ukuran dicintai Allah tampak dari limpahan rahmat dan ampunan-Nya dalam hidup kita.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

    Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi no. 3895, Ibnu Majah no. 1977; dinyatakan hasan shahih oleh Imam Tirmidzi)

    Hadis ini menegaskan bahwa ukuran kebaikan seseorang tidak hanya dilihat dari ibadah ritualnya, tetapi juga dari sikap dan akhlaknya kepada keluarga. Cinta karena Allah harus dimulai dari lingkungan terdekat: pasangan, anak-anak, dan anggota keluarga lainnya. Jika seseorang mampu berakhlak lembut, sabar, dan penuh kasih kepada keluarganya, maka itulah bukti nyata keimanan dan kecintaannya kepada Allah.

    Jika kita belum mampu mencintai dengan sempurna, belajarlah mencintai karena Allah. Ketulusan akan melahirkan kasih sayang yang Allah tumbuhkan di dalam hati.

    Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

    مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَىٰ مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَىٰ لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

    Artinya: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586)

    Cinta sosial dalam Islam bukanlah sekadar romantisme atau perasaan sesaat, melainkan solidaritas dan empati yang nyata. Ketika satu saudara mengalami kesulitan, yang lain ikut merasakan, peduli, dan berusaha membantu. Inilah wujud cinta karena Allah yang melahirkan kepedulian, persatuan, dan kekuatan umat. Ketika cinta karena Allah tumbuh, kekurangan tidak lagi menjadi alasan kebencian. Kekurangan tertutup oleh ketulusan. Hati menjadi lembut, prasangka membaik, dan ukhuwah semakin kuat. Mencintai Allah bukan sekadar ucapan, melainkan komitmen untuk mengikuti Rasul-Nya. Cinta yang sejati melahirkan ketaatan, keikhlasan, dan istiqamah.

    Jika kita ingin belajar ikhlas, belajarlah mencintai karena Allah. Jika kita ingin dicintai Allah, ikutilah Rasul-Nya. Dan ketika cinta itu telah tulus, Allah akan mengampuni dosa-dosa kita serta melimpahkan kasih sayang-Nya. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang tidak hanya mengaku mencintai Allah, tetapi benar-benar dicintai oleh-Nya.

  • Awali Semester Baru, Pondok Pesantren Kun Karima Gelar Kumpul Perdana

    Awali Semester Baru, Pondok Pesantren Kun Karima Gelar Kumpul Perdana

    Kun Karima — Pondok Pesantren Kun Karima menggelar kegiatan Kumpul Perdana Pasca Libur Semester Ganjil dan Apresiasi Santri Teladan Yang Pertama Tiba Ke Pondok, pada hari Sabtu, 10 Januari 2026, bertempat di Aula Pondok Pesantren Kun Karima. Kegiatan ini wajib diikuti oleh seluruh santri dan asatidz sebagai langkah awal mengawali kembali aktivitas kepesantrenan setelah masa libur semester.

    Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengembalikan semangat dan motivasi santri dalam belajar, meningkatkan kembali komitmen dalam mengikuti seluruh kegiatan pondok, serta meneguhkan disiplin dan memperbaharui niat santri dalam Tholabul ‘Ilmi. Selain itu, dalam acara ini juga para santri yang pertama datang ke pondok diberikan apresiasi sebagai santri teladan, agar menjadi contoh untuk santri lainnya.

    Dalam suasana yang khidmat dan tertib, para santri mengikuti kegiatan dengan penuh perhatian. Mereka tampak fokus mendengarkan nasihat dari Bapak Pimpinan Pondok, bahkan mencatat poin-poin penting yang disampaikan sebagai bekal motivasi dalam menjalani kegiatan ke depan.

    Pada kesempatan tersebut, Bapak Pimpinan Pondok menyampaikan pesan yang sarat makna kepada seluruh santri,

    “Tidak ada kesuksesan tanpa perjuangan dan tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan.”

    Pesan ini diharapkan mampu menjadi penyemangat dan pengingat bagi seluruh santri agar senantiasa bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, menjaga adab, serta istiqamah dalam menjalani kehidupan pesantren.

    Melalui kegiatan ini, Pondok Pesantren Kun Karima berharap seluruh santri dapat memulai semester baru dengan semangat baru, niat yang lurus, serta tekad kuat untuk meraih keberkahan ilmu dan akhlak mulia.

     

    Tim Redaksi Pondok Pesantren Kun Karima

  • Pondok Pesantren Kun Karima Bekali Santri Akhir Kelas 6 Guna Mengarungi Kegiatan Amaliyah Tadris

    Pondok Pesantren Kun Karima Bekali Santri Akhir Kelas 6 Guna Mengarungi Kegiatan Amaliyah Tadris

    Pondok Pesantren Kun Karima menyelenggarakan kegiatan Pembekalan Amaliyah Tadris (Teaching Practice) bagi seluruh santri akhir kelas 6 sebagai persiapan sebelum pelaksanaan praktik mengajar. Kegiatan ini berlangsung selama empat hari, mulai 30 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026, bertempat di Aula Pondok Pesantren Kun Karima.

    Kegiatan pembekalan tersebut diikuti oleh seluruh santri akhir kelas 6 dengan pendampingan langsung dari Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima, Al-Ustadzah Ernawati Sulhatul Imamah, M.Pd., serta para musyrif selaku pembimbing dari masing-masing kelompok mata pelajaran. Selama kegiatan berlangsung, santri menunjukkan antusiasme dan kesungguhan sebagai bentuk kesiapan dalam mengemban amanah praktik mengajar.

    Pembekalan Amaliyah Tadris ini diselenggarakan dengan tujuan memberikan penguatan pemahaman metodologi pengajaran, kesiapan mental, kedisiplinan, serta tanggung jawab moral kepada santri. Melalui kegiatan ini, santri diharapkan mampu melaksanakan tugas mengajar secara sistematis, komunikatif, dan bertanggung jawab, sekaligus menjunjung tinggi nilai-nilai keilmuan dan akhlak kepesantrenan.

    Rangkaian kegiatan pembekalan disusun secara terstruktur. Kegiatan diawali dengan Al-Muhadhoroh Al-‘Aammah sebagai sarana penguatan mental dan keberanian tampil di hadapan publik. Selanjutnya, santri menerima pengarahan umum terkait teknis dan etika Amaliyah Tadris, dilanjutkan dengan pembekalan materi ajar serta praktik penyampaian pelajaran. Seluruh rangkaian ini dirancang untuk melatih kemampuan komunikasi, penguasaan kelas, serta ketepatan metode dalam menyampaikan materi pembelajaran.

    Dalam arahannya, Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Kun Karima menegaskan bahwa Amaliyah Tadris bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan bagian penting dari proses pembentukan karakter pendidik pesantren. Menurutnya, seorang santri yang mengajar tidak hanya dituntut menguasai materi, tetapi juga mampu menjadi teladan dalam sikap, adab, dan integritas.

    “Amaliyah Tadris adalah media pengabdian ilmu. Santri harus mengajar dengan niat ibadah, menjaga akhlak, serta bertanggung jawab atas ilmu yang disampaikan,” tegasnya.

    Melalui kegiatan pembekalan ini, Pondok Pesantren Kun Karima berharap santri akhir kelas 6 memiliki bekal yang matang, baik secara keilmuan, mental, maupun spiritual, sehingga mampu melaksanakan Amaliyah Tadris secara optimal. Lebih dari itu, santri diharapkan dapat tampil sebagai duta pesantren yang membawa nilai-nilai keislaman, keilmuan, dan keteladanan di tengah masyarakat.

     

    Tim Redaksi Pondok Pesantren Kun Karima